Nadi Semesta

Posted on Juni 23, 2011

0


Orang-orang di pedesaan atau di kampung, masih banyak yang menjadikan surau dan masjid sebagai titik pertama keseharian mereka. Tidak terkecuali di sebuah kampung kecil di pesisir Jawa Timur, tempat asal saya.

Setiap hari, menjelang pukul 3 dinihari, lampu masjid di depan rumah mulai dinyalakan. Tak lama kemudian, melantunlah ayat-ayat suci dari kaset yang diputar, yang entah mengapa tak pernah jemu telinga mendengarnya. Selang beberapa saat, akan terlihat beberapa orang berjalan pelan keluar dari rumah mereka dan menuju masjid itu. Dengan takzim mereka akan duduk menunggu saat subuh, entah sambil membaca alQuran atau melantunkan dzikir diam-diam. Setelah subuh usai, mereka pulang dan melanjutkan aktifitas berikutnya: bersiap ke sawah, memasak, ke sekolah, ke kantor, dan sebagainya.

Di saat-saat tertentu, masjid dipakai untuk tempat melaksanakan akad nikah. Pengantin akan dibawa ke sana, mengucapkan janji disertai doa, dan terkadang mereka diminta untuk membaca kitab suci sebagai persyaratan tambahan. Orang-orang akan duduk melingkar dan mendengarkan semua ikrar itu, lalu disusul oleh pembagian makanan dan berkat (makanan yang ditaruh dalam wadah karton atau bambu untuk dibawa pulang).

Masjid, entah disadari atau tidak, juga menjadi cermin dinamika sosial penduduk di sekitarnya. Saya bisa mengira-ngira apa yang sedang terjadi di desa itu dengan melihat siapa saja yang rajin datang ke masjid, siapa yang menghindarinya dan memilih masjid lain, siapa yang mengambil peran sebagai imam, dan sebagainya. Di lingkup yang sekecil itu, dengan mudah orang akan membaca pola dinamikanya. Terutama jika masjid itu termasuk masjid sentral yang menjadi acuan penduduk.

Perempuan termasuk kelompok yang cukup rajin memanfaatkan masjid. Mereka mengadakan pengajian rutin selepas sholat Jumat, dan menyambungnya dengan arisan uang. Tidak berbeda jauh sebenarnya dengan masjid di kampus-kampus yang menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengembangkan aktifitas ekonomi yang dinafasi dengan kegiatan rohani.

Saking pentingnya fungsi masjid dalam keseharian penduduk desa, saya menyebut tempat itu sebagai nadi semesta bagi mereka. Sama halnya dengan tempat ibadah lain, dimana para penganutnya juga menjadikan tempat itu sebagai titik pertama denyut kehidupan mereka.

Dan ibarat nadi tubuh, jika ada yang memotongnya, maka itu sama kejinya dengan pembunuhan. Masjid yang dibakar, wihara yang disegel, gereja yang dirusak, atau kuil yang dibongkar paksa, semuanya akan terasa sama. Itu bukan sekedar sebuah bangunan yang diruntuhkan. Itu adalah nadi semesta manusia yang diputus, nadi para penganutnya. Jadi bayangkan bagaimana pedihnya jika hal itu yang terjadi.

sumber gambar: roniyuzirman.wordpress.com