Gilgamesh, Goliath, dan Lelaki dari Jawa

Posted on Februari 4, 2020

2


66e62769cc721d4f2f99f5910d6f34dbBapak pernah bercerita padaku tentang seorang lelaki penghuni tanah Jawa di masa lampau. Ia terbilang muda, berkulit kuning langsat, dengan tubuh kekar dan rambut hitam terurai panjang. Tubuhnya juga tinggi, melebihi pohon kelapa. Ia pendiam. Ketika para pendatang dari pulau Madura mendarat dan membuka lahan di pesisir Jawa, ketenangannya terusik. Ia menyingkir bersama keluarganya ke kedalaman hutan yang tak terjamah manusia, tempat segala binatang liar dan hantu bersemayam. Di situ ia bahagia. Hingga kemudian, satu demi satu keluarganya meninggal, dan tinggal ia seorang diri. Kesepian yang tak tertanggungkan membuatnya berduka, dan ia memilih mengakhiri hidupnya.

Aku dulu tak begitu menaruh perhatian pada cerita Bapak. “Seriously, Dad?” tanggapku, tak berminat. Tetapi sekarang, ketika membaca ringkasan hikayat Gilgamesh dan Goliath, aku jadi berpikir beda. Mungkin saja lelaki dari Jawa itu berasal dari ras yang sama dengan Gilgamesh dan Goliath, yakni kaum Nephilim. 

Nephilim, alias Rephaite atau Rephaim, adalah ras keturunan hasil perkawinan antara manusia dengan kalangan Grigori. Dalam berbagai sumber, mereka umum digambarkan sebagai para raksasa dengan kekuatan yang nyaris tak ada tandingannya. Bahkan mereka digambarkan bisa memiliki kemampuan yang jauh lebih besar dibandingkan orangtuanya. Mereka mendapat nama berbeda-beda. Misalnya dalam khasanah budaya Norwegia, sebutannya adalah Jetter. Di Arab, para raksasa itu disebut Jabbar. Di Hindu, sebutannya Daityas atau Rakshasha.

Nephilim tentu saja berbahaya. Ulah dari tujuh pangeran dari neraka saja sudah cukup untuk bikin pusing. Apalagi jika ada kembarannya, berupa anak mereka. Dan memang benar. Jika kita membaca kisah tentang Gilgamesh dan Goliath, atau kisah tentang para raksasa yang lain, kita akan tahu kerusakan seperti apa yang mereka timbulkan, yang disebabkan oleh kekuatannya tersebut. Itu sebabnya, setiap kali ada Nephilim yang berbuat onar, Tuhan segera mengirimkan tandingannya untuk mengalahkan mereka. Seperti Nabi Daud, yang dikirim untuk mengalahkan Goliath. Lalu Enkidu, yang diciptakan oleh para dewa untuk menghentikan angkara-murka dari Gilgamesh. Kisah Goliath akhirnya menjadi tamsil, inspirasi tentang makna sebuah kejayaan. Bahwa besar-kecilnya seseorang atau bangsa, bukan menjadi penentu utama dalam nasibnya. Yang menjadi penentu adalah upaya, kecerdikan, dan strategi.

Karena besarnya efek samping yang timbul akibat persilangan ras ini, tak heran jika ancaman bagi para Grigori tidak main-main. Jika mereka ketahuan jatuh cinta dan menikahi manusia, maka statusnya sebagai Grigori akan langsung dicopot, dan mereka mendapat predikat sebagai makhluk hina yang terusir dari surga. Yah, ini jenis cinta yang berat di ongkos, memang.

Namun tak semua Nephilim destruktif. Sejumlah legenda atau cerita rakyat berkisah tentang raksasa yang baik hati. Bahkan Rahwana, juga digambarkan memiliki sisi lembut di antara dominasi karakter antagonis yang disematkan kepadanya. Lihat bagaimana Rahwana sangat bersabar menanti Sinta membalas cintanya, padahal jika mau, ia bisa saja merampas Sinta untuknya.

Begitu juga dengan kisah Gilgamesh dan Enkidu. Hidup mereka penuh warna, dan sangat manusiawi. Ini yang membuatku tersentuh. Para Nephilim itu berada dalam dunia yang awkward, yang serba canggung. Mau jadi manusia penuh, tapi mereka tak mengerti bagaimana menjadi manusia. Mau penuh jadi Grigori, tapi mereka terperangkap dalam tubuh manusia, yang dengan sendirinya harus mengikuti sunnatullah manusia.

