Memisahkan Diri dari Kelaziman

Posted on Agustus 27, 2011

0


Ada dua tokoh dalam khasanah kisah Islam yang saya kagumi betul. Pertama, Saladin al Ayyubi. Kedua, Ali bin Abi Thalib r.a.

Yang pernah membaca atau menonton kisah Saladin mungkin masih ingat betul dengan cara beliau menghadapi musuh-musuhnya. Saladin mengirimkan tabib dan oleh-oleh kepada pimpinan musuhnya, Raja Richard, yang kala itu jatuh sakit. Saat ia menang, perempuan dan anak-anak aman dalam lindungannya. Rumah ibadah setiap orang tetap aman, tidak ada yang dirusak. Beliau juga memastikan tidak ada kekerasan atau gangguan kepada pihak musuh yang sudah menyerah kalah.

Sementara Ali bin Abi Thalib r.a., kisahnya yang paling saya hafal adalah ketika beliau urung membunuh musuh yang sudah meludahi wajahnya. Ali r.a memilih pergi untuk menghindari membunuh orang karena dendam atau kemarahan pribadi. Barulah ketika si musuh itu (Amir bin Abdu Wud) bangkit dan menyerangnya kembali, ia menghentikannya dengan pedangnya.

Kedua tokoh ini, Saladin dan Ali r.a., punya banyak alasan yang bisa dibenarkan seandainya mereka berdua memilih membunuh musuh-musuhnya. Komunitas muslim yang lemah dan tak bersenjata, yang dibunuh dengan keji oleh tentara musuh saat itu, dan hinaan berupa ludah, itu semua sudah lebih dari cukup sebagai alasan untuk melakukan balas dendam. An eye for an eye. Hutang nyawa dibayar nyawa, hutang darah dibayar darah. Itu konsep yang bisa “dibenarkan” terutama dalam situasi seperti itu.

Namun keduanya justru memilih jalan lain. Alih-alih balas membantai musuh dengan kegarangan meluap, mereka justru menghentikan kekerasan dan berpegang pada alasan awal bahwa semua yang dilakukan tetap bersandar pada tujuan membela kehormatan dan keyakinannya. Pembelaan keyakinan yang ditunjukkan dengan kesantunan dan kemuliaan sikap. Harga diri yang ditunjukkan dengan menghormati hak hidup orang lain dan tidak memperturutkan amarah. Kehormatan yang ditunjukkan dengan menahan diri pada saat kekuasaan ada di pihaknya.

Seandainya Saladin dan Ali r.a memilih membunuh musuh-musuhnya saat itu, saya yakin tidak akan ada seorangpun yang keberatan. Namun sudah pasti sejarah akan mencatat keduanya dalam wajah yang tak berbeda dengan musuh-musuhnya; sama-sama bengis dan tak berperikemanusiaan. Dan orang yang membacanya akan makin dalam mempertanyakan: lalu untuk apa membawa panji keyakinan jika mereka tak ada bedanya dengan yang mereka sebut kafir?

Memisahkan diri dari kelaziman, itulah yang saya baca dari kisah dua orang mulia ini. Di saat banyak orang membenarkan sesuatu atas nama kemarahan dan dendam, keduanya memilih alternatif yang lebih elegan. Dan itu yang membuat catatan sejarah yang ditorehkan keduanya menjadi sangat berbeda.

picture copied from: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Saladin_and_Guy.jpg

Ditandai: