Browsing All Posts filed under »Memoir Writing«

Cinta, Bukan Neraka

April 1, 2015

4

Subuh tadi, mataku terpaku pada selembar kertas yang kutempelkan di dinding kamar anakku. Kertas itu bertuliskan tentang hukuman bagi orang-orang yang meninggalkan shalat. Misalnya, yang meninggalkan shalat Subuh sekali, akan dihukum masuk neraka selama 30 tahun, di mana 1 tahun neraka = 60.000 tahun di dunia. Yang meninggalkan shalat Dhuhur sekali, hukumannya sama dengan membunuh […]

Sebelum Lenyap Selamanya

Agustus 1, 2014

4

Berita terbaru yang sekali lagi membuat saya terhenyak adalah isu tentang rencana penghancuran Ka’bah oleh kelompok militan yang sekarang lagi moncer di Irak. Well, you know who. Siapa lagi kalau bukan ISIS. Setelah sebelumnya meledakkan makam Nabi Yunus, dan entah makam siapa lagi nanti yang akan diledakkan. Sayangnya, yah, seperti biasa, kelompok dengan urat leher […]

Menanti Pelangi dan Matahari

Juli 28, 2014

0

Shalat Ied tahun ini dinaungi mendung tebal. Angin terasa dingin masuk menembus pori-pori kulit, padahal belum lagi musim gugur tiba. Dua hari lalu, angin juga demikian. Aku menggigil saat menceburkan diri dalam kolam, menemani anakku yang tak sabar bermain air bersama temannya. Mama temannya berkata, bahwa tahun ini memang cuaca sangat berbeda. Lebih dingin. Sementara […]

SEPENGGAL CERITA TENTANG KEHIDUPAN

Juli 1, 2013

0

Kemarin kami makan malam dengan teman suamiku, sebut saja namanya A. Ada yang istimewa, karena A mengingatkanku pada teman yang lain, bernama B. Pada saat bersamaan, mereka berdua divonis kanker. Keduanya religius. Saat menghadapi vonis, mereka berdua semakin rajin berikhtiar, percaya bahwa Tuhan punya maksud tertentu dengan sakit yang mereka alami. Bedanya, si B semakin […]

Memoir: Sejujur Apakah Kita Menulis Kisah Hidup Sendiri?

Maret 4, 2013

5

Seorang dokter menulis memoir, tentang masa di mana kehadirannya tidak diinginkan. Ketika sebagian besar temannya mendapatkan limpahan cinta, dia dianggap sebagai pembawa sial. Ibunya meninggal sewaktu melahirkannya, dan sejak saat itu, dunia kelabu baginya. Hingga kemudian dia berhasil memenangkan beasiswa untuk studi ke Inggris, dan akhirnya memiliki keluarga bahagia. Nama dokter itu Adeline Yen Mah, […]

Catatan 5: The Story of Tea

Desember 13, 2012

10

Kalau kebetulan lay over di Hongkong cukup lama, jangan lupa mengisi waktu dengan mencicipi teh. Teh di Hongkong, memiliki kulturnya sendiri, seperti halnya teh minum teh di Jepang. Hampir setiap rumah makan menyediakan teh, dan kadangkala teh panas justru lebih murah harganya daripada es teh. Minum teh menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari, mulai dari pagi […]

Catatan 3: Larut Malam di Sebuah Terminal

Desember 6, 2012

0

Terminal 1 Hongkong, 9 November 2012. Pukul 2:24.   Menjelang dini hari begini, bandara sudah sepi. Para pejalan dan pengembara satu demi satu merebahkan diri di kursi panjang berbalut kain pelapis warna ungu dan biru. Berbantal ransel atau jaket yang digulung. Menanti saat penerbangan selanjutnya. Semua restoran sudah tutup. Satu dua penumpang terlihat datang dan […]

Catatan Perjalanan 1: Waktu

November 22, 2012

12

Malam itu, tiba-tiba aku tertegun melihat hamparan warna putih di depan mata. Lautan busa yang diam, sesekali bergoyang ringan disentuh angin, menunggu waktu untuk merekah, dan menerbangkan ribuan kupu-kupu yang selama beberapa waktu bertapa di dalamnya. Aku tahu itu hanya mimpi. Bagi sebagian orang, mimpi hanyalah bunga tidur. Bagi Freud dan Jung, mimpi adalah refleksi […]

Eid 2012: Pluralitas

Agustus 29, 2012

1

“Apa yang membuatmu senang menjadi muslim?” – Jika ditanya seperti itu, saya pasti akan menjawab: “Sisi penerimaan muslim terhadap pluralitas.” Sewaktu menunggu sholat Eid dimulai, pandangan saya beredar pelan ke seluruh penjuru ruang. Saya melihat wajah-wajah khas Timur Tengah, Eropa, Asia. Saya melihat beragam warna kulit, busana, dan beberapa dialek lokal yang tertangkap telinga. Di […]

Eid 2012: Kembali ke Fitrah

Agustus 28, 2012

2

Tiap kali ada orang bertanya – gimana lebaran di negerinya Obama? Rame, nggak? – jawabanku selalu: Sepi. Nggak ada petasan, nggak ada makanan istimewa. Habis sholat, ya udah, pulang aja. Memang demikianlah adanya. Untuk soal nuansa spiritual, jangan berharap di sini sama ramainya dengan di tanah air. Yang ramai hanya masjid, dengan orang-orang berbaju bagus […]