ShapeShifters: Antitesa (7)

Posted on Oktober 17, 2017

2


wonder_woman_2017__ares_battle_by_adamburn-dbdevll“Tibb Al-Nabawi itu sebenarnya anakronisme, mbak. Makanya nggak ada yang ngomong soal konten Tibb Al-Nabawi di tataran ilmiah. Demikian juga dengan rukyah. Karena ya emang nggak ilmiah.”

Demikian kata sepupuku, ketika aku menanyakan padanya tentang literatur penggunaan rukyah dan teknik pengobatan di jaman Nabi, yang dicantumkan dalam literatur berjudul Tibb Al-Nabawi. “Itu cuma kumpulan hadist tentang bagaimana Nabi mengobati dirinya dan orang lain. Nggak ada patokan yang sistematis,” sambungnya.

“It works, though,” ujarku. “Problemku teratasi sedikit demi sedikit melalui rukyah. Tapi aku masih ingin memastikan dengan mencari literatur. Sebab banyak sekali informasi yang berlebihan di internet tentang proses pengobatan semacam ini. Bahkan kutemui banyak cerita tentang praktek rukyah yang menyimpang, bercampur dengan kejawen dan sebagainya. Banyak sekali jenis rukyah, dari yang pendek hingga yang panjang. Nggak jelas yang mana harus dijadikan pegangan.”

“Sekarang sudah berbeda. Rukyah udah komersil banget. Kalau dulu di kalangan pesantren, rukyah itu terkait erat dengan konsep barokah, dengan kedekatan pada Tuhan dan kebaikan ilmu. Itu sebabnya para kyai nggak bisa nyembuhin sembarang orang. Biasanya hanya santri atau keluarga santri, atau orang-orang kampung terdekat.”

Sepupuku yang lain berkata, “You know, mbak. Soal kayak ginian ini nggak cukup hanya dengan mengucapkan ikrar atau memutuskan kontak. Tapi yang penting adalah, kita tidak melakukan apa yang dimaui oleh para jin itu. Kita lakukan kebalikannya, sebagai antitesa mereka. ”Β 

*****

Rukyah adalah satu di antara sekian banyak teknik kuno yang dipakai untuk pengobatan maupun pembersihan efek negatif dari makhluk plasma. Teknik semacam ini usianya setua peradaban manusia itu sendiri. Dalam setiap masa, kita bisa temui aneka ragam mantra, upacara, dan lain-lainnya untuk keperluan tersebut. Sumbernya bisa berasal dari kitab suci, bisa juga berasal dari tradisi setempat.

Para pelaku utamanya, biasanya dikenal sebagai orang yang memiliki kemampuan supranatural. Dalam khasanah mitos dan legenda, mereka mendapat sebutan Witch, Wizard, atau Sorcerer. Perbedaaannya: Witch untuk perempuan, Wizard untuk laki-laki, dan Sorcerer untuk mereka (laki atau perempuan) yang kemampuannya luar biasa di atas rata-rata. Kita bisa melihat banyak contohnya dalam kisah fiksi, semisal: Harry Potter, Merlin dalam legenda King Arthur, Gandalf & Saruman dalam kisah Lord of The Rings, Freya – Davina – Vincent dalam serial The Originals, Doctor Strange & Ancient One dalam film Dr Strange.

Dari beberapa sumber yang sempat kubaca tentang rukyah, ada batasan jelas, yakni tidak boleh ada unsur lain selain yang pernah dipraktekkan semasa Nabi hidup. Tidak boleh ada campuran kalimat lain, selain ayat Quran, yang jumlah pengulangan bacaannya juga sesuai dengan yang pernah dilakukan Nabi. Juga tidak pakai gesture/bahasa tubuh tertentu yang menyiratkan simbol apapun. Penyimpangan dari itu, sangat potensial mengubah doa menjadi bencana. Itu sebabnya, dzikir/wirid, bahkan ayat dalam kitab suci, bisa berubah menjadi mantra sihir jika ada huruf yang diubah / ditambahi tanpa alasan jelas, dibaca berlebihan tanpa dasar jelas, atau dibaca / ditulis terbalik. Sama prinsipnya dengan salah satu perangkat sihir yang pernah kutahu dari sini, berupa salib yang dipasang terbalik. Sebuah simbol pengingkaran terhadap Tuhan secara terang-terangan.

*****

tasbihKetika sedang di puncak kemarahan, aku membuang dan membakar semua benda yang berasal dari leluhur. Ada tasbih, beberapa perangkat makan, foto, dan kucari-cari kitab kuno yang dulu seingatku pernah kubawa. Tetapi kitab itu tak pernah ketemu. Seandainya ketemu, sudah pasti akan kubakar.

Kitab kuno itu mengingatkanku pada peristiwa lampau, saat aku berusia sekitar tujuh tahun. Saat itu seperti biasa, aku membongkar-bongkar lemari leluhurku yang berisi tumpukan kitab. Aku pernah diajari membaca satu-dua halaman buku berbahasa Jawa dengan aksara Arab gundul itu. Dan setelah itu, seperti jalan tol saja, aku bisa membaca halaman selanjutnya dengan lancar. Hingga kemudian tanpa sebab apa-apa, ulu hatiku terasa seperti ditusuk belati. Nyeri dan panas bukan main. Aku hampir pingsan.

Nyeri di ulu hati itulah yang kembali kurasakan saat melakukan rukyah. Dan aku tersadar, kemungkinan itulah saat pertama aku diincar oleh jin saka tersebut. Dan kemungkinan besar, kitab berbahasa Jawa yang kubaca itu, mengandung kalimat mantra.

Pengalamanku saat melakukan rukyah sendiri, tidaklah seseram seperti yang sering ditayangkan sejumlah stasiun televisi di Indonesia. Aku tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan para peserta rukyah yang sampai seperti kesurupan. Mendelik, berteriak, mengeluarkan suara parau. Karena pengalamanku tidak seheboh itu. Padahal yang kuhadapi adalah raja jin sendiri.

Efek-efek yang kuhadapi selama rukyah antara lain adalah:

