Harus Bagaimana Menyikapi Plagiarisme? (3)

Posted on Februari 1, 2013

0


photo“Saya tidak pernah menulis buku itu,” ujar imam Shamsi Ali ketika saya tanya tentang posting menyangkut sebuah buku berjudul MENGISLAMKAN AMERIKA. “Judulnya terlalu bombastis, hasil copas dari artikel yang saya tulis, tanpa ijin sebelumnya.”

Mungkin banyak pembeli buku di Indonesia yang tertipu dengan tampilan buku tersebut, dan mengira imam Shamsi sendiri pengarangnya. Sebab, di sampulnya memang tertulis nama M. Syamsi Ali. Juga nama IMSA (organisasi muslim Indonesia di Amerika) turut dicatut dan dijadikan nama penerbit, yakni IMSA MEDIA UTAMA, yang beralamatkan di Jl. Ketintang III/10 blk Surabaya. Telpon nomor 031-71324819. email di imsa_muda@yahoo.co.id. Buku terbitan bulan Mei tahun 2007.

Parahnya, di buku itu juga tertulis “Dilarang mengutip seluruh atau sebagian isi buku ini tanpa ijin dari penerbit.”

Dalam buku itu, isi pengantarnya juga sangat, sangat jauh dari apa yang selama ini dilakukan oleh imam Shamsi. Orang yang mengenal beliau pasti akan langsung bisa menyimpulkan, tidak mungkin kata pengantar semacam ini akan disetujui olehnya. Sebab isinya sangat bias dan dapat menimbulkan salah tafsir.

Inilah salah satu bukti betapa parahnya plagiarisme di Indonesia. Para plagiat itu tidak segan-segan mencatut nama siapapun untuk kepentingan diri sendiri, menipu khalayak mentah-mentah, menggunakan identitas palsu, dan masih berani pula mencantumkan larangan, seolah-olah ini adalah hasil kerja keras mereka.

Mengapa hal seperti ini bisa terjadi ?

Sebab, jarang ada sanksi jelas terhadap pelaku plagiarisme. Sekalipun sudah ada UU, dalam prakteknya, hampir tidak ditemukan penanganan yang serius.

Beberapa kali saya menemukan, kasus-kasus plagiarisme cukup diusut sekedarnya, dan selanjutnya sang plagiat bisa kembali berkeliaran dengan bebas. Masih untung kalau si pelaku benar-benar tobat. Kalau tobatnya hanya tobat sambel, gimana?

Memang tidak ada yang salah dengan penanganan secara kekeluargaan, namun untuk kasus tertentu, permintaan maaf saja tidak cukup. Terutama untuk kasus copas yang disertai pemalsuan identitas, dan penulisan artikel menggunakan nama orang lain tanpa ijin. Sebab itu sudah menyangkut reputasi dari orang lain, bukan semata-mata soal penggunaan nama.

Saya pikir, keberanian untuk mengungkap dan mengusut perlu ditumbuhkan. Sebab ini akan menjadi terapi jangka panjang, dan bisa menjadi sarana pembelajaran bagi banyak orang untuk memahami seluk-beluk plagiarisme dan hukum hak cipta.

Kalau si pengungkap justru dilarang atau dihukum dengan dalih “menyebabkan keributan”, ini tidak lagi sehat. Malah akan menjadi pupuk menyubur perilaku plagiat, karena yang salah justru dilindungi.