I am Happy to be Myself

Posted on Mei 17, 2020

0


Untitled designLama tidak nongol di medsos, justru pada saat sedang bahagia banget. Aneh, ya? Padahal biasanya, ada kejadian yang bikin hepi sedikit saja, jari udah gatel aja pengen nulis dan klik “publish”, lalu pesta dengan teman-teman, membalas setiap komen dan diskusi di japri. Tapi itulah yang terjadi. I am really happy, dan perasaan itu begitu lekat, meskipun tanpa diumumkan di medsos atau bercerita pada teman. Pendeknya, it feels so great! (ngucapinnya gini: dua tangan dikepal, wajah menghadap langit, mata terpejam, dan berteriak dengan suara melengking sempurna, “It feels soooo greaatttt….!!”, sampai tetangga nyahut, “Diem lo…!!”)

Sebenarnya ini berawal dari hal yang sederhana banget. Yakni, tanpa sengaja, suatu malam saya bergumam pada diri sendiri, “Ya, gimana baiknya menurut Tuhan saja. Jalan mana yang lebih lancar, dan lebih disukai Tuhan untuk aku kerjakan. Aku mau itu aja, deh.”

Eh, setelah itu, rasanya hidup seperti air mengalir saja. Proyek baru muncul, kelas selesai dengan nilai sempurna, jatah stimulus datang tepat waktu (hehehe…), dan herannya, saya tidak banyak cingcong lagi. Langsung menerima semuanya dengan suka-cita, tanpa banyak membahas ini itu, diskusi, atau berandai-andai.

Saya rasa, inilah titik balik itu. Selama tiga tahun terakhir, saya mengalami banyak peristiwa, yang bikin saya jadi mempertanyakan, apa sebenarnya yang dimaui Tuhan untuk saya kerjakan melalui sejumlah peristiwa itu. Saya yakin, apapun yang terjadi pada seseorang (entah itu dianggap baik atau buruk), pasti ada maksudnya. Terutama jika itu terkait dengan pengalaman spiritual.

Ini pernah saya diskusikan juga dengan teman sesama pelaku spiritual. Ia lebih dulu mengalami titik balik beberapa tahun lalu, namun masih ada sisa pertanyaan di benaknya. Begitu usai diskusi sebentar dengan saya, ia seperti mendapatkan momen “Eureka” untuk kedua kalinya. Saya bisa merasakan dari kalimat maupun postingannya. Ia jadi lebih ekspresif, dan lebih jujur dalam menampakkan diri serta kapasitas keahliannya.

Saya suka banget dengan pancaran energi barunya, dan bergumam, “Wah, kapan ya giliranku mendapatkan momen seperti itu?”

Pasalnya, saya memang sedang mencari-cari bentuk yang pas untuk menyatukan segala macam pengalaman spiritual yang relatif tak lazim di mata orang lain itu, dengan apa yang sudah saya lakukan sebelumnya sebagai penulis dan coach. Berulangkali saya mencoba peran baru, dan mengekspresikannya di medsos. Saya memperhatikan bagaimana reaksi audiens saya, dan terutama sekali memperhatikan bagaimana reaksi dari pikiran, hati, dan tubuh saya sendiri ketika menjalani peran tersebut.

Saya juga banyak mendekat dan mengamati orang-orang yang berada di jalur itu. Semisal orang-orang indigo, kyai, penyembuh, pemain tarot, cenayang, dan sejenisnya. Saya ingin tahu, apa sebenarnya yang mereka alami dan rasakan, ketika menempuh jalan tersebut. Saya juga ingin tahu, apakah mereka sebenarnya bahagia dengan apa yang mereka lakukan.

Banyak kejadian di luar dugaan yang saya alami, saat bersama mereka. Orang-orang seperti itu punya stok energi di atas rata-rata, dan kalau berdekatan dengan mereka, kita akan kena imbasnya. Istilah saya, kelunturan.