  1. Pada hari pertama membaca, shalatku mendadak lancar jaya. Padahal sebelumnya sering lupa, sering tiba-tiba terlewat begitu saja karena kesibukan. Entah ini karena aku demikian termotivasi ingin bebas, atau ini akibat dari bacaan rukyah.
  2. Pada hari ketiga, tiba-tiba lidahku bisa mengucapkan dzikir Laa ilaaha illallah. Disusul hari berikutnya lidahku tiba-tiba menggumamkan kalimat istighfar panjang. Hari selanjutnya disusul lagi oleh serangkaian doa yang terbiasa kulakukan dulu. Terus demikian. Aku sejujurnya merasa heran dan tidak habis pikir, ternyata selama ini seluruh kalimat dzikir itu menghilang dari keseharianku. Lalu muncul lagi setelah rukyah.
  3. Setelah beberapa hari membaca doa rukyah setiap kali selesai shalat, aku merasa seperti dikuntit dan diawasi. Hingga aku terpaksa memejamkan mata ketika shalat. Kemudian aku memaksakan diri membaca surat Al Jinn sampai selesai, dan kuminta jin leluhur itu untuk pergi baik-baik. Keesokan harinya, perasaan was-was itu lenyap.
  4. Hari selanjutnya, aku mencoba menambahkan kalimat niat/ikrar yang tujuannya untuk memutus rantai ikatan perjanjian dengan leluhur. Malam harinya, aku terbangun sekitar pukul dua malam, karena ada bau hangus di kamar. Seperti bau gula yang terbakar hingga hitam.
  5. Ketika aku sibuk di dapur, ada ledakan keras di belakangku. Lalu ada suara mendesis dari arah lorong rumah. Itu adalah tempat di mana kucingku sering kaget dan lari ketakutan. Menurut para jin yang kukenal dulu, di situ sering ada jin lewat. Sekarang, alhamdulillah kucing-kucingku normal kembali.
  6. Selama beberapa hari melakukan rukyah, selalu ada lalat di rumah, dan disusul dengan mimpi bertemu beberapa orang, sejumlah lalat yang kutemukan itu. Aku tahu mereka jin. Yang paling kuingat diantaranya adalah empat jin. Tiga jin dengan kepala lonjong mirip alien. Sedangkan yang satunya berwajah dan berpenampilan persis banget kayak Gajah Mada. Besar dan tinggi. Mereka menatapku dan minta ikut denganku, namun aku tak menjawabnya. Ada lagi gerombolan jin mesum, yang kutemukan sedang bermain di sumber air jernih milikku. Mereka menawariku segala macam kenikmatan fisik, asalkan aku tidak mengusir mereka. Mereka bahkan menyodorkan beberapa pilihan pria tampan dan wanita cantik untukku. Hadeuhhh… dasar mesum!
  7. Aku menemukan sejumlah buhul di badanku. Setiap kali rukyah, aku sempatkan memejamkan mata, dan berkonsentrasi merasakan reaksi badanku. Yang paling kerap kurasakan adalah sensasi berkedut atau menggeliat di kepala. Malamnya, aku bermimpi mendatangi sejumlah posko, dengan baju ala Terminator sembari menyandang bazooka. Bazooka itu kuarahkan ke gerombolan orang yang ada di posko itu, dan mereka semua hangus termakan api.
  8. Aku bermimpi bertemu seorang perempuan, yang memelukku erat dan berkata bahwa ia teman baik ayahku. Lokasinya di salah satu rumah kontrakan kami di Jawa Timur dulu. Rumah itu nampak dipenuhi ranting semak dan palem berduri. Aku terpaksa merangkak untuk mencapai rumah itu. Rumah kontrakan tersebut terlihat bersih, namun aku melihat ada dua WC di dalamnya. Aku tahu, WC adalah simbol sihir. Ketika kuceritakan pada adikku, ia berkata, “Oh ya, betul mbak. Dulu ada orang pintar datang ke rumah memberikan jimat untuk digantung di depan pintu. Jimatnya berisi jarum emas. katanya untuk perlindungan dan kedamaian.”
  9. Berulangkali aku bermimpi tentang leluhur, ayah ibu, dan kedua saudaraku di rumah leluhur di kampung halaman. Namun semuanya berkonotasi positif. Aku lega. Hanya satu saja yang negatif, yakni ketika si raja jin terbang di langit-langit sembari tertawa keras. Khas sikap para pembully, yang mencoba mengintimidasi. Aku mengejeknya. Setelah itu, tidak ada lagi mimpi tentang tempat itu kecuali yang berkonotasi positif.
  10. Ada rasa mual seperti mau muntah, pusing hebat, bersendawa, atau sakit perut sedikit setiap kali usai melakukan rukyah. Tetapi tidak sampai serius. Justru setelah itu, badan akan terasa nyaman. Kulit jadi berubah lebih bersih. Sinar wajah akan lebih nampak. Dan yang jelas, hati terasa lebih damai, lebih sabar.

*****

Tidak terasa, dua bulan lebih berlalu. Semakin hari, tidurku semakin enak. Tidak lagi diganggu oleh mimpi buruk. Kalaupun mimpi, itu hanyalah yang normal. Semisal tentang pekerjaan siang hari yang belum tuntas. Atau kalau ada mimpi yang mengandung simbol, mayoritas berkonotasi positif.

Aku masih meneruskan membaca rangkaian doa rukyah hingga kini, beserta serangkaian dzikir, serta ibadah pendukung lainnya. Kuusahakan selalu shalat, meskipun gangguan kecil datang lagi. Aku tahu, ini pertempuran seumur hidup. Akan selalu ada yang berusaha datang mengganggu. Namun kini aku lebih yakin, lebih percaya diri, dan lebih pasrah kepada Tuhan. Semoga tak ada lagi gangguan serius yang kualami, dan semoga seluruh keluarga serta saudaraku mendapat perlindungan penuh dari Allah selamanya. Aamiin.

*****