
Sudah lama saya tidak main medsos karena berbagai alasaan. Salah satu yang terbaru adalah kabar poligami seleb. Saya memilih menghindari medsos sementara waktu, dan menunggu sampai berita itu reda.
Alasan saya simpel. Ini adalah salah satu waktu di mana diam merupakan pilihan yang lebih baik. Pertama, saya nggak ada sangkut-pautnya dengan kasus itu. Juga tidak pernah ngobrol langsung dengan ybs. Ada sih, say hi beberapa kali duluuuu…. banget. Itu doang. Jadi, saya sama sekali tidak tahu tentang ybs, tidak pernah deal langsung, belum pernah kerjasama langsung, dan belum pernah jadi “korban”. So, tidak ada alasan bagi saya untuk ikut membicarakannya, apalagi secara berlebihan. Cuma sekali aja komentar spontan di postingan teman.
Soal poligami? Wah, saya mah udah bosen dengan tema itu. I already talked a lot about it, dan ternyata ya tidak banyak yang bisa saya lakukan. Bahkan saya sampai pada kesimpulan, sebaiknya bab poligami ini dimasukkan dalam poin perjanjian pranikah. Karena ini bagian dari kultur, dan umumnya kultur juga relatif sulit untuk diubah (apalagi kalau tersambung dengan soal agama), maka ya lebih baik blak-blakan aja. Bicarakan poin ini sebelum menikah, sehingga pihak perempuan tahu bener apa yang mau mereka jalani. Tidak kayak beli kucing dalam karung.
Kalau ada perjanjian jelas, misalnya pihak pria berjanji secara tertulis untuk tidak poligami demi merawat ketentraman rumah tangga, maka nanti endingnya lebih enak. Yang laki tidak merasa dirugikan, karena toh sudah blak-blakan sejak awal. Yang perempuan juga tidak merasa dirugikan, karena dari awal sudah tahu dan setuju. Kalau salah satu pihak wan prestasi, maka penyelesaiannya juga lebih gampang. Tinggal pilih bubar, damai, atau tuntut di pengadilan. Don’t cry kalau udah pilih damai dan menerima dipoligami. That’s your own choice. Suck it up and move on. Gitu kan, simpelnya.
Beda halnya dengan yang mungkin pernah dirugikan. Itu mah terserah mereka untuk melampiaskan kegeraman via medsos. Tentunya dengan pertimbangan masing-masing.
Alasan kedua mengapa saya memilih menepi dari medsos, adalah karena usia. Ini masa rawan. Begitu kita memasuki usia 40 tahunan, di saat itu semua hal yang tadinya tersembunyi dari kita, akan dinampakkan. Semua kesalahan sudah jatuh tempo untuk dibayar. Itu saja sudah makan energi banyak, dan belum tentu kita lolos dari hingar-bingarnya. Jadi, kalau masih waras, tentu kita nggak mau nambah masalah baru, kan?
Lagipula, belum tentu juga kita akan lolos dari ujian serupa. Tiap jenjang hidup, tiap permintaan yang dipanjatkan, tiap permintaan yang dikabulkan, semua ada harganya. Harga itu berupa ujian. Kita minta kaya, misalnya. Itu nggak akan serta-merta dikasih begitu saja. Pasti di balik itu, ada harga yang harus kita bayar. Macam-macam bentuknya. Bisa jadi ya berupa ujian kesetiaan terhadap pasangan, ujian berupa kesombongan, ujian berupa rasa rakus dan selalu merasa tak puas, dll. Kedonyan, istilahnya.
Jangan salah. Pilih miskin pun juga ada harganya. Selain rasa lapar, kita juga akan diuji dengan soal moral. Misalnya saking miskinnya, lalu tidak tahan, akhirnya memilih jalan kejahatan. Memilih meminta pada zat selain Tuhan, pesugihan misalnya. Mencuri, merampas hak orang lain, dsb. Itu juga sama. Akhirnya ujung-ujungnya jadi less gratitude. Jadi, istilah kedonyan itu tidak hanya untuk si kaya. Saat miskin pun, kita bisa banget kejangkitan penyakit kedonyan.
