ShapeShifters: Titik Balik (5)

Posted on Oktober 14, 2017

0


gal-gadot-as-wonder-woman-14“Nanti akan ada berita otopsi, jika dia beneran mati. Tetapi jika belum, artinya dia masih hidup meskipun kaummu ramai memberitakan kematiannya,” kata mereka, ketika aku bercerita tentang Al Baghdadi, si pemimpin ISIS yang bolak-balik nongol hidup lagi, padahal sudah beberapa kali diberitakan kena rudal.

“Orang itu licin sekali,” komentarku.

“Dia bukan manusia,” kata mereka lagi. Tak mereka jelaskan apa maksud sebenarnya, hanya kemudian mereka banyak bercerita tentang anak buah Iblis yang makin lama makin merajalela.

Di kalangan mereka, ada spesialis penyebar berita bohong yang makin lama makin banyak jumlahnya. Satu dibunuh, dua lahir. Demikian seterusnya. Mereka beredar di kalangan manusia, membisikkan banyak sekali berita yang bertolak belakang, dan bertepuk tangan saat para manusia itu berkelahi satu sama lain. “Bahkan kaum kami pun banyak yang saling berkelahi karenanya,” kata mereka.

Sedemikian merajalelanya berita bohong, sampai mereka berkata bahwa ini lebih buruk ketimbang di masa silam. Sejarah terus berulang. Para pembawa kabar fitnah terus ada dari masa ke masa. Namun masa ini jauh lebih buruk.

“Dulu, ahli agama menjadi pendamai. Tetapi sekarang, kami melihat banyak sekali ahli agama yang justru menjadi pembawa berita bohong. Di negerimu dulu, juga di tempatmu yang ini,” kata mereka lagi.

“Oh ya?” tanggapku, dengan pikiran yang sedikit tak fokus. Belakangan aku memang mudah kehilangan konsentrasi, dan kurasa itu aneh. Aku semakin mudah jatuh sakit. Kepala sering terasa berat, sehingga rasanya aku tak punya keinginan lain selain tidur dan tidur lagi.

Mereka kemudian bercerita tentang bagaimana Iblis mempersiapkan calon pasukannya dari kalangan manusia. Salah satunya melalui persilangan benih antara lelaki ahli ibadah dengan perempuan kotor. Atau sebaliknya, perempuan ahli ibadah disisipi benih lelaki bejat.

Benih itu disilangkan tak hanya melalui pernikahan. Bisa melalui selingkuh, ketidaksengajaan, atau sengaja dicuri ketika mereka tak waspada. Kemudian, setelah menemukan calon pembawa janin yang cocok, benih itu ditanam padanya hingga lahir ke dunia. Kelak, si bayi akan tumbuh menjadi calon pasukan, yang serupa wataknya dengan si Iblis. Dari luar nampak sebagai ahli ibadah, sedangkan setiap hari yang dilakukannya bertentangan. Contohnya: orang-orang yang dari luar terlihat saleh, rajin shalat dan puasa, rajin menyeru kepada kebaikan; tetapi sekaligus pelit pada orang miskin, korupsi, zina, menipu, mengadu domba, dan lain-lain. Itu kata mereka.

Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak, ataukah mereka kembali mengerjaiku. Sebab selama beberapa kali interaksiku dengan mereka, ada sejumlah cerita yang tak konsisten, bahkan ketahuan ngarang abis. Yang ketika aku konfrontasi, mereka hanya tertawa terbahak-bahak. Puas, bahkan sempat bilang bahwa imajinasi mereka lebih baik dariku yang penulis novel. “Kamu kalah,” katanya.

Aku jawab, tentu saja mereka menang jam terbang. Seribu-dua ribu tahun iseng, tentu persediaan idenya jauh lebih banyak dibandingkan aku yang usianya tak lebih seujung kuku usia mereka. Doh!

*****

Nyeri kepalaku semakin sering. Rasa ingin muntah setiap kali hendak melakukan pekerjaan rutinku, semakin kerap juga. Mimpi buruk yang kualami juga semakin sering dan semakin tak masuk akal. Sangat menakutkan, dan membawa-bawa orang terdekat, seperti almarhum ayah dan ibuku. Beberapa kali kulihat beliau berdua berada di tempat yang buruk.

Aku merasa, mungkin ini semua karena aku terlalu jenuh dengan pekerjaan. Jenuh dengan media sosial. Jenuh dengan menulis. Aku perlu break. Kemudian aku memutuskan untuk undur diri sejenak dari dunia maya dan aneka training online yang kuampu. Bagiku, kesehatan jauh lebih penting. Uang selalu bisa dicari, tetapi jika tidak sehat, gimana mau cari uang?

Aku berusaha menikmati liburan musim panas dengan keluarga. Kami pergi kemping, jalan-jalan, dan ke Disneyland di Florida.

Barulah aku merasa sedikit lebih baik. Florida sedang di puncak panas-panasnya. Setiap kali keluar hotel, kami tak lupa membawa payung, air dingin dan botol semprot berisi beberapa potong es untuk menghalau hawa panas. Namun kalau terlalu panas, kami memilih kembali ke kamar hotel untuk ngadem dan bersantai. Ketimbang memaksakan diri keluar, dan akhirnya hanya letih dan senewen.

Namun yang tidak kusangka, justru di Florida, puncak kekacauan itu terjadi.

Sekitar jam enam-tujuh pagi, aku tertidur kembali. Dan dalam mimpi, aku didatangi oleh seseorang yang mengaku sebagai kerabatku. Ia nampak lebih segar dan lebih sehat. Namun entah kenapa hawanya tidak enak. Ia berkata bahwa sekarang ia bahagia, karena sudah diberi segala sesuatunya oleh sang raja.

Aku mengernyitkan kening ketika ia bertanya apa yang kuinginkan. Dan kujawab, bahwa aku tidak ingin apa-apa. Hidupku sudah cukup lengkap. Aku punya keluarga kecil, hidup tenang, tak lagi diburu-buru seperti saat di Indonesia dulu. Bisa tetap bantu keluarga. Segalanya sudah cukup. Aku tak perlu rumah mewah, juga tak perlu segala sesuatu yang berlebihan. What else do I need? 

Ia nampak sedih, namun tak lama kemudian mengumumkan bahwa sang raja akan datang. Dan sekonyong-konyong, ruangan jadi berbau apak. Seperti bau baju yang kena keringat dan tak dicuci berhari-hari.

Ledakan diiringi asap muncul. Raja itu datang. Ia membawa selembar surat perjanjian berwarna jingga menyala. Kertas dari api. Di dalamnya berisi pernyataan pengakuan atas eksistensi si raja, dan dia memaksaku menandatanganinya. Ia bilang bahwa aku adalah pewaris ilmu berikutnya yang telah ditunjuk oleh leluhur. Dan untuk itu, aku harus mengakuinya sebagai raja.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Aku berusaha bertahan tidak menandatanganinya, dan berteriak memanggil “teman-teman”ku. Dan itu fatal. Seharusnya bukan mereka yang kupanggil. Seharusnya nama Tuhan yang kusebut.

giphy

Kemarahanku serasa datang bergulung-gulung bak ombak, begitu menyadari jebakan itu.

Dan itulah awal dari perjalananku berikutnya, untuk menyapu bersih semua dari masa lalu, yang selama ini menyebabkan penderitaan bagiku dan kedua saudaraku.

Inilah perang bagiku.

*****

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in: Memoir Writing