5 Hal yang Kuhindari untuk Ditulis

Posted on Oktober 25, 2011

2


Mumpung ingat, saya tulis tema ini: 5 Things You’re Afraid to Write About. Ini berasal dari posting grup NaNoWriMo (National Novel Writing Month) di WordPress yang melempar topik baru setiap harinya untuk dipilih dan ditulis oleh pesertanya.

Sewaktu membaca topik ini, baru saya sadar bahwa memang ada beberapa tema yang saya hindari untuk ditulis selama ini. Tema pertama adalah: cerita tentang hantu dan sejenisnya. Bukan karena saya tidak percaya atau anti dengan hal-hal seperti ini, tetapi murni karena saya penakut. Berada sendirian di rumah saja bisa membuat saya semalaman tidak bisa tidur, apalagi kalau sengaja menulis tentang hal-hal seram. Saya takut menulisnya karena tidak mau sampai terbawa ke dalam mimpi.

Percaya atau tidak, salah satu karakter dalam novel saya (Anthony Luizzo), benar-benar menjelma dalam mimpi. Dia awalnya muncul dalam bentuk bayangan hitam, yang ketika saya dekati wujudnya perlahan-lahan makin jelas berupa seseorang bertubuh tinggi dan berwajah tampan dengan rambut ikalnya, lebih tampan dari deskripsi yang saya buat dalam naskah. Saat itu entah kenapa saya langsung teringat dengan naskah novel yang masih berupa draft kasar, dan dengan keheranan saya bertanya, “Are you real?” Pertanyaan yang dijawab hanya dengan senyuman kecil, dan… poofff… dia menghilang dan saya terbangun tepat jam dua malam. Well, saya tidak keberatan kalau yang muncul dalam mimpi adalah sosok atau karakter yang enak dilihat. Tapi kalau yang muncul adalah sosok menyeramkan dengan gigi berdarah-darah, hmm…. no way.

Topik kedua yang cenderung saya hindari adalah: thriller yang sadistis dan bertema balas dendam. Ngeri betul itu. Jangankan menuliskannya, membaca buku bergenre ini pun saya ogah. Film sejenis Silence of the Lamb termasuk thriller yang saya hindari, meskipun ada juga thriller yang saya sukai seperti serial Bourne’s (mulai dari Identity sampai Ultimatum).

Topik selanjutnya: berbagi kisah nyata atau kisah pribadi. Beberapa waktu lalu, ada posting di Facebook tentang event audisi menulis bertema kisah nyata. Salah satu tema yang diangkat adalah berbagi kisah nyata tentang perjuangan saat diterpa ujian hidup, mengalami pasang surut hubungan dengan pasangan, perjuangan untuk tetap berpijak pada kesetiaan awal meskipun hati terkoyak-koyak oleh cinta terlarang. Wow, batin saya. Sebetulnya ada banyak kisah pribadi yang bisa ditulis untuk event tersebut, namun saya tidak siap untuk berbagi dengan umum. Biasanya kisah pribadi yang saya share dengan umum adalah pengalaman hidup yang tergolong mild to medium. Itu pun saya ungkapkan setelah mengalami masa pengendapan yang cukup lama. Untuk hal-hal yang serius atau yang memiliki kadar “memalukan” cukup tinggi, biasanya saya sembunyikan dalam bentuk ungkapan tersamar, tokoh atau plot, guna menghindari kemungkinan orang lain mengetahui liku-liku hidup saya dengan terlalu jelas. Jadi, meskipun stok cerita cukup banyak, saya belum siap menulis atau berbagi melalui event audisi seperti di atas.

Hal keempat yang biasanya saya hindari adalah: menulis dalam muatan atau bungkus agama. Meskipun menyukai topik ini, saya tidak terlalu antusias menuliskannya secara murni, kecuali jika hal itu dibahas dalam sudut pandang yang “netral” seperti sosial budaya, antropologi, atau politik. Membahas agama dalam kerangka kultural membuat saya lebih mudah menghindari “rasa bersalah”, terutama jika saya tidak setuju dengan suatu konsep dalam ajaran tertentu.

Kelima, segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia anak. Ini ibarat kryptonite buat saya, entah kenapa. Setiap kali hendak menulis tentang itu; entah cerpen atau naskah cerita anak; perut bisa mendadak mulas dan hati jadi tegang. Mungkin penyebabnya karena saya terlalu membebani diri sendiri dengan target tinggi, atau mungkin itu muncul dari keraguan saya tentang pemahaman terhadap dunia anak. Mungkin pula itu disebabkan oleh karakter diri sendiri yang tergolong bukan penyuka anak. Saya suka melihat anak-anak yang lucu dan lincah, tetapi tidak terlalu antusias untuk mendalami dunia mereka. Jadi kalau disuruh menulis tentang topik ini, writer’s block yang saya alami sudah bisa dipastikan jauh lebih besar dibandingkan blocking terhadap topik lain.

Bagaimana dengan anda? Adakah Lima Hal yang selama ini anda hindari untuk ditulis?

picture taken from http://www.webpresence.tv/uk-blog/afraid-social-media/

Ditandai: