Nama Asli, Nama Pena, atau Nama Alay?

Posted on November 27, 2013

4


Nama 1adalah identitas inti bagi setiap orang. Kita dikenal melalui nama, dan bisa dibedakan dengan orang lain karena faktor nama juga. Nama adalah brand, identitas personal, sekaligus aset.

Bagi seorang penulis, sudah jamak menggunakan nama pena. Entah itu dengan pertimbangan komersil, atau pertimbangan membangun imej. Kadangkala pasar mengharuskan kita mengemas naskah secara keseluruhan. Naskah novel ala Korea atau Jepang misalnya, akan lebih komersil jika pakai nama yang ke-Korea-Koreaan atau ke-Jepang-Jepangan. Termasuk nama pena saya, Julie, itu berasal dari ide penerbit agar naskah lebih koheren kemasannya.

Tentu saja itu tidak berlaku global. Sebab ada juga penulis yang tetap pakai nama asli saat menulis novel ala Korea, dan tetap laris manis. Namun secara umum, pada prinsipnya, penggunaan nama alias atau nama pena sudah lazim dilakukan oleh penulis di belahan dunia manapun.

Problemnya adalah, jika penggunaan nama alias itu berlebihan. Identitas kita menjadi tidak jelas, dan membingungkan orang lain. Terutama jika sudah berurusan dengan hal penting seperti surat-menyurat, dokumen, KTP. Ini bisa menyulitkan orang lain, juga diri sendiri.

Beberapa waktu lalu, Andreas Harsono, mencatat tentang betapa frustasinya dia saat membantu menyalurkan donasi bagi keluarga korban pembunuhan. Identitas keluarga penerima berbeda-beda. Di akun Facebook menggunakan nama alay, di email menggunakan nama lain, dan di rekening bank namanya lain lagi. Tentu pusing buat yang ingin membantu, karena jika nama keliru sedikit saja, maka transfer uang bisa tertolak dan bantuan jadi tertunda. Ini merugikan keluarga sendiri, bukan?

Soal transfer ini pernah saya alami sendiri. Sewaktu menerima kiriman honor dari Indonesia, nama yang tertera adalah nama asli plus nama pena. Karena itu yang tercatat dalam file si pengirim. Alhasil uang tidak bisa dicairkan, karena petugas Moneygram di sini menolak mencairkan uang jika nama dalam ID Card berbeda dengan nama yang tercantum dalam file Moneygram. Teman saya harus kembali mengurus pembatalan kiriman dan koreksi nama. Untungnya bisa cepat. Tapi bayangkan repotnya bolak-balik ke Bank hanya karena urusan salah tulis nama.

Pengalaman lain lagi adalah ketika menyeleksi lamaran kerja. Ada beberapa pelamar yang memasukkan lamaran ke perusahaan dengan alamat email yang beda dengan nama asli. Seperti hujanluruh@gmail.com, rantingbergoyang@yahoo.com, lelakipejalankaki@hotmail.com….. Itu nama-nama yang romantis, tapi sama sekali tidak membantu saat proses seleksi karyawan. Sangat merepotkan karena membuat bagian HRD harus kerja keras mencari ulang, ini email punya siapa ya?

Yang kedua, itu tidak profesional. Bayangkan Anda sebagai HRD, mendapati berkas lamaran kerja untuk posisi Manager dengan alamat email nyiurmelambai@gmail.com. Bagaimana persepsi Anda? Tentu Anda akan langsung mendapat kesan bahwa sang pelamar ini lebay, bukan? Untuk itu, saat melamar kerja maupun untuk hal-hal formal lainnya, sebaiknya gunakan email dengan identitas nama yang jelas. Jangan sampai pakai nama alay, juga jangan sampai pakai nama perusahaan tempat bekerja sebelumnya. Sebaiknya gunakan nama sendiri.

Belum lagi kalau ada orang salah panggil nama. Semasa mahasiswa, saya dipanggil dengan nama Ayik. Itu jauh lebih populer dan menjadi brand. Teman-teman tidak akan ngeh kalau ditanyai siapa nama asli saya. Mereka baru akan berseru,–“Oh, tahu dongg. Anak Komunikasi itu…”–, kalau si penanya bilang, “Kenal Ayik, nggak?” Ini pernah jadi bahan lelucon juga, karena salah satu dari mereka dengan polosnya bertanya, “Yuli Hastadewi itu siapa, sih? Kamu kenal, nggak?”

Kesulitan lainnya adalah saat harus mengenali beberapa kontak di jejaring sosial. Banyak yang pakai nama alay, atau nama lain yang tidak jelas. Bagaimana saya harus menyapa mereka? Pada titik tertentu, kita tidak lagi cukup hanya menyapa dengan sebutan “mas” atau “mbak”. Jika komunikasi lebih intens dan mengakrab, kita perlu kenal nama asli. Bayangkan jika separo kontak kita pakai nama alay dan nama samaran. Pusinglah kita.

Itu sebabnya, sekarang saya tulis nama asli dalam imbuhan di jejaring sosial. Pertimbangannya, untuk memudahkan teman atau kontak lainnya saat menyapa atau mengenali saya. Lagipula tidak ada yang perlu saya sembunyikan (kecuali beberapa hal pribadi, dan itu pun sudah di-setting private). Salah satu tujuan berjejaring sosial adalah untuk saling mengenal, dan alangkah mudahnya proses itu jika saling mengetahui nama sebenarnya.