Narcissus

Posted on Mei 2, 2015

0


Narcissus-Caravaggio_(1594-96)_editedPernahkah terpikir bahwa kalau kita jatuh cinta pada seseorang, sebenarnya yang kita cintai itu adalah diri kita sendiri? Persis seperti Narcissus yang berkaca di permukaan air, lalu mengira ia melihat seseorang berwajah rupawan, dan jatuh cinta padanya. Tak terpikir bahwa itu adalah bayangannya sendiri.

Beberapa waktu lalu, saya chat cukup panjang dengan salah satu teman dekat. Kami in a good term. Artinya, biarpun dulu pernah dekat secara emosional, itu tidak menghalangi kami untuk tetap berteman selayaknya teman biasa. Tidak ada acara blacklist atau apa, karena masing-masing sudah move on, sudah punya kehidupan sendiri.

Ada satu pertanyaan yang sering muncul di benak saya tentangnya. Yakni, mengapa ia memilih pekerjaan yang sama sekali bertolak belakang dengan apa yang dulu dipelajarinya. Dari sektor bisnis ke guru, untuk masyarakat umum pula. Bukan untuk segmen tertentu, yang menurut saya lebih prospektif. Jiwa sosialnya kelihatan lebih kental dari pada jiwa bisnisnya. Terus-terang sewaktu bertemu, “harapan” saya tentangnya langsung buyar, berganti dengan ketidakmengertian.

Saya bilang, “Mestinya kamu bisa bikin proyek yang lebih besar dari yang sekarang. Kan dulu backgroundmu bisnis.”

Jawabnya, “Ah, aku nggak mikir masa lalu, Jul. Lagian itu juga bukan pilihanku.”

“Ohya? Kamu nggak pernah cerita sebelumnya.”

“Aku nggak hepi. Empat tahun aku memaksakan diri belajar hal yang tidak aku sukai, demi memenuhi harapan orang lain kepadaku. Sekarang sudah kupenuhi semuanya. Tinggal giliranku untuk memilih apa yang kusuka.”

“Gitu ya,” tulisku masih setengah sangsi. “Cerita dong, gimana suka-dukanya di pekerjaanmu sekarang.”

Cahaya seakan berpendar dari kalimat-kalimatnya saat ia bercerita tentang kehidupannya. Seperti ada napas segar berhembus, dan membuat saya terdiam sejenak, menikmati untaian kalimat yang ditulisnya. Kelihatan jelas, itu passion dia. Sesuatu yang memang asli muncul dari jiwanya. Tidak dibuat-buat, dan tidak karena terpaksa. Dan pada saat itu, rasanya seperti ada tirai yang dibuka di depan mata saya. Tentang mengapa dulu dia kelihatan antusias sewaktu tahu saya dari keguruan. Dan mengapa dulu saya bersemangat ingin mengenalnya, begitu tahu dia dari jurusan bisnis.

Rupanya, dulu saya jatuh hati padanya, karena ada bayangan mimpi saya dalam dirinya. Saya suka banget cari uang, dan sering berangan-angan bahwa suatu saat kelak bisa punya perusahaan sendiri. Namun profesi di bidang bisnis tidak pernah saya lirik, karena stigma tentang profesi ini masih terbilang kurang keren di mata keluarga. Yang keren adalah kalau bisa kerja kantoran, atau punya jabatan. Dia sebaliknya. Kesuksesan bisnis adalah tolok ukur dalam keluarganya. Padahal jauh dalam hati kecilnya, menjadi guru adalah puncak dari kebahagiaannya.

No wonder, pikir saya. Rupanya dulu saya jatuh cinta pada bayangan diri sendiri, bukan pada dia. Dan nampaknya, dia juga jatuh cinta pada bayangannya sendiri, yang dilihatnya ada pada diri saya. Kami berdua sama-sama Narcissus, yang berkaca di danau dan memutuskan untuk terjun ke dalamnya.

Untungnya, tidak ada yang tenggelam. Karena memang lazimnya hukum alam, jika tak tepat, maka tak akan jodoh. Jika sesuatu belum seimbang, maka ia akan terus mencari, hingga padanannya ditemukan.

 

Ditandai: ,