Browsing All Posts filed under »Remember the Moments«

Cewek Bilang Cinta Duluan? Oke Aja!

Agustus 11, 2014

0

Ada yang tag saya di postingan dengan inti, “Bolehkah cewek yang ngomong cinta duluan?” Sayangnya, belum sempat saya respon, postingan itu sudah menghilang. Mungkin si penulis malu, hehehehe…. Maklum, kalau di Indonesia, kulturnya memang demikian. Perempuan yang bilang cinta duluan akan dianggap agresif, dan itu konotasinya negatif. Padahal tidak selalu demikian. Bisa jadi itu karena […]

Sebelum Lenyap Selamanya

Agustus 1, 2014

4

Berita terbaru yang sekali lagi membuat saya terhenyak adalah isu tentang rencana penghancuran Ka’bah oleh kelompok militan yang sekarang lagi moncer di Irak. Well, you know who. Siapa lagi kalau bukan ISIS. Setelah sebelumnya meledakkan makam Nabi Yunus, dan entah makam siapa lagi nanti yang akan diledakkan. Sayangnya, yah, seperti biasa, kelompok dengan urat leher […]

Menanti Pelangi dan Matahari

Juli 28, 2014

0

Shalat Ied tahun ini dinaungi mendung tebal. Angin terasa dingin masuk menembus pori-pori kulit, padahal belum lagi musim gugur tiba. Dua hari lalu, angin juga demikian. Aku menggigil saat menceburkan diri dalam kolam, menemani anakku yang tak sabar bermain air bersama temannya. Mama temannya berkata, bahwa tahun ini memang cuaca sangat berbeda. Lebih dingin. Sementara […]

Catatan Saat Menulis Memoar Imam Shamsi Ali

Februari 11, 2014

3

Jauh sebelum ada tawaran untuk menulis memoir Imam Shamsi Ali, saya sudah penasaran dengan sosok imam New York yang satu ini. Tidak saja karena asal beliau yang dari Indonesia, saya penasaran dengan caranya. Bagaimana sebenarnya dakwah yang diterapkannya, hingga bisa menarik perhatian banyak orang. Muslim adalah kelompok minoritas di sini. Hanya sekitar 1,6% dari total […]

Hercules, Janus, dan Tupai

Januari 24, 2014

4

Musim dingin kali ini berbeda dengan sebelumnya. Ada perubahan suhu yang sangat ekstrim, dibawa oleh angin dari wilayah Kutub Utara. Orang menyebut kiriman angin badai dingin itu sebagai Polar Vortex, dan menamai badainya dengan sebutan Hercules dan Janus. Saat badai Hercules, sekolah dan kantor diliburkan, karena suhu drop sampai -14 Fahrenheit alias – 25 Celcius. […]

Di Sebuah Stasiun Kereta

Oktober 25, 2013

2

Di sebuah stasiun kereta, masih berkilau sisa-sisa hujan di sulur rerimbunan ivy tua. Seorang lelaki renta mendekapkan bungkusan ke dada. Dingin masih menetes juga. Orang-orang duduk bersideku. Pekerja malam mengangkat kepala dengan cemas ke arah langit, gugup menghirup sisa kopi dari termos tua. Ia menanti. Dan dingin masih menetes juga. Kaki para pejalan menyibak genangan […]

SEPENGGAL CERITA TENTANG KEHIDUPAN

Juli 1, 2013

0

Kemarin kami makan malam dengan teman suamiku, sebut saja namanya A. Ada yang istimewa, karena A mengingatkanku pada teman yang lain, bernama B. Pada saat bersamaan, mereka berdua divonis kanker. Keduanya religius. Saat menghadapi vonis, mereka berdua semakin rajin berikhtiar, percaya bahwa Tuhan punya maksud tertentu dengan sakit yang mereka alami. Bedanya, si B semakin […]

Memoir: Sejujur Apakah Kita Menulis Kisah Hidup Sendiri?

Maret 4, 2013

5

Seorang dokter menulis memoir, tentang masa di mana kehadirannya tidak diinginkan. Ketika sebagian besar temannya mendapatkan limpahan cinta, dia dianggap sebagai pembawa sial. Ibunya meninggal sewaktu melahirkannya, dan sejak saat itu, dunia kelabu baginya. Hingga kemudian dia berhasil memenangkan beasiswa untuk studi ke Inggris, dan akhirnya memiliki keluarga bahagia. Nama dokter itu Adeline Yen Mah, […]

Mengapa Saya Ikut Merasa Tertikam oleh Kasus PKS

Februari 2, 2013

38

Selama ini saya cenderung menghindari penggunaan atribut agama untuk hal-hal tertentu; seperti masalah pekerjaan, politik, keberpihakan saya terhadap isu perempuan, dan sebagainya. Sebab sering saya menemui kasus, penggunaan atribut itu menjadi sumber matinya sikap kritis. Shut down the logic, begitu yang sering saya katakan. Orang mudah sekali mengamini sesuatu hanya karena ada embel-embel kutipan ayat […]

Catatan 5: The Story of Tea

Desember 13, 2012

10

Kalau kebetulan lay over di Hongkong cukup lama, jangan lupa mengisi waktu dengan mencicipi teh. Teh di Hongkong, memiliki kulturnya sendiri, seperti halnya teh minum teh di Jepang. Hampir setiap rumah makan menyediakan teh, dan kadangkala teh panas justru lebih murah harganya daripada es teh. Minum teh menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari, mulai dari pagi […]