Sorban, dan Berdamai dengan Masa Lalu (2)

Posted on Oktober 16, 2020

0


Dari garis silsilahnya, Buyut adalah cucu dari Raden Abdurrohim di Sumenep. Raden Abdurrohim dan saudaranya (Raden Abdurrahman) adalah cucu dari Bindara Saod, pemegang monarki di Sumenep yang ke-30. Bindara Saod sendiri adalah cicit dari Sunan Kudus, yang menikah dengan Ratu Tirtonegoro, dan kemudian diangkat menjadi raja Sumenep dengan gelar Kanjeng Tumenggung Aryo Tirtonegoro.

Kedua cucu Bindara Saod ini menempuh karir berbeda. Raden Abdurrahman dan keturunannya menempuh jalur sebagai sultan/raja. Sedangkan Raden Abdurrohim banyak menelurkan ulama dan tokoh spiritual. Selain Buyut, salah satu ulama yang lahir dari jalur Raden Abdurrohim adalah K.H. Ahmad Marzuki, ayahanda dari K.H. Mas Mansur. Kyai Mas Mansur kelak menjadi salah satu ikon penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia, bersama Bung Karno, Bung Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara. Mereka dikenal sebagai tokoh Empat Serangkai.

Kemampuan spiritual Buyut adalah bakat. Indigo sejak lahir, dan punya karomah. Serupa dengan sejumlah leluhurnya. Di Pulau Sapudi, nama beliau dikenal luas. Pulau Sapudi menyimpan banyak khasanah mistik yang dipercaya paling kuat di seantero Madura. Seluruh tokoh spiritual senior yang berasal dari pulau itu, awalnya adalah murid Buyut.

Cilakanya, banyak yang ingin seperti Buyut, termasuk sejumlah keturunannya. Padahal bakat tak bisa ditiru, karomah tak bisa dijiplak. Akibatnya, tentu saja banyak yang zonk. Tersesat karena mempelajari mistik tanpa panduan jelas dan tanpa melihat arah bakat sebenarnya. Kadang saya mengelus dada juga, saat menyaksikan sejumlah orang menyia-nyiakan hidup dan bakat aslinya, hanya karena ingin termasyhur seperti Buyut.

Saya sendiri beda visi. Saya lebih tertarik pada film-film, ensiklopedia, bahasa, sejarah, dan segala hal tentang budaya yang berbeda. Pintu masuk yang saya pilih adalah knowledge & understanding, bukan mistik. Juga bukan sakti-saktian. Saya nggak ngerti, apa sih untungnya jadi sakti? Itu hanya berguna jika kita hidup di lingkungan yang negatif atau di masa perang. Kalau kita memilih lingkungan yang bagus, jarang konflik, jarang cakar-cakaran, ya ngapain punya balung wesi kayak Gatotkaca? Emang mau dipakai duel sama siapa? Apalagi jaman sekarang, di mana yang penting itu adalah kreatifitas, keluwesan, kemampuan bekerjasama, pendidikan, kemandirian finansial, serta mindset positif.

Namun demikian, bukan berarti saya bisa lepas begitu saja. Namanya juga lahir di Jawa, siapa sih yang bisa lepas dari urusan mistik? Nyaris nggak ada. Java is the island of mysticism. As well as Madura. Sedikit atau banyak, setiap orang yang tinggal di sana pasti pernah bersinggungan dengan mistik.

Persinggungan paling awal terjadi ketika saya kecil. Entah usia berapa itu. Mungkin sekitar TK atau SD kelas 1. Seperti biasa, saya menjarah lemari kuno tempat Buyut menyimpan kitab-kitabnya, lalu membaca sebagian kitab itu. Saat kecil, saya lumayan mahir membaca kitab Jawa kuno, berkat ajaran Bapak. Sekarang mah, sudah lupa.

Biasanya saya aman-aman saja. Tapi entah kenapa, hari itu ada yang tak biasa di sekitar lemari. Lalu tak lama kemudian, saya terduduk lemas dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin. Ada sesuatu yang menghantam ulu hati, hingga saya menggelosor di atas dipan. Semua orang jadi panik. Mereka menggotong saya ke Puskesmas, dan memaksa saya tetap membuka mata. “Jangan merem! Jangan merem…!” raung mereka. Saya sebenarnya ingin tertawa melihat kepanikan itu, namun badan saya terlalu lemah, tak sanggup untuk menggerakkan ujung bibir sekalipun.

