Catatan 3: Larut Malam di Sebuah Terminal

Posted on Desember 6, 2012

0


539Terminal 1 Hongkong, 9 November 2012. Pukul 2:24.

 

Menjelang dini hari begini, bandara sudah sepi. Para pejalan dan pengembara satu demi satu merebahkan diri di kursi panjang berbalut kain pelapis warna ungu dan biru. Berbantal ransel atau jaket yang digulung. Menanti saat penerbangan selanjutnya.

Semua restoran sudah tutup. Satu dua penumpang terlihat datang dan bergegas pergi dengan langkah cepat. Seperti kesiur angin. Tak ribut, dan tahu-tahu sudah lenyap di tikungan.

Lamat-lamat kudengar suara mesin penyikat lantai mendekat, lalu detak langkah ringan petugas kebersihan yang membawa papan plastik warna kuning untuk menutup eskalator, agar tak ada yang lewat saat eskalator dibersihkan. Petugas lainnya yang berseragam kaos dan celana hitam mengepel lantai elevator. Ada yang membersihkan bunga-bunga hias. Ada petugas keamanan berseragam putih biru berjalan hilir mudik. Lalu petugas penjaga loket tiket kereta api yang masih terjaga, berdiri dan meregangkan badan, mengusir penat dan mungkin juga rasa bosan yang menghinggapinya.

Seorang pejalan melintas, dengan gelas bercap Starbucks di tangannya. Mungkin itu berisi kopi atau teh yang sudah dingin, karena kedai Starbucks sudah tutup beberapa jam lalu. Ia berbadan gemuk, bercelana tanggung di bawah lutut warna biru jins, berkaus putiih, bersepatu kets warna oranye, dan berkacamata dengan gagang warna oranye pula.

Samar kucium aroma amis dari toilet yang sedang dibersihkan. Raungan mesin penyedot tinja terdengar cukup keras, meskipun tak sampai membangunkan mereka yang tidur lelap di bangku-bangku panjang. Lalu sekali lagi, aroma pesing dan amis tinja menyeruak.

Aku tak bisa tidur. Seperti biasa. Selama dalam pesawat, mataku sulit terpejam. Begitu sampai di bandara, mata tak juga mau kompromi. Tetap nyalang memperhatikan atap bandara yang melengkung-lengkung, dan satu dua penumpang yang melintas.

Sepi dini hari begini, tak banyak yang bisa dilihat. Namun bukan berarti tempat ini mati. Justru di saat sepi, aku bisa melihat hal-hal yang biasanya luput dari pengamatan. Para petugas kebersihan. Para petugas keamanan dengan walkie-talkienya, yang sibuk bicara dengan petugas perempuan. Orang-orang yang kelelahan dan lelap. Beberapa pemuda yang nampaknya juga tak bisa tidur, dan memilih mengisi waktu dengan memencet tombol hape atau laptop.

Waktu terus bergulir. Aku masih tetap tak bisa tidur. Namun akhirnya kupaksa merebahkan diri. Berbantal ransel, dan tas yang kubelitkan di tangan. Kutunggu pagi, dan kurindukan kantuk yang tak juga datang mendekap. Menatap pejalan bersepatu oranye yang kembali melintas. Tanpa gelas Starbucks di tangannya.

 

*****

Foto: Koleksi pribadi