Itu sebabnya, sangat betul isi dari doa-doa tertentu, yang fokus untuk meminta pada Tuhan agar memberikan pilihan yang terbaik buat kita, bukan pilihan terbaik menurut kita. Supaya setiap rejeki itu sesuai dengan level kesanggupan batin kita. Juga benar sekali isi dari doa untuk meminta perlindungan agar dijaga dari aib di dunia dan akhirat. Sebab memang demikianlah. Makin lama kita melihat, makin banyak rahasia yang tersingkap, dan tidak ada satu pun yang bisa melindungi seseorang kecuali Tuhan.
Beberapa waktu ini, saya lagi uji coba baca doa Nabi Sulaiman, yang isinya meminta agar dikaruniai “kerajaan” alias kemakmuran tanpa batas, yang tidak pernah terlintas sebelumnya dalam pikiran manusia manapun.
Tahu nggak, setelah beberapa kali baca doa itu, saya dibanjiri aneka pertunjukan yang intinya seolah menunjukkan kepada saya, “Ini loh, resikonya. Kamu siap, nggak?”
Karena beberapa kali melihat langsung “jeroan” sejumlah manusia papan atas, akhirnya saya nyadar. Haishh… memang benar, tidak semua orang akan mampu lolos dari ujian tertentu. Di luar kelihatan bagus, mentereng, terhormat… tapi di dalam sungguh bobrok, mengenaskan, dan sukar dipercaya bahwa itu yang sebenarnya terjadi pada mereka. Orang lain hanya melihat, ohhh si A kaya-raya… oohh si B harmonis… ohhh si C begini dan begitu. Yep, kita tidak pernah benar-benar tahu tentang seseorang, sampai kita melihat sendiri jeroannya.
Kebanyakan dari kita menganggap bahwa musibah yang menimpa orang lain adalah masalah ybs sendiri. Padahal sebenarnya secara spiritual, menurut saya tidak demikian. Musibah itu juga ujian buat kita. Sejauh mana nanti kita mampu mengambil hikmah dari itu, dan bagaimana kita menggerakkan diri sendiri selanjutnya agar bisa mawas diri. Kalau menurut saya, sudah untung sih bahwa bukan kita yang dijadikan sarana pembawa peringatan oleh Tuhan.
Saat ada yang ditimpa musibah, menurut saya lebih baik tahan diri dan tidak serta-merta menganggap bahwa si A, B, atau C berlumuran dosa lebih banyak ketimbang kita. Sebab siapa tahu, dari musibah itu, justru lebih banyak orang tersadar dari perbuatan mereka yang keliru, lalu memilih tobat. Dari satu orang yang babak-belur, ada jutaan orang yang lalu tersadar untuk segera membenahi diri masing-masing. Apakah itu tidak akan dijadikan pertimbangan oleh Tuhan? Kalau menurut saya, ya insyaallah pasti ada kompensasi yang disediakan buat mereka yang dipilih untuk menanggung ujian besar guna membuat orang lain kapok. Saya percaya dengan hukum keseimbangan dan hukum sebab-akibat, dan saya juga melihat langsung contoh kasusnya. Jadi ya, kembali ke poin awal, yakni lebih baik kita bereaksi secukupnya saja. Yang selebihnya, minta perlindungan dari Tuhan.
Saya tidak sedang berusaha kelihatan bijak. Halahhh, wkwkwkwk…. Saya cuma share sebagian pengalaman saja. Boleh setuju, boleh tidak. No problem, karena yang kayak begini ini memang urusannya level personal. Pilihan masing-masing. Kita boleh punya pilihan apapun, boleh ambil langkah apapun, boleh setuju atau tidak setuju dengan siapapun. Yang penting kita tahu, ada nurani yang perlu kita mintai pertimbangan sebelum memutuskan sesuatu.


Rahayu Pawitri
Juli 7, 2023
❤️❤️❤️❤️
Salah satu alasan, kenapa aku ga berani ikut komen juga mbak, karena di permukaan itu hanya sedikit yang kita tahu
Artha Julie Nava
Agustus 2, 2023
Iya, itu aku hati-hati banget.