Kejadian itu adalah awal mula rentetan kejadian selanjutnya yang sukar untuk dijelaskan. Yang puncaknya terjadi di tahun 2017, pagi hari di Florida. Ketika sekonyong-konyong ruangan jadi berbau apek, kemudian dipenuhi asap, lantas sang raja jin muncul membawa selembar surat perjanjian yang terbuat dari api. Ia memaksa saya menandatanganinya. Kata dia, saya sudah setuju untuk jadi pengikutnya sejak lama.

Tentu saja saya menolak mentah-mentah. Selama ini saya selalu menghindar dari mistik. Jadi tak mungkin bikin janji dengannya. Kenal saja enggak, gimana mau janjian? Dan akhirnya ketemulah biangnya. Ya, dia ternyata sudah mengincar saya sejak kecil, mengintai dengan sabar, kemudian memberi “stempel” di badan saya.

Harus diakui, taktiknya lumayan rapi. Setelah memberi stempel, ia dan timnya bekerja dengan cermat untuk merusak hati dan pikiran orang-orang di sekitar calon korbannya. Menabur dengki, ambisi, curiga, dan membisikkan iming-iming untuk menjadi sehebat Buyut. Melalui merekalah, rencananya untuk mengklaim manusia bisa berjalan. Ia dan timnya merusak mindset manusia yang semula positif, menjadi negatif bukan main, yang nanti ujungnya cuma berupa penderitaan, kemiskinan, rendah diri, kegagalan, permusuhan, EQ rendah, kemarahan, dan lupa pada Tuhan.

Itulah mistik. Meskipun awalnya putih, tak ada jaminan bahwa yang datang seterusnya juga putih. Ini dunia yang tricky, penuh muslihat dan penuh duka cita. The underground world. Hanya orang yang memang diberi bakat khusus atau misi tertentu yang bisa selamat. Seperti Wali Songo, itu ada misi. Wajar jika mereka diberi kelebihan kemampuan dan karomah oleh Tuhan. Selebihnya, jika cuma orang biasa, sebaiknya pergi jauh-jauh. Apalagi yang berambisi untuk sakti atau kaya melalui mistik. Itu sudah jelas akan dimangsa mentah-mentah oleh kekuatan gelap.

Kejadian itu sangat traumatis. Saya jadi kecewa dan sakit hati, dan salah satu sasaran kemarahan saya adalah Buyut. Saya menganggap beliau tak cukup berbuat sesuatu untuk melindungi keturunannya dari marabahaya. Sampai kemudian saya belajar, bahwa bagaimanapun, beliau hanya manusia. Sudah kodratnya untuk tak sempurna. Mau sehebat apa bakatnya, setinggi apapun kemampuannya, tetap saja tak akan bisa merampungkan semua masalah dan tak bisa mengelak dari cobaan juga.

Salah satu yang membuat hati saya melunak adalah ketika guru spiritual saya bercerita. Bahwa di alam sana, setiap ruh yang baik akan memandangi segenap anak keturunannya, dan memanjatkan doa. Meminta kepada Tuhan agar keturunannya selamat dari marabahaya.

“Cobaanmu memang berat. Tapi jika engkau selamat dan ada yang menolongmu, itu artinya ada yang berdoa untukmu. Entah orangtua, entah leluhurmu yang lain. Mereka tidak melupakanmu,” ujarnya.

Ketika menulis ini, selapis dinding kaca di depan saya luruh. Saya bisa mengerti, mengapa Buyut baru datang sekarang. Mungkin karena saat ini, saya sudah jauh lebih siap untuk menerima dan berdamai dengan apapun yang telah terjadi di masa lalu. Dan saya pikir, memang lebih baik demikian. Sebab jika sudah bersedia berdamai dengan masa lalu, maka apapun bentuk masa lalu itu, tak akan lagi mempengaruhi kebahagiaan kita sekarang.