Memilih Ending Pembalasan

Posted on Agustus 28, 2011

0


Ini masih ada kaitan sedikit dengan postingan sebelumnya mengenai kisah Ali bin Abi Thalib r.a. Yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib r.a. saya pikir bisa dikategorikan dalam bentuk ending berjenis Purpose Abandoned. Ini istilah yang dipakai oleh Barnaby Conrad untuk menyebut satu pilihan ending dalam sebuah cerita (Maaf saya masih mengutip banyak tulisan Barnaby. Mumpung masih ingat dan relevan dengan topik kepenulisan, saya pikir tidak ada salahnya mengulas dia beberapa kali).

Purpose Abandoned, kalau boleh saya terjemahkan secara bebas dalam konteks ini, adalah Merubah atau Membatalkan Niat Awal. Dalam sebuah cerita yang mengandung unsur pembalasan (balas dendam umumnya), karakter utama memiliki motivasi sangat kuat untuk melakukan balas dendam terhadap karakter lain yang menghalangi impiannya. Seorang perempuan yang dianiaya di luar batas serta ditelantarkan oleh seorang pria, misalnya, memiliki alasan kuat untuk membalas dendam kepada pria tersebut. Seorang pria yang dikhianati oleh perempuan yang dicintainya, juga memiliki alasan kuat untuk membalas dendam. Pendeknya, setiap karakter yang tersakiti akan punya potensi untuk memilih beberapa jalan pembalasan. Bisa dengan cara balik menghancurkan atau membunuh karakter lain yang jadi sasarannya.

Film dan cerita bergenre War, Horror, Epic, Thriller, Crime & Gangsters, kaya dengan ending berjenis balas dendam langsung; dimana tokoh antagonis dimatikan dengan cara dibunuh atau balas dianiaya. Sementara jika ending yang dipilih berupa Purpose Abandoned, maka tokoh protagonis memilih cara sebaliknya, yakni mengurungkan niat balas dendamnya.

Motivasi mengurungkan niat balas dendam bisa bermacam-macam. Mungkin dengan melihat bahwa tokoh antagonis sudah cukup menderita, atau karena tokoh protagonis tidak ingin mengikuti jejak si tokoh antagonis dengan melakukan kekejian serupa, atau mungkin karena ingin melihat si tokoh antagonis hidup tanpa martabat seumur hidupnya.

Jangan dikira ending seperti ini tidak menimbulkan efek besar terhadap tokoh antagonis. Kalau kita membaca kisah Ali bin Abi Thalib r.a dan musuhnya Amr bin Abd Wud, kita bisa melihat betapa Abd Wud merasa lebih terhina ketika Ali r.a. meninggalkannya. Di saat dia kalah di tangan Ali r.a., dia tetap ingin pulang sebagai pahlawan bagi kaumnya. Maka dia tidak gentar menghadapi hunusan pedang milik Ali, dan meludahinya dengan maksud menghina Ali dan membuatnya naik darah. Seandainya Ali r.a. pada saat itu memilih terpancing oleh hinaan tersebut dan menghunjamkan pedangnya pada Abd Wud, maka Abd Wud akan mati sebagai pahlawan. Namun karena beliau memilih pergi, maka secara tersirat Ali r.a. menganggap bahwa Abd Wud tidak cukup layak untuk diladeni lebih lanjut. Tentu saja, di bawah tontonan kaumnya sendiri, itu adalah hal yang lebih memalukan bagi Abd Wud.

Ini adalah satu alternatif yang bisa digali lebih lanjut saat kita memilih ending untuk cerita kita, terutama jika ada unsur balas dendam di dalamnya. Balas dendam tidak selalu harus diwujudkan dengan cara yang sama biadabnya dengan si pelaku kejahatan, tapi bisa digantikan dengan cara lain. Bisa berupa Purpose Abandoned, atau mencari alternatif teknik sublimasi, dimana tokoh protagonis menyalurkan energi kemarahan dan dendamnya ke dalam bentuk yang lebih positif.

picture copied from: http://azraelsmerryland.blogspot.com/2010/07/movies-last-airbender-3d-movie-review.html

Ditandai: ,