Eksploitasi Dunia Supernatural

Posted on September 1, 2019

0


1B23D146-D40B-490E-8686-DC671BF65849Tadi saya sempet tebak-tebakan dengan teman, di mana lokasi asli kisah viral KKN itu, wkwkwkwk…. ia kasih opsi: Banyuwangi atau Bondowoso? Saya pilih yang pertama.

Seperti halnya banyak tempat di Indonesia, Jawa Timur juga kaya dengan khasanah cerita mistis. Pengaruh tradisi Hindu-Budha masih banyak terlihat, misalnya dengan memberi bunga di tempat-tempat tertentu, bikin sesajen, bertapa, dll. Banyak cerita bertema gaib, dan rata-rata menakutkan.

Nggak perlu belajar ilmu kesaktian atau menjalani tapa brata. Melalui cerita-cerita yang umum didengar saja, sebenarnya bisa dirasakan secara garis besar seperti apa karakteristik penduduk maya yang tinggal di daerah tertentu. Umumnya tidak jauh beda dengan manusianya, terutama dalam hal perangai atau kepribadian. Like attracts like, birds of the same feather… itu berlaku di manapun.

Ada genre khusus dalam fiksi, yang mengeksploitasi kisah-kisah penduduk maya ini. Namanya fiksi supernatural. Macam-macam kemasannya. Ada yang dibungkus murni horror, artinya dari awal sampai akhir tujuannya untuk bikin jantung audiense copot. Ada yang dikemas dengan romance, sci-fi, thriller, fantasi, superhero, aliens, psikologi, dan lain-lain.

Saya nggak demen nonton film horror atau baca fiksi jenis horror. Kesukaan saya lebih ke soal psikologi. Mendengar cerita kehidupan pribadi, duka-nestapa, romansa, perjuangan untuk bangkit, konflik salah-benar yang abadi, dan sisi spiritual dengan Tuhan… itu lebih menarik ketimbang soal wujud mereka yang seram atau kesaktiannya.

Bagi saya, wujud hanyalah soal pantulan kepribadian dan persepsi. Ia bukan eksistensi terdalam. Sama seperti manusia. Bungkus bisa macam-macam. Ada yang tampan, cantik, biasa, cacat, tinggi, kurus, gemuk, dan sebagainya. Setiap wujud punya persepsi. Yang tampan atau cantik, tentu lebih dekat dengan persepsi positif. Tetapi tentu saja, kita tahu tidak demikian kenyataannya. Yang sempurna, belum tentu benar atau baik. Sebaliknya, yang jelek atau cacat, belum tentu buruk di dalamnya.

Ini yang bikin saya nggak demen tema horror maupun tema dukun-dukunan. Sebab, yang dieksploitasi hanya permukaannya, yang sangat mentah dan tak menyentuh esensi sebenarnya.

Padahal, kalau kita mau menggali sisi personal atau kisah hidupnya, itu justru sangat kaya, menyentuh, dan sangat manusiawi. Kalau saya bikin cerita tentang Ratu Kidul contohnya, pasti yang akan saya aduk-aduk dalam wawancara adalah sisi manusiawi dari si ratu. Bukan melulu tentang kecantikannya, pasukan ular dan naganya, suara gamelan di sela-sela deburan ombak, atau korban manusia yang diambilnya. Itu semua cuma soal pamer kekuasaan atau pamer skill. Sama seperti manusia yang sering memamerkan titel atau posisi sosialnya untuk menunjukkan ketinggian derajatnya, atau untuk menggertak. Semua artifisial, hanya di permukaan, bukan di kedalaman eksistensi sebagai makhluk dengan kepribadian dan pengalaman hidup yang unik.

Secara esensi, kesaktian penduduk maya itu sebenarnya sama saja dengan bakat, skill, atau jalur pendidikan khusus pada manusia. Mereka diberi kemampuan tertentu agar bisa survive, berkarir, menjalankan tugas, dan jadi bagian dari brand diri untuk dikenali. Namun dalam khasanah fiksi horror, yang ini sering dieksploitasi secara mentah. Dibikin hanya untuk menakut-nakuti atau bikin orang ndlahom terkesima. Padahal kalau dikaitkan dengan sisi lain, mengapa mereka diberi kemampuan tertentu, hasilnya akan lebih menarik. Menurut saya, loh. Hehehehe….

Satu lagi yang sering dilupakan orang ketika mengeksploitasi dunia supernatural ini, adalah fungsi penduduk maya itu dalam menjaga keseimbangan alam atau ekosistem. Ini konten yang penting dan menarik. Para penjaga gunung, roh-roh hutan, penghuni batu besar, sungai, danau, laut, bahkan situs kuno, semua punya fungsi dalam menjaga keseimbangan di sana. Kalau ada yang merusak, tentu mereka akan marah dan balik menyerang.

Ketika membaca sebagian komen kisah KKN itu (saya cuma baca bagian awalnya saja), ada adegan di mana dua tokoh melakukan pelanggaran susila di tempat keramat, dan sebagai akibatnya, ada jiwa yang harus melayang. Itu menarik bagi saya, karena mengingatkan akan unsur moral yang masih dipegang teguh oleh para makhluk kuno itu. Kelihatan bagaimana defensifnya mereka ketika wilayahnya dijadikan arena mesum.

Masih ingat dengan Gunung Rinjani? Ketika ramai di lini medsos yang mencemooh peraturan ala syari’ah itu, yang mengharuskan perbedaan jalur antara pengunjung lelaki dan perempuan?

Sejujurnya, saya lebih setuju dengan itu. Bukan demi menyenangkan sekelompok orang yang gemar mengeksploitasi kata “syari’ah”, melainkan untuk menghormati penduduk maya yang tinggal di gunung itu. Sebab, bukan sekali saja mereka mengekspresikan keluhan dan kekecewaan pada pendaki yang suka buang sampah sembarangan, dan ngeseks sembarangan. Jauh-jauh datang ke gunung cuma buat ngeseks dan nyampah di rumah mereka? Get a room, please! Balik dulu ke hotel nape.

Dari mana saya tahu mereka kecewa dan marah? Dari banyak kasus kesurupan yang mengatasnamakan deity utama di gunung itu, yakni Dewi Anjani. Ketika menonton sejumlah video kasus kesurupan, saya mengerti konten protesnya. Mereka lelah dan marah terhadap perilaku pengunjung yang miskin etika dan tak peduli dengan sekitarnya.

Sayangnya, lagi-lagi yang dieksploitasi adalah unsur sensasi yang dangkal dan mentah. Kasus kesurupan direkam dengan imbuhan musik mencekam dan judul bombastis. Tidak ada yang bikin konten sehat dan bermakna lebih dari sekedar seram-seraman atau gaib-gaiban.

Padahal, jika mau membaca dan menggali lebih dari itu, kita bisa kaya dengan pengertian dan pemahaman. Kita akan tahu mengapa harus menerapkan etika kepada lingkungan sekitar, meskipun tak diceramahi soal dosa-pahala atau aneka ancaman lainnya. Tak perlu punya kesaktian atau belajar ilmu kebatinan. Cukup dayagunakan telinga, mata, hati, dan nalar.

Tapi ya, begitulah. Trend masa digital memang lebih banyak berfokus pada kepuasan singkat melalui tema-tema dangkal.