Kecanggungan bercampur dengan sisi kemanusiaan yang menyentuh, menjadi tema utama dalam kisah Gilgamesh. Awalnya, Gilgamesh adalah seorang raja yang luar biasa lalim. Ia menghukum setiap orang yang tak setuju dengannya, menekan rakyatnya, dan arogan dengan kemampuannya. Hingga akhirnya, para dewa gerah dan memutuskan menciptakan tandingan, untuk menghentikan kerusakan yang ditimbulkan oleh Gilgamesh.

Dari situlah, terciptalah raksasa yang lain, bernama Enkidu. Enkidu awalnya diciptakan polos, tak mengenal dosa. Ia hidup di rimba bersama para hewan liar yang menyukainya. Namun karena Enkidu punya tugas untuk masuk ke dunia manusia, maka ia dikenalkan ke dunia itu, melalui perantaraan dosa. Seorang pelacur bernama Shamhat, yang berasal dari kuil Ishtar (dewi cinta dan perang), dikirim untuk melucuti kepolosan Enkidu. Setelah Enkidu tidur dengan Shamhat, para binatang jadi emoh mendekat kepadanya, dan meninggalkannya.

Enkidu tak punya pilihan lain. Ia kemudian pergi bersama Shamhat ke kota bernama Uruk. Sepanjang perjalanan, ia mendengar tentang ulah Gilgamesh, yang meniduri setiap pengantin perempuan di malam pertama mereka. Enkidu marah, dan memutuskan untuk menghajar Gilgamesh. Di situlah perkelahian keduanya dimulai.

Enkidu kalah, namun Gilgamesh merasa suka padanya. Dua raksasa itu kemudian bersahabat, dan pergi bersama guna mengalahkan monster lain. Seusai mengalahkan si monster, Gilgamesh kemudian pergi mandi. Di saat itulah, dewi Ishtar menatap keelokan Gilgamesh, dan menyatakan cinta. Namun Gilgamesh menolak, dan Ishtar marah. Ia kemudian mengirimkan monster untuk menghancurkan kota Uruk. Ya, begitulah. Bukan cuma cowok yang bisa kehilangan akal sehat untuk urusan cinta. Perempuan juga bisa mendadak surut EQ-nya jika cintanya ditolak

Dua sahabat itu mengalahkan monster yang dikirim Ishtar. Namun para dewa memutuskan, dua orang itu berbahaya jika terus bersama. Salah satunya harus mati. Enkidu dipilih sebagai korban, melalui sakit parah yang tak tersembuhkan. Ia pun mati, meninggalkan Gilgamesh dalam duka-cita yang sangat panjang.

Gilgamesh sedemikian patah hati. Ia menangisi kematian Enkidu tanpa henti, dan menganggap kematian sebagai perampas kebahagiaannya. Maka ia pun berkelana, mencari dewa yang bisa menganugerahkan keabadian kepadanya. Hingga kemudian, ia belajar untuk menerima kematian sebagai bagian dari kehidupan, dan mengabadikan namanya melalui kebijaksanaan dan perbuatan baik. Persis seperti kita, manusia, yang belajar untuk abadi melalui karya dan kenangan tentang kita.

Demikianlah sebagian kisah tentang Nephilim. Dan selanjutnya, mari kita nikmati lagu tentang Gilgamesh dalam bahasa Sumeria, yang diambil dari penggalan puisi tentangnya. Yang bercerita tentang awal mula kehidupan di Bumi, yang semula dikira indah, namun ternyata tak demikian. Hidup ternyata adalah keindahan, yang terlebih dahulu harus ditebus dengan penderitaan.

Link dari Youtube: The Epic of Gilgamesh: https://www.youtube.com/watch?v=QUcTsFe1PVs

Di masa itu, di masa yang demikian jauh di belakang 

Pada malam-malam lampau, tahun-tahun lampau

Pada hari-hari di mana segalanya tercipta, ketika setiap hal mendapat tempatnya masing-masing

Ketika roti pertama telah dicicipi di dalam kuil suci, ketika tungku pemanggang telah dinyalakan

Ketika surga dipisahkan dari Bumi, dan ketika manusia ditetapkan untuk mendiaminya

*****