First Ramadhan

Posted on Februari 4, 2011

0


Puasa tahun ini adalah yang pertamakalinya sejak saya tinggal di sini. Tetapi sebenarnya, boleh dibilang, setelah lulus SMA, hampir setiap Ramadhan saya lalui di tempat yang berbeda. Hanya sewaktu masih kuliah saja saya “menetap” tarawih di tempat yang sama. Pertama, di masjid kampus. Kedua, jamaaah bareng teman-teman satu asrama mahasiswa ketika saya resmi jadi penghuninya.
Setelah lulus, tarawih-tarawih yang lain saya lakukan di Cirebon, Surabaya, Probolinggo, Malang, Jakarta, mengikuti alur dimana saya tinggal dan bekerja.

Disini saya tarawih di satu masjid terdekat di daerah Warren. Masjid ini didirikan oleh organisasi muslim Amerika bernama IONA (Islamic Organization of North America). Ini adalah masjid kedua yang pernah saya kunjungi. Masjid yang lainnya dikelola oleh organisasi bernama IAGD (Islamic Association of Greater Detroit). masjid milik IAGD ini lebih besar dan lebih beragam kegiatannya, tetapi letaknya cukup jauh, di wilayah Rochester Hills. Perlu waktu sekitar 20-25 menit by car bagi saya untuk sampai disana.

Masjid di Warren ini letaknya di lingkungan pertokoan, agak susah dikenali karena masjid ini tidak memasang papan nama atau kubah di atap bangunannya. Banyak masjid di sini tidak memasang kubah dan bentuknya seperti rumah atau gedung biasa. Jadi tidak heran, saya dan suami sempat putar balik arah karena kesasar.

Seperti jamaknya masjid yang lain, ruang untuk muslimah terpisah. Disini, ruang sholat muslimah benar-benar terpisah, tidak sekedar dibatasi tabir. Untuk mengetahui kapan imam memulai sholat, disediakan speaker atau tivi monitor.

Suami saya sempat berkomentar, biasanya ruang untuk jamaah wanita tidak sebagus ruang untuk jamaah pria. Dari beberapa masjid yang dia kunjungi, selalu dia melihat ruang jamaah wanita lebih sempit, kadang karpetnya tidak sebagus karpet di ruang jamaah pria. Tetapi di masjid ini, untuk sementara, kesimpulannya berbeda. Sebab, meski ruangnya kecil, ruang jamaah wanita karpetnya empuk. Sementara di ruang jamaah pria, kata suami saya, karpetnya agak keras dan dahinya jadi sakit saat sujud😀.

Di masjid ini, jamaahnya hampir 100 persen dari Bangladesh, dan hanya sedikit jumlahnya. Sementara di masjid Rochester, jamaahnya lebih beragam, mulai dari Asia sampai Timur Tengah. Muslimah Indonesia biasanya cepat dikenali karena mereka memakai mukena saat sholat. Muslimah-muslimah dari negara lain cukup memakai baju panjang muslim dan hijab.

Berada di lingkungan baru, mau tidak mau, akan membuat kita meleng dan tidak konsen dengan apa yang kita lakukan. Alih-alih sholat dengan tenang, malah ekor mata saya melirik ke orang di sebelah saya, mengintip bagaimana cara dia sholat (maafkan hambaMu yang nakal ini, Tuhan). Dan sepertinya orang disebelah saya juga melakukan hal yang sama😀. Mungkin karena kita memang benar-benar asing satu sama lain, dan berasal dari negara yang berbeda.

Belum lagi kebiasaan yang berbeda, membuat banyak kejadian lucu saat sholat. Seperti misalnya, saya menghamparkan sajadah kecil saya untuk digunakan berdua dengan orang disebelah saya. Tetapi saat sholat, dia malah menyurutkan badan sebisa mungkin saat sujud supaya tidak menyentuh sajadah saya. Soalnya disini orang tidak pakai sajadah😀.

Baru setelah beberapa rakaat, mungkin karena melihat bagaimana saya sujud, akhirnya dia sentuh juga sajadah itu. (ya, yaa… saya memang tidak konsen sholat… sempat-sempatnya ngintip orang… :D). Akhirnya supaya tidak mengganggu konsentrasi orang lain, sajadah itu saya pinggirkan.

Kejadian lucu lainnya, adalah saya sholat Isya’ dobel. Karena terlambat datang, dan merasa ketinggalan sholat Isya’, saya bertanya pada salah satu jamaah wanita yang kebetulan akan melakukan sholat, “Sister, is it Isya?” Dia jawab, “Yes, it is Isya'”. Dan buru-burulah saya sholat Isya’. Belakangan setelah Imam memulai sholat Isya’, baru saya sadari kalau pertanyaan saya tadi salah. Harusnya saya tanya, apa sholat Isya’nya sudah dilaksanakan apa belum, bukan nanya apakah ini isya’. Terang aja dijawab iya, lha wong memang sudah masuk waktu isya’. Hahaha…!!

Bagaimana rasanya sholat di tempat yang benar-benar beda dari sebelumnya? Tentu ada banyak hal yang berbeda. Kalau di Indonesia dulu, saya punya teman-teman yang mengajak ke masjid, atau teman untuk bermalam di masjid sampai saat sahur tiba. Malah pernah, sewaktu masih di Jakarta, saya dan dua orang teman saya sampai tengah malam masih putar-putar naik taksi, pindah dari salah satu masjid ke masjid Al-Azhar, karena kita protes, kok ruang sholat jamaah wanita letaknya di bawah, sih? Ini lho, yang suka bikin senewen. Bayangkan, masak ruang untuk pria begitu megah dan luasnya, ber-AC, bahkan cukup untuk sekian batalyon, tetapi ruang untuk wanita sumpek dan letaknya di lantai bawah, dekat kamar kecil pula. Masih mending kalo jamaah wanitanya cuma sedikit, lha ini yang datang banyak untuk i’tikaf.

Sekarang, tentu saja saya tidak bisa lagi ramai-ramai i’tikaf bareng teman, karena status sudah berubah jadi nyonya, hehehehe….. Maka itu, bagi para lajang, nikmatilah kesempatan selagi masih bisa kesana-kemari dengan teman-teman.

Bagi saya pribadi, ada hal lain yang juga menyenangkan. Hingga saat ini, dimanapun, masjid selalu menimbulkan rasa tenang dan damai. Tidak perduli apakah jamaahnya punya perbedaan pendapat, punya perbedaan prinsip, saat sholat semuanya menjadi sama. Tidak perduli apakah masjidnya berkubah atau sekedar berdinding papan serupa surau kecil di kampung, selalu ada sisi yang membuat kita menyukai pengalaman rohani didalamnya.

Saya agak takut ketika menjelaskan apa yang saya rasakan. Takut, karena saya tahu pasti, saya bukan hamba yang sholeh, dan karenanya mungkin apa yang saya rasakan itu hanya sementara. Saya hanya berharap supaya saya tidak pernah kehilangan kesempatan untuk selalu merasakan ketenangan yang damai itu, dimanapun saya berada. Itu serupa …. apa ya? Semacam feeling bahwa kita selalu diberi waktu untuk reborn, terlahir kembali. Terlebih ketika Ramadhan.

(dari blog lama, 6 Oktober 2005. Tulisan ini pernah dimuat di majalah Sabili)