Beginilah Perempuan

Posted on April 13, 2012

2


Ada satu hal yang saya perhatikan dari diri sendiri; yakni betapa tak mudahnya melepaskan diri dari sebuah kenangan.

Dahulu, setiap kali menulis tentang perempuan, tulisan saya selalu penuh bara amarah, terutama terhadap laki-laki. Itu karena pengalaman hidup mempertemukan saya dengan banyak lelaki bertipe “jackass” yang tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu) tentang bagaimana seharusnya menjaga hati yang telah dititipkan kepada mereka.

Seiring berlalunya waktu, bara itu pelan-pelan memudar. Pendidikan, karir, finansial, adalah resep mujarab untuk menghilangkan kesenjangan yang dialami oleh perempuan yang merangkak dari kelas bawah seperti saya; sekaligus membuka cakrawala yang lebih lebar, di mana saya bisa melihat segala sesuatunya dengan kacamata yang lebih jelas dan seimbang.

Kini, saya sudah memahami bahwa masalah perempuan tidak melulu berkisar pada pakem “sebagai korban laki-laki”. Masalah perempuan adalah tentang bumi yang tercemar, kapitalisme, perbudakan, perang, dan anak-anak. Masalah perempuan adalah tentang akses terhadap kesehatan, pendidikan, politik, dan ekonomi. Kepedihan dan patahnya hati perempuan adalah juga karena sistem yang korup, budaya yang membungkam, dan pasar yang menjajakan setiap inchi dari sosok seorang perempuan.

Beginilah suara para perempuan itu. Mereka merangkumnya dalam liku-liku cerita yang menyentuh, mencerahkan, dan menyemangati. Anda ingin mengetahui lebih lanjut? Temukan kelanjutannya dalam Kolase Fiksi Emansipasi berjudul “PEREMPUAN ITU… SESUATU”, terbitan Universal Nikko.

Ada 21 perempuan penulis yang menorehkan tulisannya dalam kolase tersebut, termasuk saya, dengan cerpen tentang buruh perempuan pemetik bunga di lembah Andes, yang berjudul “Gabriella, Jangan Petik Bunga Itu!”

*****