I Love That Villain

Posted on Februari 11, 2012

0


Ada satu buku yang pernah saya baca kira-kira semasa kelas enam SD atau semasa awal SMP. Entah apa judul persisnya, saya sudah lupa. Tapi sepertinya itu karya sastra kuno, mungkin postkolonial. Isinya tentang seorang residen Belanda yang arogan dan keras kepala.

Dalam buku itu diceritakan bahwa si tuan Belanda itu begitu arogannya, hingga seluruh penduduk kota tepi pantai tempat dia menetap itu membencinya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan seluruh dukun dan tukang tenung pun turut membencinya dan sepakat untuk menyerang si residen itu dengan ilmu hitam. Teluh. Tenung. Santet.

Apa hasilnya? Ternyata seluruh ilmu hitam itu terpental sia-sia karena satu hal: residen Belanda itu atheis! Seluruh tenung tidak mempan terhadap orang yang tidak ber-Tuhan justru karena tidak ada sesuatu yang bisa diserang dari hati dan pikirannya. Dengan kata lain, dalam sebuah rumah kosong, apa yang bisa dicuri darinya?

Namun bukan soal tenung itu yang menarik perhatian saya, melainkan gambaran detil tentang sosok sang residen Belanda itu. Sang residen Belanda itu digambarkan demikian menawannya, sampai-sampai detilnya masih melekat erat di kepala sekalipun saya sudah lupa sama sekali bagaimana jalan ceritanya. Terutama di bagian ini:

Ketika seluruh dukun dan ahli sihir mengerahkan segenap kekuatan mereka hingga membuat langit gelap dan petir menyambar-nyambar, sang residen Belanda itu berdiri tegak di dermaga. Rambutnya berkibar tertiup angin yang ganas, dan dia memandang hempasan air laut yang hitam menggelora dengan dagu terangkat, tanpa ada setitikpun rasa takut di raut wajahnya.

Itu pertamakalinya saya jatuh cinta pada karakter villain atau antagonis dalam sebuah cerita. Karakter yang seharusnya menggiring orang untuk membencinya bukan main dan berpihak pada karakter hero atau protagonis, justru membuat pembaca kecil seperti saya terus mengingatnya hingga kini. I love that villain!

Karakter si residen itu termasuk dalam kategori lovable, artinya disukai pembaca dan tak terlupakan. Banyak contoh serupa ini, misalnya karakter John Milton dalam film The Devil’s Advocate yang dibintangi oleh Al Pacino. Aktingnya yang matang membuat sosok John Milton tampil begitu sempurna; menawan, licin, berbahaya, sekaligus menggoda. Saya lebih menyukai karakter John Milton daripada karakter Kevin Lomax yang diperankan oleh Keanu Reeves.

Contoh lainnya adalah karakter Sean Parker dalam film The Social Network yang diperankan oleh Justin Timberlake. Ia digambarkan sebagai sosok yang impulsif, kasar, kontroversial, oportunis, doyan pesta, dan segala macam atribut yang bisa membuat orang mengerutkan kening. Tapi dia juga adalah sosok yang super jenius, pintar membaca peluang, mampu membuat satu ide luar biasa menjadi sangat-sangat luar biasa. Siapa yang bisa benar-benar membenci karakter seperti ini? Apalagi kalau dia juga good looking.

Buatlah karakter dalam tulisanmu lovable, sekalipun itu antagonis – demikian saran yang pernah saya dengar dari seseorang. Karakter yang terlalu hitam putih dan klise cepat sekali membuat orang jenuh, dan membosankan. Penjahat berwajah buruk, ibu tiri yang kejam, pahlawan tanpa cela; semuanya adalah karakter yang klise. Mungkin untuk tahap tertentu, karakter seperti itu disukai. Namun untuk tataran selanjutnya, pembaca membutuhkan sesuatu yang bisa dikunyah lebih lanjut.