Browsing All Posts filed under »Remember the Moments«

Catatan Saat Menulis Memoar Imam Shamsi Ali

Februari 11, 2014

3

Jauh sebelum ada tawaran untuk menulis memoir Imam Shamsi Ali, saya sudah penasaran dengan sosok imam New York yang satu ini. Tidak saja karena asal beliau yang dari Indonesia, saya penasaran dengan caranya. Bagaimana sebenarnya dakwah yang diterapkannya, hingga bisa menarik perhatian banyak orang. Muslim adalah kelompok minoritas di sini. Hanya sekitar 1,6% dari total […]

Hercules, Janus, dan Tupai

Januari 24, 2014

4

Musim dingin kali ini berbeda dengan sebelumnya. Ada perubahan suhu yang sangat ekstrim, dibawa oleh angin dari wilayah Kutub Utara. Orang menyebut kiriman angin badai dingin itu sebagai Polar Vortex, dan menamai badainya dengan sebutan Hercules dan Janus. Saat badai Hercules, sekolah dan kantor diliburkan, karena suhu drop sampai -14 Fahrenheit alias – 25 Celcius. […]

Di Sebuah Stasiun Kereta

Oktober 25, 2013

2

Di sebuah stasiun kereta, masih berkilau sisa-sisa hujan di sulur rerimbunan ivy tua. Seorang lelaki renta mendekapkan bungkusan ke dada. Dingin masih menetes juga. Orang-orang duduk bersideku. Pekerja malam mengangkat kepala dengan cemas ke arah langit, gugup menghirup sisa kopi dari termos tua. Ia menanti. Dan dingin masih menetes juga. Kaki para pejalan menyibak genangan […]

SEPENGGAL CERITA TENTANG KEHIDUPAN

Juli 1, 2013

0

Kemarin kami makan malam dengan teman suamiku, sebut saja namanya A. Ada yang istimewa, karena A mengingatkanku pada teman yang lain, bernama B. Pada saat bersamaan, mereka berdua divonis kanker. Keduanya religius. Saat menghadapi vonis, mereka berdua semakin rajin berikhtiar, percaya bahwa Tuhan punya maksud tertentu dengan sakit yang mereka alami. Bedanya, si B semakin […]

Memoir: Sejujur Apakah Kita Menulis Kisah Hidup Sendiri?

Maret 4, 2013

5

Seorang dokter menulis memoir, tentang masa di mana kehadirannya tidak diinginkan. Ketika sebagian besar temannya mendapatkan limpahan cinta, dia dianggap sebagai pembawa sial. Ibunya meninggal sewaktu melahirkannya, dan sejak saat itu, dunia kelabu baginya. Hingga kemudian dia berhasil memenangkan beasiswa untuk studi ke Inggris, dan akhirnya memiliki keluarga bahagia. Nama dokter itu Adeline Yen Mah, […]

Mengapa Saya Ikut Merasa Tertikam oleh Kasus PKS

Februari 2, 2013

38

Selama ini saya cenderung menghindari penggunaan atribut agama untuk hal-hal tertentu; seperti masalah pekerjaan, politik, keberpihakan saya terhadap isu perempuan, dan sebagainya. Sebab sering saya menemui kasus, penggunaan atribut itu menjadi sumber matinya sikap kritis. Shut down the logic, begitu yang sering saya katakan. Orang mudah sekali mengamini sesuatu hanya karena ada embel-embel kutipan ayat […]

Catatan 5: The Story of Tea

Desember 13, 2012

10

Kalau kebetulan lay over di Hongkong cukup lama, jangan lupa mengisi waktu dengan mencicipi teh. Teh di Hongkong, memiliki kulturnya sendiri, seperti halnya teh minum teh di Jepang. Hampir setiap rumah makan menyediakan teh, dan kadangkala teh panas justru lebih murah harganya daripada es teh. Minum teh menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari, mulai dari pagi […]

Catatan 4: Tentang CANTIK di Mataku

Desember 10, 2012

6

Masih melanjutkan catatan edisi lay over di bandara Hong Kong, kali ini aku bertemu dengan pemandangan yang tak asing lagi di tempat itu. Pria Barat yang menggandeng perempuan Asia. Menjelang tengah malam, datanglah sepasang orang yang kemudian duduk istirahat di bangku terminal 1, tepat di seberangku. Yang pria berkulit putih dan berambut pirang, sementara yang […]

Catatan 3: Larut Malam di Sebuah Terminal

Desember 6, 2012

0

Terminal 1 Hongkong, 9 November 2012. Pukul 2:24.   Menjelang dini hari begini, bandara sudah sepi. Para pejalan dan pengembara satu demi satu merebahkan diri di kursi panjang berbalut kain pelapis warna ungu dan biru. Berbantal ransel atau jaket yang digulung. Menanti saat penerbangan selanjutnya. Semua restoran sudah tutup. Satu dua penumpang terlihat datang dan […]

Catatan Perjalanan 1: Waktu

November 22, 2012

12

Malam itu, tiba-tiba aku tertegun melihat hamparan warna putih di depan mata. Lautan busa yang diam, sesekali bergoyang ringan disentuh angin, menunggu waktu untuk merekah, dan menerbangkan ribuan kupu-kupu yang selama beberapa waktu bertapa di dalamnya. Aku tahu itu hanya mimpi. Bagi sebagian orang, mimpi hanyalah bunga tidur. Bagi Freud dan Jung, mimpi adalah refleksi […]