Imigran (3)

Posted on Mei 23, 2015

0


Syrian refugee girls sit at the United Nations Children's Fund (UNICEF) "Child Friendly Spaces" (CFSs) in the Zaatari refugee camp, near the Jordanian border with Syria, on March 8, 2014. The CFSs used as temporary supports that contribute to the care and protection of children in emergencies, responding to childrens rights to protection, psychosocial well-being, and non-formal education. Jordan is home to more than 500,000 Syrian refugees. AFP PHOTO / KHALIL MAZRAAWI        (Photo credit should read KHALIL MAZRAAWI/AFP/Getty Images)

Syrian refugee girls sit at the United Nations Children’s Fund (UNICEF) “Child Friendly Spaces” (CFSs) in the Zaatari refugee camp, near the Jordanian border with Syria, on March 8, 2014. The CFSs used as temporary supports that contribute to the care and protection of children in emergencies, responding to childrens rights to protection, psychosocial well-being, and non-formal education. Jordan is home to more than 500,000 Syrian refugees. AFP PHOTO / KHALIL MAZRAAWI (Photo credit should read KHALIL MAZRAAWI/AFP/Getty Images)

“Ya ampun, mereka ada di mana-mana ternyata!” seru perempuan muda itu ketika aku bercerita tentang Wahhabisme di Indonesia. Ia Nabila, perempuan Irak yang datang ke negara ini sebagai pengungsi. Orangnya feminin, dan tampak terpelajar. Aku mengenalnya saat di sekolah, sedang menjemput anaknya. Dari bertukar nomor telepon, akhirnya aku bertandang ke apartemennya.

Nabila bercerita banyak tentang kondisi di Irak dan Syiria. Darinya aku tahu, bahwa Isis memang benar-benar ada, dan situasi di sana sangat mencekam. Di Irak masih ada beberapa tempat yang aman, namun semua orang ingin keluar. Tidak ada yang betah di sana. Banyak yang mendaftar sebagai pengungsi ke negara-negara Barat melalui salah satu lembaga PBB, seperti ke Kanada, Amerika, Jerman, dan lainnya. Namun tentu saja kuota terbatas. Tidak semua orang bisa lepas, dan yang mereka lakukan hanya berharap agar keadaan membaik. “Harapan yang terasa sia-sia,” katanya, menggambarkan betapa mengenaskannya kondisi di sana.

Ia bercerita, Irak dan Syiria adalah dua negara yang sangat cantik, terutama Syiria. Setelah perang, semuanya hancur. Banyak bangunan bersejarah musnah. Kota-kota penuh puing. Banyak gadis belia terpaksa menjual diri kepada orang-orang kaya dari kawasan Teluk untuk menghidupi diri mereka dan keluarganya. Dia bilang, pernah bertemu seorang anak usia 17 tahun yang sudah bercerai empat kali. “Mereka kebanyakan datang dari Arab Saudi, dari Qatar… soalnya mereka yang punya banyak uang,” katanya, mengomentari ceritaku tentang anak-anak gadis di sebuah kawasan di Jawa Barat, yang terjebak prostitusi berselubung nikah siri dengan turis dari Timur-Tengah.

Di Amerika, ia sempat tinggal di kota yang banyak dihuni oleh imigran dari Timur Tengah. Ia tidak betah, karena rasanya tidak seperti hidup di Amerika. “Hampir semua orang berbahasa Arab, padahal ini Amerika. Aku tidak ingin terpaku di dalamnya. Aku ingin mengenal orang-orang lain di luar lingkungan itu, berbicara dalam bahasa Inggris, dan berbaur,” ujarnya. Keinginan itu kesampaian ketika dia pindah ke kota kecil ini, meskipun ia masih merasa terganggu dengan temperatur Michigan yang sering turun naik tak terduga.

Sebisa mungkin, aku tidak bertanya tentang apa agama orang yang kuajak bicara, sekalipun aku menduga ia Muslim. Dan ternyata benar. Ia tergelak-gelak dan menatapku hampir tak percaya, ketika aku bertanya apakah ia Sunni atau Syiah. “Kalian juga tahu soal ini?!” serunya, sebelum menjawab bahwa ia satu-satunya dari keluarga Sunni yang tinggal di kawasan mayoritas Syiah. Semuanya baik-baik saja, katanya, hingga kemudian berubah dan terus memburuk sejak perang terjadi. Ia tidak habis pikir, mengapa orang-orang menghabiskan banyak waktu untuk bermusuhan dengan sesamanya, ketimbang memikirkan hal yang lebih luas. Pendidikan, misalnya.

Sebelum pulang, aku berjanji untuk mengunjunginya lagi lain kali. Aku minta ia mengajariku membuat dolma. Ia salah satu makanan khas Arab, terbuat dari daging cincang, beras, dan bumbu-bumbu. Dibungkus dengan daun anggur, tapi ada juga yang diisikan ke dalam zuchini, bellpepper, terung, atau bawang. Cara Nabila bercerita, hampir membuat air liurku menitik. Sudah terbayang nanti aku akan mencicipi dolma buatannya yang ditaruh di atas roti, hingga rotinya menyerap kaldu dan sari bumbu, dan memakannya sepotong demi sepotong.