Memberikan Alternatif

Posted on Juli 13, 2014

0


1ball_choiceSatu cara yang sering ditempuh orang untuk menyatakan sikap adalah aksi boikot. Ini cara yang sudah lazim. Sayangnya, tidak banyak yang memberikan alternatif jalan keluarnya. Contoh paling mutakhir adalah boikot terhadap produk yang diduga buatan Israel. Setiap tahun, setiap kali terjadi pelanggaran kemanusiaan oleh Israel, setiap kali itu pula seruan boikot produk lantang terdengar. Tetapi apakah itu sudah mencapai hasil yang diharapkan? Saya berani bertaruh, jawabannya adalah BELUM.

Boikot tidak akan efektif selama belum ada pengganti. Orang tidak mungkin diharapkan terus-menerus puasa, bukan? Semisal kita menyerukan boikot produk perusahaan A, sementara belum ada produk sejenis berkualitas serupa di pasaran. Cepat atau lambat, orang pasti akan kembali memakai produk yang diboikot itu, sebab mereka tidak bisa menunggu terlalu lama.

Kita hidup dalam aturan pasar yang lazim. Siapa yang mampu menyediakan produk berkualitas, ia akan membentuk pengikutnya sendiri. Siapa yang mampu menyentuh emosi konsumen yang paling dasar, maka ia bisa mendapatkan pelanggan yang loyal kepadanya. Keakraban terhadap sisi emosional dan kepercayaan terhadap kualitas inilah yang banyak menentukan bertahan atau tidaknya sebuah produk dalam pasar global.

Back to topic ke soal boikot. Iseng-iseng saya mendata semua produk yang ada di rumah. Surprise, karena ternyata tidak banyak produk dalam list itu yang saya pakai. Hanya ada beberapa, dan itu pun karena alasan kecocokan. Semisal produk sabun bayi Johnson&Johnson, itu masih terpakai karena lebih cocok dengan anak. Ada produk lain yang dicoba, dia tidak suka. Padahal deskripsi bahannya lebih bagus. Mungkin karena sejak bayi dia terbiasa dengan aroma produk J&J itu. Khusus parfum, saya sudah fanatik dengan Armani, kecil kemungkinannya untuk ganti merk lain. Ingatlah bahwa brand itu dibangun untuk mengikat sisi emosional konsumennya. Kalau sudah fanatik, udah susah ke lain hati deh, hehehehe.

Mengapa tidak banyak produk Israel yang saya pakai, penyebabnya bukan lantaran benci atau anti. Tetapi karena adanya ALTERNATIF. Produk pasta dengan brand Buitoni, misalnya. Bisa dihitung dengan jari, hanya satu dua kali saya beli. Sebab, produk makanan asli Italia berlimpah. Penduduk keturunan imigran Italia banyak di sini, dan dengan sendirinya membentuk pangsa pasar khusus. Banyak pilihan yang otentik, dengan sendirinya konsumen punya alternatif. Mungkin merk impor dari Italia atau produk lokal tidak punya jangkauan pasar seluas Buitoni. Tetapi mereka menyediakan produk dengan kualitas setara, bahkan lebih baik.

Di sini orang gandrung mengkampanyekan produk lokal, organik, dan bebas hormon. Ini juga sangat membantu mengalihkan perhatian dari produk impor. Jeruk, kurma, couscous, ada yang datang dari Israel. Tapi jumlahnya tidak banyak. Produk lokal justru membanjir datang dari pertanian setempat, atau dari state lain. Harga berimbang, lebih segar, dan lebih enak. Konsumen yang punya preferensi seperti ini, sudah pasti condong memilih produk dalam negeri yang lebih bagus. Kalau ada produk sendiri yang lebih enak dan murah, kenapa harus beli produk serupa yang lebih mahal?

Jadi, singkatnya, untuk urusan boikot-memboikot ini, sah-sah saja. Tiap orang punya “cause” masing-masing. Saya punya “cause” dari sisi promosi produk lokal dan organik, yang lain punya “cause” dari segi pembelaan terhadap HAM, atau hak rakyat Palestina. Tetapi satu hal yang perlu dilakukan adalah, jangan lupa membuat dan mempromosikan alternatif yang lebih baik.

Ditandai: ,
Posted in: Motivation, Politics