Sorban, dan Dinding Kaca Antara Kami (1)

Posted on Oktober 15, 2020

2


Semalam saya menerima forward dari adik, berupa dua foto. Satu adalah foto kakek buyut saya, dan satunya lagi adalah foto sorban yang dulu selalu dikenakannya.

Buyut saya bernama K.H. Keromo Laksono. Orang-orang sepuh atau paruh baya di pesisir Mlandingan, Besuki – Jawa Timur, banyak yang mengenalnya. Termasuk mereka yang tinggal di Pulau Sapudi – Madura. Sebab ia memang punya nama besar pada jamannya, bahkan hingga wafatnya. Nama Keromo Laksono diberikan oleh pamannya, yakni raja Sumenep – mungkin oleh Panembahan Notokusumo II atau Aryo Pakunatadiningrat II, kalau melihat dari timeline usianya. Gelar itu adalah bentuk penghargaan atas kemampuan batin beliau. Kalau dalam kalangan pesantren, istilah yang umum digunakan adalah “keramat” atau “karomah”. Sedangkan kalau saya, dalam istilah sekarang, pasti akan menyematkan istilah “indigo” buat beliau. Karena memang kemampuan batin dan bakatnya hanya dimiliki oleh orang-orang yang tergolong indigo.

Buyut diberi hadiah oleh sang raja berupa sorban putih dengan hiasan bunga merah serta rajutan benang emas. Sewaktu kecil, saya sering mencuri-curi membongkar lemari kuno miliknya dan membuka kotak kaleng bundar tempat sorban itu disimpan. Cuma untuk mencari telur cicak yang kadang tersembunyi di lipatan surbannya.

Sorban itu menyimpan banyak cerita.

Semasa hidupnya, Buyut pernah mencoba berdagang gamping. Bahkan keukeuh ikut Sarekat Islam, meskipun bolak-balik bangkrut. Bakatnya memang bukan di dagang. Gurunya sudah lama memperingatkan, agar beliau kembali ke jalur spiritual. Buyut lantas kembali fokus ke itu. Ia pergi haji, naik kapal berbulan-bulan, dan kembali ke tanah air dengan membawa sekarung buku. Kapal yang ditumpanginya sempat tertahan di pelabuhan Singapura selama beberapa bulan lantaran perang Aceh meletus hebat. Keluarganya di rumah sudah mempersiapkan selamatan, karena lama tak ada kabar, dan menyangka beliau wafat. Ketika merayakan selamatan 100 harinya, tiba-tiba Buyut muncul. Mereka gembira dan bertangisan.

Buyut memilih tinggal di kawasan yang gelap. Angker, banyak maling, banyak begal. Konon banyak dedemit pula. Ia membuka pekarangan, membangun rumah, dan mulai menjalani profesi di bidang agama dan spiritualitas.

Dalam waktu singkat, namanya moncer. Konon dedemit di wilayah itu memilih menyingkir. Bahkan salah satu raksasa penghuni wilayah itu, pernah meminta bantuannya untuk memperlancar proses wafatnya. Nama raksasa itu Landheur. Ruhnya masih ada ketika saya kecil. Berkelindan di sekitar rumah, dan sesekali menampakkan diri. Entah sekarang. Orang-orang percaya, jika ingin melihatnya, mereka harus tidur di lorong antara dua rumah leluhur beralaskan sapu lidi dengan kepala menghadap ke Selatan. Saya tertawa mendengar mitos itu. Namun demikian, cerita tentang raksasa itu tetap menjadi salah satu favorit saya. Sebab gambaran tentang si raksasa Jawa itu begitu menyentuh. Tampan, pendiam, dan kesepian. Ia pernah saya sebut dalam tulisan saya tentang Gilgamesh dan Lelaki dari Jawa.

Salah satu kebiasaan Buyut adalah berjalan malam hari. Tak ada yang mengusiknya. Jika sedang berjalan malam, Buyut selalu meletakkan tasbih di atas surbannya, atau memegangnya untuk berdzikir. Tasbih itu konon bersinar seperti bara, dan menjadi lampu penerang baginya. Itulah sebabnya, ia kemudian dijuluki sebagai “Kyai Mardeh”. Mardeh dalam bahasa Madura, artinya bara. Buyut juga memiliki julukan “Kyai Kolor”, karena di halaman belakang rumahnya dulu ada tanaman kolor (keluwih) yang tinggi dan rindang, yang buahnya enak dimasak sebagai gengan kolor (sayur keluwih).

Banyak kisah mistis membalut sosoknya. Salah satunya tentang kemampuannya membaca pertanda dari alam. Suatu kali, sederetan ulat pohon kedondong berbaris seperti serdadu, melintasi halaman. Buyut mengambil salah satunya. Ia memperhatikan sang ulat, dan kemudian menangis. Ujarnya, sang ulat membawa kabar bahwa tak lama lagi, akan ada bencana menimpa daerah itu. Dan benar adanya.

Di saat lain, seseorang menjadi gila. Menurut cerita, orang itu adalah salah satu santrinya yang nekat mencuri kitab Quran yang ditulis Buyut. Buyut memang punya kebiasaan menyalin Quran setiap pagi, yang didahului dengan ritual berwudhu. Orang-orang percaya bahwa kitab itu ada “isi”nya, yang bisa bikin orang sakti atau kaya. Buyut cuma tertawa mendengarnya. Ketika santri itu mencurinya, ia cuma berkata, “Nanti juga akan kembali. Biarkan saja.” – Kitab itu kembali, memang. Tapi si santri jadi gila. Entah, tidak jelas apakah gilanya karena tak sanggup melawan mitos tentang “isi” dalam kitab itu, ataukah karena deraan rasa bersalah, deraan ketakutan karena mencuri, atau apa. Yang jelas, ia gila.

Ada lagi kisah yang sering saya dengar, yakni kebiasaan Buyut untuk menghilang di salah satu sudut hutan. Orang-orang percaya bahwa Buyut pergi berhaji ke Mekkah melalui pintu gaib. Tapi saya tidak percaya begitu saja, karena timelinenya tidak akurat. Antara waktu haji dengan saat menghilangnya, tidak sesuai dengan hitungan perbedaan waktu.

Buyut berwajah ceria. Fotonya enak dilihat. Garis hidung, alis, rahang, dan perawakannya khas bangsawan Madura. Menjelang akhir hayatnya, rambutnya yang memutih perlahan berganti hitam. Ia juga tetap doyan daging kambing. Usianya panjang. Lahir sekitar tahun 1823, dan wafat tahun 1973. Istrinya tiga. Ia salah satu indigo dalam keluarga kami. Garis keluarga, terutama dari Bapak, memang banyak menyimpan jejak para indigo sejak dulu kala, termasuk salah satunya Buyut.

Dulu saya damai setiap kali melintasi makamnya. Dulu saya sering merindukannya. Senang mendengar cerita-cerita tentangnya. Senang mengunjungi makamnya dan mengusap nisannya yang terbungkus kain putih.

Dulu. Sebelum saya terjungkal memasuki perbatasan waktu, dan berduka karenanya.

Ketika mendapat kiriman foto itu, saya melihat beliau tengah berdiri menatap saya. Dari kejauhan. Dan saya menatapnya juga.

Desir pedih itu datang. Desir yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang sebenarnya saling mencintai, namun tak bisa berbuat apa-apa. Seandainya saya melihatnya saat kecil, mungkin saya akan menghambur ke arahnya dan minta digendong. Seandainya bertemu saat remaja, mungkin saya akan berlari memeluknya erat-erat, dan memintanya membelikan sesuatu yang saya suka. Dan saya rasa, beliau pun tak akan keberatan memenuhi apapun yang saya minta.

Namun Buyut datang ketika saya terlanjur banyak tahu. Dan kini, antara kami masih ada selapis dinding kaca. Saya ingin memeluknya, namun sekaligus tak ingin percaya padanya. Saya ingin meraih tangannya, namun sekaligus menolak terluka kesekian kalinya.

Mungkin luka itu yang menyebabkannya datang. Mungkin keinginan untuk berdamai, yang belum kesampaian, yang menyebabkan jiwanya resah. Dan jika itu benar, mungkin saya akan mencari cara untuk bicara dengannya. Melalui percakapan panjang. Tentang hidup, tentang apa saja. Mungkin sehari, mungkin berhari-hari. Mungkin. Entahlah.

The deepest irony about love is, when you can’t say it to the person you truly love.

******