Soal Nikah Beda Agama

Posted on Januari 30, 2014

0


imagesPagi-pagi sudah disuguhi aneka link dengan tanda seru besar dan heboh di Newsfeed, hehehe… Temanya, tentang Nikah Beda Agama.

Sebenarnya saya bukan fans berat berita-berita yang ditulis dengan gaya seperti itu, karena menurut saya, soal keyakinan adalah pilihan pribadi. Silahkan berasumsi bahwa saya liberal, tapi memang tidak logis ketika sebuah keyakinan atau kepercayaan begitu dipaksakan oleh sistem, apalagi kalau sampai harus menghilangkan nyawa orang. Urusan hati dibikin jadi urusan publik, bahkan negara. Itu berlebihan, saya kira.

Namun ada sejumlah chirpstory yang saya baca, dan menarik, karena memberi runutan yang sarat informasi bagi yang memerlukannya (Ini ajaibnya kreatifitas manusia. Biarpun ruang menulis dibatasi hanya sejumlah karakter di Twitter, tidak berarti kita terhalang menulis panjang lebar🙂 … Chirp ini mungkin berguna bagi mereka yang selama ini dibingungkan dengan soal hukum nikah beda agama dalam tafsiran hukum Islam.

1. Boleh Tidaknya Soal Nikah Beda Agama

2. Jumhur Ulama tentang Pernikahan Beda Agama

3. Pendapat Mayoritas Adalah yang Paling Selamat

Secara hukum di Indonesia, pernikahan seperti ini sulit untuk mendapat persetujuan, tapi relatif masih bisa diakali dengan cara lain, misalnya dengan menikah di luar negeri, atau mengikuti dulu agama pasangannya. Yang paling besar sebenarnya adalah ongkos sosialnya. Mereka yang memutuskan nikah beda agama, pasti akan mengalami banyak dilema. Tantangannya berat, terutama jika di kemudian hari, salah satu menghendaki pasangannya mengikuti keyakinan dia, sementara pasangannya keberatan.

Dalam beberapa kasus yang saya lihat, ini juga salah satu titik konflik yang rawan dalam keluarga. Sebab bagaimanapun, setiap orang perlu memenuhi kebutuhan psikologisnya. Saya misalnya, yang sejak kecil lahir dalam lingkungan agamis, punya kebutuhan kuat untuk merasakan lingkungan yang setidaknya serupa. Jadi ketika memilih pasangan, yang pertama kali saya lihat adalah kesamaan faktor agama terlebih dahulu, baru memutuskan berlanjut atau tidak. Cinta masuk urutan berikutnya. Saya bisa menerima pernikahan yang didasarkan atas perjodohan, karena konsep hidup saya memang menempatkan unsur kesamaan agama terlebih dahulu.

Sedangkan orang lain, Asmirandah misalnya, jelas beda. Dia jelas lahir dalam lingkungan yang sama sekali beda dengan saya. Kebutuhan psikologisnya juga beda. Kalau dia memutuskan memilih jalan lain karena merasa lebih memenuhi kebutuhan batinnya, tentu dia tidak bisa dihakimi begitu saja. Cinta bagi dia mungkin lebih penting, sebab itu yang membuat dia merasa lebih punya daya hidup.

Jadi ketika kita merasa ada yang “salah” dengan pilihannya, kenapa dia tidak mengutamakan agama di atas cinta, maka seharusnya kita melihat, mungkin agama tidak memberi dia pemenuhan kebutuhan psikologis. Dan kalau dipaksa, apa iya dia akan bahagia? Yang bahagia jelas kita, sebab merasa berhasil “menyelamatkan”. We are “The Hero”. Tapi sesungguhnya, belum tentu juga kita sudah mengisi ruang kosong di hatinya. Ketika dia tidak menemukan damai dalam sebuah agama, itu bukan melulu kesalahan dia. Mungkin saja kita ikut berperan di dalamnya tanpa sengaja.

Posted in: Law, Social & Culture