Romantika Mudik 2: Si Neng Lebay

Posted on Februari 7, 2012

2


Aku tidak takut hidup miskin denganmu, tapi aku tidak tahan lapar – Demikian kira-kira bunyi kalimat dalam sebuah novel yang pernah saya baca.

Novel itu berkisah tentang seorang gadis dari keluarga kaya yang memilih meninggalkan semua kenyamanan yang dimilikinya demi menikahi pria pujaannya, yakni seorang pemuda seniman miskin. Hingga suatu saat, si gadis mendatangi keluarganya kembali untuk minta bantuan karena mereka tidak punya apapun untuk dimakan. Si pria merasa tertohok, tetapi tidak banyak yang bisa dia lakukan karena memang tak ada sepeserpun uang di kantongnya.

Entah kenapa kalimat gadis itu yang terngiang di benak ketika melihat banyak mall baru di kota-kota kecil yang kami singgahi sepanjang jalur Pantura. Sedikit malu juga rasanya untuk mengakui bahwa saya lega melihat mall mentereng ber-AC sejuk, juga deretan toko waralaba seperti Indomart atau Alfamart yang berdiri di mana-mana dalam radius jarak yang tidak terlalu jauh.

Lega karena, yah, mata sudah letih menyaksikan pemandangan kering berdebu sepanjang perjalanan. Malu karena, tentu saja, bukankah selama ini saya sering berkoar untuk mendukung ekonomi rakyat kecil? Namun nyatanya malah memilih berbelanja di Alfamart daripada di toko biasa yang sesak dan panas.

Saya jadi merasa seperti gadis dalam novel itu. Terlanjur terbiasa dengan segala fasilitas dan kemudahan, dan tidak lagi punya daya tahan untuk menjalani laku kehidupan yang keras ala rakyat jelata.

Kehidupan yang dulu adalah keseharian yang biasa, kini seperti sebuah mimpi yang tidak pernah diharapkan kehadirannya.

Mungkin jika ada yang bertanya – maukah kamu untuk kembali tinggal bersama mereka? – besar kemungkinan saya akan menjawab seperti ini: Aku tidak keberatan tinggal di sini. Aku hanya tidak tahan panas dan butuh tempat ber-AC.

Ya,kedengarannya lebay. Namun itu yang sesungguhnya saya rasakan.

*****

foto: koleksi pribadi