Mereka yang Kehilangan Diri Itu

Posted on April 17, 2020

0


getty_495780775_2000133320009280381_333091Saya mendapat masalah serius, yang berawal dari kesalahan sendiri. Yakni, karena saya mengharapkan orang lain bisa berpikir seperti halnya saya. Bisa mengerti apa yang saya maksud, saya tuju, dan bisa mengubah diri mereka sesuai harapan, dengan cara yang saya maui.

Well, it was a big, big mistake. 

Tidak saja saya gagal bikin mereka berubah. Yang ada malah, saya nyaris celaka dibuatnya, hanya karena mereka tersinggung dengan ucapan saya. Tidak dipikirkan apakah ucapan itu benar atau salah, yang jelas, karena saya mengkritik kebiasaan mereka yang suka ke dukun, mereka jadi sakit hati dan balik menyerang. Mereka menganggap itu penghinaan terhadap pribadi, dan karenanya, mereka menganggap saya pantas dihajar. Tentu saja, lagi-lagi ya pakai dukun. Karena itulah satu-satunya cara yang mereka kenal, untuk urusan apapun. Ingin rejeki lancar, ke dukun. Ingin karir sukses, ke dukun. Ingin punya pasangan, ke dukun. Ingin meluluhkan hati partner bisnis atau mertua, ke dukun. Keseleo, batuk, pilek, susah bunting, dan lain-lain problem kesehatan, ke dukun dulu.

Inilah gap besar itu. Jurang yang teramat dalam, yang memisahkan saya dengan mereka. Sekian lama saya tumbuh dan besar dalam cara berpikir yang logis, selalu berusaha mencari alasan di balik setiap hal, berusaha mencari jalan keluar yang bisa diterima oleh akal, juga bisa dilakukan dalam kapasitas sebagai manusia. Sementara mereka, memilih tetap hidup dalam kepercayaan lama, yang mengandalkan bantuan dari dimensi lain, sampai ke level yang menurut saya sudah memandulkan diri sendiri. Membuat mereka buntu kemampuan berpikirnya, dan hilang kepercayaan diri.

Orang yang kehilangan kepercayaan diri, ya seperti itu contohnya. Menyerahkan segala keputusan dan usaha ke tangan orang lain (dalam hal ini: dukun), dan takut untuk mempercayai dirinya sendiri. Padahal banyak hal yang sebetulnya bisa mereka lakukan tanpa selalu minta validasi dan dukungan batin dari dukun. Tanpa perlu bawa-bawa jimat atau merapal mantra setiap kali menghadapi tantangan hidup.

Bukannya saya tak percaya pada hal-hal gaib. Dengan seabreg pengalaman batin yang saya lalui, mustahil saya tak percaya. Apalagi saya melihatnya sendiri, bahkan pernah jatuh cinta juga pada makhluk beda dimensi. Tetapi dalam hal ini, saya memilih untuk terlebih dahulu exercise diri sendiri. Menggunakan segenap yang saya bisa, saya tahu, saya pelajari, saya baca, dan saya bikin eksperimen, untuk mengatasi masalah. Barulah jika sudah tak ada jalan keluar lain, saya minta second opinion ke yang ngerti soal dimensi lain. Itu pun bukan dukun yang saya tanyai, melainkan kyai dan orang yang saya kenal betul otoritasnya.

Selama ini, jika saya meminta second opinion seperti itu, hasilnya sebenarnya serupa. Ada hal-hal yang luput dari ketelitian saya saat mencari akar masalah, ada yang sama. Penyelesaiannya juga sebetulnya sama, yakni dengan cara memperkuat sisi spiritual melalui ibadah dan kedekatan dengan Tuhan, memperbaiki niat dan pola pikir supaya positif (mindset), memperbaiki kualitas diri (skill, strategi hidup, kebiasaan), dan memperbaiki kualitas komunikasi interpersonal (misalnya dengan memilih kalimat yang tepat, memperhatikan latar belakang orang yang diajak bicara, mengerti kapan bisa terus dan kapan harus memisahkan diri, dan sebagainya).

Nah, kalau dalam banyak hal sebetulnya solusinya serupa, bukankah lebih baik memberdayakan diri sendiri terlebih dahulu? Percaya bahwa hasil tak pernah mengingkari usaha. Percaya bahwa untuk bisa sukses, kita perlu menerapkan pola pikir serupa dengan orang yang sukses. Percaya bahwa segala permasalahan sebetulnya bisa diatasi dengan cara komunikasi dan niat yang baik. Tak perlu dikit-dikit datang ke dukun minta jimat atau sejenisnya. Masa cuma untuk menarik simpati calon mertua saja, harus ke dukun dan bawa buntelan isi kemenyan? Padahal dengan perilaku santun saja, pintar mendengarkan, pintar bawa diri, tampil bersih dan rapi, murah senyum, dan menunjukkan kemampuan untuk menghargai calon mertua, itu sudah bisa meluluhkan hati calon mertua yang sesadis apapun.

Tapi ya begitulah. What is logical to me, can be illogical to others. Saya sadar, bahwa saya tak bisa memaksa orang lain untuk mengadopsi cara berpikir yang serupa. Ini soal kepercayaan, soal belief, yang bisa bikin orang jadi keras kepala, bahkan mata gelap. Percuma berusaha untuk menyadarkan orang lain, jika yang bersangkutan tak punya inisiatif atau kehendak sendiri.

Akhirnya, saya memilih menuruti saran kyai saya saja. Bahwa tak perlu berdekatan dengan yang seperti itu, nggak perlu gaul dengan mereka, tak perlu menjalin komunikasi, dan tak perlu menjalin koneksi lain dalam bentuk apapun, termasuk mengirim doa. Sebab dalam Islam, jika orang sudah dalam taraf demikian, itu mutlak urusannya dengan Tuhan. Karena yang bisa mengubah hati seseorang, ya cuma Tuhan. Bukan manusia. Kalau saya ngotot ambil alih apa yang sebenarnya jadi wilayah Tuhan, yang ada ya saya pasti babak belur sendiri. Wong urusannya Tuhan, kok mau diambil alih. Bisa-bisa nanti malah dibiarkan kena masalah terus dan tidak dibantu.

Saya juga memilih untuk mengakui bahwa ini juga kesalahan saya sendiri. Terutama salah dalam hal memaksa orang lain untuk mengubah kepercayaan. Juga salah dalam hal memilih cara berkomunikasi. Okay, akhirnya saya menutup kasus ini dengan menerapkan cara baru, sesuai dengan saran kyai saya. No more trying to change others. 

Yesterday I was so clever, so I wanted to change the world. Today I am wise, so I am changing myself (quote from Rumi).  

Ditandai: ,