Imbasnya tak selalu menyenangkan, karena saya jadi ikut merasakan sebagian dari penglihatan batin mereka. Pernah saya terkejut di tengah malam karena melihat tanah longsor, hewan-hewan liar yang mengungsi, dan orang-orang yang tenggelam. Pernah juga telinga saya menangkap dengan jelas suara beberapa orang dari tempat yang jauh. Dan yang paling sering terjadi, adalah merasakan emosi dalam intensitas yang lebih kuat dari biasanya.

Bentuk-bentuk emosi itu hadir dengan terbuka. Nafsu, iri, marah, suka cita, bahagia, sedih, dan sebagainya. Semua muncul dalam wujud aslinya. Raw, honest, powerful, and truly exist. Sampai lintang-pukang saya dibuatnya, karena tak selalu bisa mengendalikan itu. Yang sebelumnya bisa disembunyikan lewat kontrol diri yang terlatih bertahun-tahun, tiba-tiba keluar seperti air bah. Misalnya saya marah pada seseorang, itu meluncur begitu saja. Meskipun di belakang hari saya tahu bahwa orang itu punya niat tak baik, dan itu membangkitkan emosi marah dalam diri saya, namun tetap saja rasanya aneh dan bisa mengganggu suasana.

Di saat itu saya sadar, inilah resiko yang harus dihadapi jika memilih jalan ini. Harganya mahal sekali. Mereka yang memilihnya, harus menempuh banyak ujian, untuk membuat setiap hal dalam diri mereka terkendali di jalan Tuhan. Jika hatinya tidak bersih, atau salah langkah sedikit saja, yang menemani mereka akan berganti. Bukan lagi berasal dari sisi spiritual yang murni, melainkan dari angkara murka yang banyak menipu dan memperdaya. Banyak yang akhirnya tergiring oleh ambisinya sendiri, dan justru menimbulkan banyak kerusakan dan menyesatkan sesamanya.

Berbakat saja tak cukup. Apalagi cuma sekedar mendapat pengalaman spiritual. Ini jalan yang hanya aman dilalui oleh orang-orang tertentu saja, yang memang mendapat mandat untuk itu.

Selain itu, tak semua orang bahagia menjalaninya. Sebab, mereka berhadapan dengan banyak duka-cita. Jangan dikira bahwa dengan bisa membaca pikiran orang lain, mereka akan senang. Justru tidak. Sebab, kelindan isi pikiran orang lain itu tidak selalu positif. Lebih banyak negatifnya, dan itulah yang menimbulkan rasa duka. Kalau tidak kuat, bisa depresi sendiri.

Saya juga demikian ketika itu. Padahal cuma kena imbas ya, bukan terjun langsung sebagai pelaku. Stressnya bukan main, dan kerap membuat batin serta badan letih. Dan mungkin karena begitu lelahnya, tanpa sadar saya jadi pasrah. Menyerahkan jalan selanjutnya ke Tuhan saja. Meminta bantuanNya untuk mengembalikan saya ke arah yang membuat saya bahagia.

Tak lama kemudian, momen berbalik. Tepat beberapa hari menjelang Ramadhan, hati saya terasa plong. Semua gerak saya kembali ke jalur semula, yakni menulis dan coaching. Saya bersuka cita saat menggarap sebuah buku, dan merasa ringan ketika berkomunikasi dengan orang lain. Pikiran kembali fokus, dan pekerjaan bisa selesai dengan lancar.

Begitulah, saya akhirnya menyadari, bahwa jalan itu bukan mandat yang diberikan ke saya. Mandat hidup saya adalah lewat jalur menulis dan coaching, bukan untuk menjadi cenayang, penyembuh, atau profesi lain yang sejenis.

Tiga tahun menjelajahi dunia baru ini untuk mencari jawaban, dan sudah saya temukan jawaban yang pasti. Saya bahagia dengan pilihan profesi semula. Dan yang terpenting, saya bahagia menjadi diri sendiri.

******