Kontemplasi Alam 2014

Posted on Desember 13, 2014

4


springRutinitas utama akhir tahun, yakni berkontemplasi. Menyimak ulang lagi apa yang sudah dilakukan sepanjang tahun ini. Tapi kali ini, saya tidak hendak menuliskan rincian goal di blog seperti sebelumnya, melainkan berbagi kontemplasi tentang sejumlah kejadian di alam.

Sebelum memasuki tahun 2014, ada artikel yang saya baca tentang efek Bumi yang makin memanas. Prediksinya dilakukan dengan membandingkan temperatur dan tingkat kekerasan yang terjadi. Grafiknya konstan. Kekerasan, termasuk perang di beberapa kawasan di dunia, terjadi seiring dengan peningkatan temperatur udara. Semakin panas, semakin tinggi kemungkinan kekerasan meledak. Sebaliknya, di wilayah yang temperaturnya lebih rendah, sekalipun ada kekerasan, namun tingkatnya lebih kecil.

Artikel itu ditutup dengan peringatan, bahwa kemungkinan di tahun 2014 akan lebih banyak terjadi kekerasan, bahkan perang besar, karena suhu udara menunjukkan grafik meningkat lagi. And that’s what we’ve got. The mass killings based on religion. Lebih brutal dari yang disangka semula. Semakin banyak peluru mendesing. Semakin banyak tempat terbakar. Semakin banyak minyak bumi digunakan untuk mengoperasikan beragam mesin dan pesawat tempur. Semakin banyak oksigen yang digantikan dengan CO2.

Sekitar Agustus-September, berita tentang danau Aral Sea sempat menonjol. Ia adalah satu danau terbesar di dunia yang letaknya antara Kazakhstan dan Uzbekistan, dan hampir total mengering. Dari air yang menggenangi cekungan hingga seluas 68.000 km, kini tinggal menunggu waktu saja sebelum 100 persen airnya habis. Sama seperti peningkatan suhu udara, penyusutan air besar-besaran itu juga dilakukan oleh manusia. Completely by us, by humans. Bukan oleh hewan, tumbuhan liar. Juga bukan oleh Tuhan, saya kira.

Beberapa kali Polar Vortex melanda daratan benua Amerika Utara. Gumpalan udara dingin maha besar dari Kutub, yang bergerak pindah mengalir ke kawasan benua Amerika, dan mempengaruhi perubahan suhu di kawasan tersebut, hingga Asia. Sementara wilayah yang tadinya dingin seperti Siberia, justru menghangat. Perpindahan gelombang dingin ini, salah satu penyebabnya adalah karena lapisan es di Kutub semakin menipis, dan semakin besar bagian laut yang esnya mencair. Lagi-lagi, inilah salah satu kreasi kita. Dampak dari pemanasan global, akibat kerakusan manusia dalam menggunakan energi dan merusak sumber daya alam di Bumi.

Seperti halnya banyak orang segenerasi dan selingkungan, saya dibesarkan dengan kisah tentang tanda-tanda kiamat. Beberapa tandanya adalah: suhu udara semakin meningkat. Air “terangkat ke langit” hingga bumi mengering. Pembunuhan, kekerasan, kekejaman lain tak tertahankan.

Inilah sebagian wajah kiamat yang ternyata kita ciptakan sendiri. Jalan menuju kerusakan, yang tanpa ramalan dari teks-teks suci pun, secara logika sudah bisa kita pahami. Alam selalu berjalan dengan prinsip keseimbangan. Jika salah satu tak seimbang, maka hasilnya adalah chaos, ketidakteraturan, kesemrawutan. Kita terhubung dengan jaring-jaring semesta. Dengan tanah, air, udara, tumbuhan, hewan, sesama manusia, bahkan dengan makhluk yang ditakdirkan tak kasat mata. Salah satu saja jaringnya terputus, maka keseimbangan itu akan terganggu.

Alam tentu akan berusaha memperbaikinya, sesuai dengan sunnatullah. Namun proses itu bisa menyakitkan, sebab bisa menelan kita sendiri, dan bisa pula gagal jika tak ada itikad baik dari manusia untuk turut ambil peran dan menerapkan prinsip adil pada semesta. Adil dalam relasi dengan setiap unsur dalam semesta. Dalam hubungan antar manusia, dengan alam, hewan dan tumbuhan, air, udara. Semuanya.

Adil mensyaratkan sikap seimbang dan amanah. Tidak berlebihan dalam melakukan sesuatu sesuatu, juga tidak tamak dalam mengambil sesuatu, terutama dari alam. Unsur penjagaan dilakukan dengan tujuan agar sumber daya tertentu tak lenyap dari muka Bumi. Itu sebabnya banyak kearifan lokal mensyaratkan, jangan mengambil ikan yang terlalu kecil. Jangan membunuh hewan liar yang punya anak. Pisahkan biji yang sehat, dan sebarkan sebanyak mungkin pada lahan. Tunggu hingga pohon cukup berumur, agar ada kesempatan bagi tanaman muda untuk tumbuh menggantikannya. Tanamlah pepohonan buah di sekitar pekarangan rumah. Agar kelak bisa dipanen oleh anak cucu, dan tersedia rumah serta makanan juga bagi burung, serangga, dan hewan lain.

Kitalah sang khalifah itu, yang diberi tugas untuk menjaga. Seimbang tidaknya bumi tempat kita berpijak, ada di tangan kita. Alam hanya berjalan sebatas peran yang diberikan pada mereka. Hanya manusia yang diberi kesanggupan untuk memilih: memelihara, atau meluluhlantakkannya.