Just KISS, and You’ll Be Okay

Posted on Februari 28, 2012

0


Posting ini untuk menjawab pertanyaan tentang blog. Jujur saja, saya bukan orang kawakan dalam dunia blogging. Jauh banget itu. Saya hanya pengguna blog untuk menunjang minat serta kebutuhan saya. Jadi yang akan saya sharing hanya seputar bagaimana saya mengkonsep blog ini untuk mencapai hal-hal yang saya targetkan.

Pertamakali saya menggunakan blog lebih banyak untuk tujuan bersenang-senang, silaturrahmi, membuat diary online, posting foto dan kumpulan resep. Blog yang sudah dicoba beragam; mulai dari Blogpsot, Typepad, Livejournal, Multiply, hingga WordPress. Saya juga belajar sedikit tentang CSS, HTML serta fitur-fitur penunjang lain yang umum digunakan dalam blog.

Selang beberapa waktu, rasa bosan pun mulai muncul. Kesibukan harian makin bertambah, minat berubah, ada Facebook… jadi makin malas rasanya untuk mengurus semua blog tersebut. Terutama karena orientasi nge-blog yang sudah berubah total. Saya menginginkan penggunaan blog yang lebih efektif, terkait dengan dunia saya, sekaligus sebagai sarana mengembangkan minat serta beropini.

Dari situ, saya mulai memilah dan menghapus segala blog yang saya rasa tidak perlu, agar perhatian saya tidak terpecah-belah mengurusi banyak hal. FOKUS, itu pertimbangan pertama. Blog travelling, tidak perlu lagi. Blog keluarga, hapus. Blog diet, hapus. Blog resep, hapus atau biarkan. Blog menulis di Multiply, saya hapus juga karena pertimbangan selera saja. Alhasil, hanya ada satu blog, yakni di WordPress yang saya putuskan untuk menjadi core saya; yakni dunia menulis.

Prinsip yang saya pakai tidak jauh dari prinsip hidup selama ini: Just KISS (Keep It Simple, Sweetie).

Sebagai perempuan yang disibukkan oleh segala macam tanggung jawab di pundak (keluarga, kerja, sekolah, sekaligus sebagai penulis), tantangan utamanya adalah bagaimana memanajemen waktu dengan seefektif mungkin. Kita sudah kehilangan “kemerdekaan semasa bujang.” Apalagi bagi yang tinggal di luar negeri. Tidak ada asisten yang dapat membantu membersihkan rumah dan memasak. Tidak ada saudara dekat yang bisa dititipi anak kapan saja. Sementara mengurus blog pun memerlukan waktu. Tidak mungkin saya punya waktu untuk mengutak-atik blog sampai lama seperti saat baru menikah atau semasa bujang.

Untuk itu, saya memilih fitur yang sudah ada saja sesuai kebutuhan. Desain, saya pilih yang paling saya sukai, yakni: rapi, sleek, hurufnya bagus, warnanya cocok. Widget saya pilih yang penting. Tidak semua hal harus dipasang kalau tidak perlu. Link dengan Facebook maupun Twitter, karena dua koneksi itu yang paling sering saya pakai. Twitter sebenarnya belum begitu saya jelajahi, lagi-lagi karena keterbatasan waktu. Semula saya jadwalkan Twitter untuk update seminggu sekali, namun masih sering terlupa. Gantinya, update otomatis begitu ada posting baru di blog. Kemudian Kategori. Selanjutnya, tinggal berkonsentrasi pada posting materi.

Kategori yang saya buat semuanya terkait dengan tema kepenulisan yang saya tekuni, juga yang memberi nuansa dalam setiap tulisan saya. Ada History, karena saya menggemari sejarah. Remember the Moments, untuk tulisan yang terkait dengan masa tertentu: misalnya kejadian khusus, kelahiran orang yang kita kagumi, dan sejenisnya. Memoir Writing, untuk hal-hal yang terkait dengan jenis tulisan Memoir. Social & Cultures, yang tadinya saya pisahkan namun kemudian saya gabung. Tales & Folklores, ini juga minat saya. Writing Tips, Writing Theme, dan lainnya. Tadinya ada kategori Table Talk, yakni tulisan berjenis Memoir yang lebih spesifik. Namun kemudian saya gabungkan dengan Memoir. Termasuk tentu saja ada kategori Book Reviews alias ulasan buku.

Sedikit lucu saja ketika ada yang protes “artikelnya seperti meresensi novel”. Sepertinya dia hanya klik sekali tepat pada posting itu, dan langsung protes. Padahal itu hanya salah satu posting saja di sini. Dan lagipula, apa yang salah dengan posting ulasan buku dalam blog bertema kepenulisan? Bukankah buku, membaca, dan menulis adalah trio yang tidak terpisahkan? Jangan mimpi jadi penulis beneran kalau tidak suka membaca. It is as simple as that.

Sejauh ini, dengan fitur serta kategori tersebut, sudah memadai untuk kebutuhan maupun target saya sampai saat ini. Selama setahun menggunakannya, problem yang saya hadapi secara teknis hanya soal error di bagian Tags; kalimat kembali ke bentuk semula padahal sudah dirubah. Selebihnya, semua oke-oke saja. Yang subscribe by email alhamdulillah bertambah satu demi satu, artinya posting kemungkinan dibaca sekalipun mereka tidak mengunjungi blog. Mungkin penyebabnya sama seperti saya, mereka tidak punya banyak waktu lagi untuk rutin blogwalking, dan memilih subscribe pada blog-blog tertentu agar tetap dapat membaca update-nya.

*****

picture from: http://kuplramblings.blogspot.com/2012/01/keep-it-simple-silly.html

Ditandai:
Posted in: Writing Tips