Setelah 11 Hari Restruktur Nama

Posted on Juli 9, 2015

0


1363968556_numerology-onlineBagiku, tidak terlalu sulit untuk menerima konsep ganti nama demi perubahan nasib, keberuntungan, atau kesehatan. Tradisi Jawa (dan sepertinya ini juga tradisi umum di Indonesia) mempercayai itu, dan bahkan ada upacara khusus bila seseorang hendak mengganti nama. Pamanku bilang, harus ada bubur lima warna. Sumber lain bilang, harus ada semacam tumpeng bancakan, dengan jenis lauk dan sayur-mayur tertentu.

Dalam tradisi agama samawi, juga ada anjuran untuk memberikan nama terbaik bagi anak, yang memiliki arti positif. Pemberian nama dihubungkan dengan doa, agar si anak termasuk dalam golongan insan terbaik. Kalau dalam masyarakat Muslim, sumber-sumber nama terbaik biasanya berasal dari nama Nabi, nama pahlawan Muslim, 99 nama Tuhan, juga nama-nama lain (biasanya dari bahasa Arab) yang berkonotasi positif.

Macam-macam tujuan orang mengganti nama. Ada yang demi keberuntungan dan kehidupan yang lebih baik. Ada yang tujuannya untuk melepaskan diri sama sekali dari masa lalu. Ada yang tujuannya untuk membentuk Brand tertentu. Ada juga yang sepertiku, ingin lebih punya kontrol terhadap hidup. Dengan sedikit bumbu obsesif atau perfeksionis, wkwkwkwkwk…. yang nggak bakalan bisa tenang kalau masih ada hal yang tidak sesuai standar.

Ini barangkali yang membuat konsep restruktur nama jadi menarik. Kemungkinan mengganti nama, yang sepenuhnya diserahkan ke tangan kita, menurut apa yang kita percayai. Bagiku, ini salah satu media yang membebaskan diri untuk berekspresi. Dan secara kebetulan, ini juga bukan hal asing dalam bidang Branding. Sejak awal, utak-atik nama sudah sering kulakukan, baik ketika melakukan riset ke komunitas tertentu, atau untuk membentuk Brand.

Sekarang, yang hendak kutulis di sini adalah pengalamanku setelah memakai nama baru hasil restruktur. Hari ini sudah menginjak hari ke-11. Teknik afirmasi sudah dilakukan, dan tinggal menyusul teknik lain yang hendak kucoba nanti.

Bagaimana hasilnya?

Hmm, secara umum, rasanya lebih lega. Mungkin ini karena pengaruh kebebasan memilih nama yang akhirnya bisa kulakukan. Kalau kita bisa mengatasi sebuah tantangan, tentunya lega, bukan?

Perasaan kedua, muncul semacam rasa aman. Ini mungkin karena sudah memastikan bahwa nama yang dipilih sudah bebas dari unsur-unsur negatif, seimbang dan harmonis, sesuai dengan prinsip yang kupercayai. Kesesuaian dengan kepercayaan (belief) ini penting. Meskipun bagi beberapa orang (termasuk suamiku) kedengarannya absurd, tapi bagi mereka yang memiliki keyakinan tertentu, akan lebih nyaman jika apa yang mereka lakukan sesuai dengan pakem keyakinannya.

Yang ketiga, hmm, soal penghasilan. Yang ini aku belum berani bicara banyak. Baru 11 hari. Terlalu dini untuk itu, dan masih harus melihat perkembangannya hingga tiga bulan nanti, apakah memang berdampak pada peningkatan bisnis atau tidak. Meskipun dalam bulan ini, alhamdulillah job branding dan ghostwriting lumayan meningkat dibanding sebelumnya, serta ada pertemuan dengan orang-orang baru yang menarik (yang berbakat, berprestasi, berpembawaan positif, expert, dan lain-lain).

Keempat, yang ini juga aku belum seberapa yakin. Tapi rasa-rasanya, ada yang berubah dalam interaksi dengan keluarga. Suami nampaknya lebih menaruh perhatian, ecieeee….. Well, dia pembawaannya memang perhatian dengan keluarga, sejak dulu. Tapi intensitasnya terasa sedikit meningkat. Note: Ini subjektif, ya. Karena ukurannya adalah perasaan diri sendiri. Soal validitas, tentu ukurannya juga personal.

Kelima, ada perubahan perilaku. Selama beberapa hari ini, ada sejumlah perilaku negatif yang kadarnya jauh berkurang, atau bisa direm. Yang ini tidak perlu ditulis panjang lebar di sini, hehehehe…. yang jelas, ada perubahan. Mungkin penyebabnya adalah, karena secara tidak sadar, kita menyesuaikan perilaku dengan “harapan” yang ada dalam nama baru tersebut. Jika makna utamanya adalah “Keseimbangan”, maka secara tidak langsung, kita akan menyesuaikan diri agar setiap tindakan bisa dimaknai sebagai “Seimbang”. Misalnya, yang semula suka makan berlemak, sekarang intensitasnya berkurang. Ada semacam rasa “emoh” yang muncul ketika melihat makanan berlemak tinggi.
(Note: Oke deh… aku share dua perilaku yang berubah, hehehehe…. supaya tidak penasaran. Yang pertama, impulsive eating. Itu kebiasaan lari ke makanan setiap kali sedang stress atau dipepet deadline. Sekarang itu sudah jauh berkurang. Tiap kali lihat makanan, meskipun lapar atau stress, tidak langsung comot dan makan. Yang kedua, kebiasaan boros. Ini juga entah kenapa, banyak berkurang. Sampai heran juga, tanggal segini masih ada duit di dompet?? Tumben! Hehehehe…..)

Dari sejumlah efek positif tadi, ada satu efek yang sedang dalam observasi. Yakni dampak dari skor nama yang tertinggi. Ini masih percobaan. Media percobaannya sedang kupersiapkan, hehehehe…. This is so exciting! Nantikan updatenya dalam jangka waktu tiga bulan mendatang.