Percaya

Posted on Februari 4, 2011

0


Menjelang malam, dua perempuan sedang berbincang di teras sebuah kafe, dengan secangkir kopi pelepas penat usai jam kantor. Yang seorang, kemudian berkata dengan nada masygul atas keraguannya pada keputusan yang diambil oleh teman baiknya. Temannya, seorang perempuan berusia 30-an, yang sedang berada dalam kecemerlangan karirnya dan punya jaringan luas, suatu ketika memutuskan untuk menjalani hidup selanjutnya bersama seorang pria yang ia kenal dari internet. Internet, sebuah dunia maya yang menjadi kesehariannya semenjak ia menamatkan kuliah, dunia yang lekat dengan dirinya karena ia nyaris menghabiskan 8-9 jam sehari bekerja dengannya.

Internet tentu berbeda dengan keseharian perjumpaan kita dengan orang-orang di sekeliling kita, kata si perempuan tadi kepada temannya. Di internet, perjumpaan bisa menjadi anonim, karakter bisa disembunyikan, wajah bisa disamarkan, gelegar suara bisa pula ditiadakan. Menjalin kesepakatan, apalagi berupa pernikahan, adalah sebuah tindakan penuh resiko. Sedikit yang bisa dipercaya dari sebuah hubungan “tak nyata” melalui internet, terutama karena pernikahan selayaknya didasari oleh pemahaman yang cukup mengenai jati diri masing-masing.

Kemudian temannya, si perempuan berusia 30-an, menjawab bahwa bukankah di dunia nyatapun sesuatu bisa menjadi anonim dan tersembunyi? Bahwa dunia nyatapun adalah dunia yang penuh resiko. Terutama karena isi hati dan pikiran manusia bukan sesuatu yang tembus pandang, yang bisa dibaca jelas atau ditebak kelanjutannya. Orang hanya dapat membaca tanda-tanda, sama halnya dengan dunia maya, yang dibangun dan dibaca berdasarkan tanda.

Perempuan berusia 30-an itu telah memilih menapaki hidup yang musti dibayarnya dengan perjumpaan fisik yang langka. Semakin tinggi ia menapak jenjang karirnya, semakin sedikit waktu yang tersedia untuk bertemu dengan orang. Semakin sempit pula kesempatan untuk mengenal secara mendalam tentang pribadi. Ia juga musti membayarnya dengan sekian banyak pengalaman atas ketidakjujuran, ketidakbenaran, air mata. Namun demikian, ia tetap memilih untuk percaya dan berteguh hati, bahwa diantara sekian banyak carut-marut yang dihadapinya, masih tetap akan dijumpainya orang-orang yang berjiwa jernih.

Hidup adalah sebuah pilihan. Dan sebagaimana jamaknya pilihan, masing-masing memiliki resikonya. Melangkah dan bertindak, punya resiko. Diam dan menunggu, pun punya resikonya. Jadi mengapa mempertanyakan, ujarnya.

Namun, tetap percaya sebenarnya adalah sesuatu yang menggetarkan bagi keduanya. Bagi perempuan tadi, percaya adalah akhir sebuah tahapan panjang. Bagi perempuan usia 30-an tersebut, percaya kadangkala seperti mencoba menapak sebatang kayu di atas sungai. Rawan, tapi perlu dilakukan jika tak ada jembatan untuk sampai ke seberangnya. Masing-masing mencoba mendefinisikan, dan mewujudkan. Dan masing-masing, usai perbincangan singkat di kafe itu, kembali pulang dan menuliskan catatan mereka atas sebuah kata: Percaya.

(Dari blog lama, 20 Juli 2005)

Ditandai: , ,