Rumor Farewell Intercourse Law dan Sumber Anonim

Posted on April 30, 2012

0


Sejak tanggal 25 April, berita tentang ide Farewell Intercourse Law yang mengundang protes dari Egypt’s National Council for Women (NCW) marak memenuhi internet. Awalnya berita dilansir oleh surat kabar Al-Ahram, kemudian dikutip oleh Al-Arabiya News, dan dikutip oleh Daily Mail sebelum kemudian meledak seperti mercon rentengan. Satu berita dengan cepat bergulir ke segala media, dengan Twitter sebagai media paling aktif. Penyebaran link berita melalui Twitter yang saya amati melalui Huffington Post terjadi melalui hitungan menit, dan masih terus bergulir hingga sekarang. Sementara media lain pergerakannya melalui hitungan jam dan mereda di hari ketiga.

Sanggahan terhadap keakuratan berita tersebut pertamakali ditulis oleh Dan Murphy (The Christian Science Monitor), disusul respon melalui Twitter, lalu oleh jurnalis Mesir Sarah Marea Carr melalui akun Facebooknya, dan dari seorang aktifis Mesir, Ahmed Zaren, seperti dikutip oleh Tunisia Live News.Itu sekelumit sanggahan yang saya temukan online, dan semuanya bukan dari sumber utama seperti yang saya harapkan.

Saya menunggu berita konfirmasi dari pihak pertama; yakni pihak Parlemen Mesir dan National Council for Women sebagai dua lembaga yang namanya disebut dalam artikel tersebut. Atau lebih bagus lagi kalau ada respon dari Dr. Mervat al-Talawi (NCW) dan Dr. Saad al-Katatni.

Namun sampai capek saya browsing, tidak juga ketemu. Mungkin saja ada beritanya dalam versi bahasa Arab, tapi apa gunanya? Rumor terus merebak karena ada link berbahasa Inggris. Tanpa ada counter dengan link berbahasa Inggris pula, maka usaha untuk meredam rumor sama halnya seperti memburu tikus dalam game Whac-A-Mole.

Saya hanya menemukan “sanggahan resmi” yang dimuat oleh Daily Mail, yang menyebut identitas sumbernya sebagai “Sources inside the Egyptian Embassy in London” dan “The source.” Tidak jelas siapa itu, siapa namanya, apa jabatannya (ambassador, sekretaris, atau petugas sekuriti?). Tidak jelas juga sumbernya tunggal atau plural.

Menyebut sumber secara anonim seperti ini membuat rekor Daily Mail semakin buruk. Untuk berita yang sudah berefek luas seperti ini, sebagai pembaca saya mengharapkan setidaknya Daily Mail berusaha mencari sumber utama untuk klarifikasi; bukan sekedar mengutip dari sumber anonim sekalipun berasal dari Kedutaan Mesir.

Kedua, Daily Mail menghapus berita pertama yang mereka buat dan mengganti judul serta kalimat leadingnya. Menurut saya, cara ini tidak fair. Itu terkesan seperti upaya cuci tangan. Saya lebih suka cara Huffington Post dan IBTimes. Huffington Post menuliskan berita berikutnya dengan tambahan Editorial’s Note, Update, dan kalimat berbunyi: Although there have been reports that this law could be false and planted into the media by sources close to former dictator Hosni Mubarak, there has been no formal confirmation as of yet.  IBTimes juga langsung memuat berita update tanpa menghapus berita sebelumnya.

Cara dua media itu saya suka, karena memungkinkan pembaca melakukan ricek.

Lalu ada lagi satu sumber anonim yang cukup menarik dari Co-editor Women’s Views on News (WVoN), Emine Dilek. Dia tidak melakukan perubahan apapun terhadap artikelnya. Ketika ada yang menyodorkan argumen tentang kemungkinan hoax, Dilek mengatakan bahwa dia sudah mengontak NCW dan sumber anonim itu mengatakan bahwa poin tentang “Farewell Intercourse Law” itu memang benar ada, namun kemudian dihapus setelah menuai reaksi keras dari berbagai penjuru dunia. Begini selengkapnya kalimat dari Dilek :

“…as a matter of fact I got in touch with someone from the NCW on the phone but her English was not good. She said the provision was on the bill but after the worldwide outrage they removed it and still discussing the other parts of the bill, like the lowering of the age of marriage for girls to 14. She also has sent me 2 links http://www.youtube.com/watch?v=xb_EfWMCPb4 and this one http://www.youtube.com/watch?v=R7pTtY0ZDhA&feature=youtube_gdata_player. These are two newsmen from Egypt; although the video is not translated, you can click the translate button up top to read the comments. I believe there is more to this story than what is let out and I will definitely update the article if I hear anything more. Thank you.”

Dari cara Dilek yang tidak melakukan perubahan apapun serta menulis komentar dengan terbuka, saya percaya bahwa ada kemungkinan “rumor” itu benar. Mungkin masih ada “something fishy” dalam kasus ini; yang berusaha ditutupi dari pihak luar, dan itu membantu saya untuk mengambil sikap. Saya memilih skeptis, sampai ada klarifikasi jelas dari sumber pertama yang saya inginkan. Dan selama belum ada klarifikasi itu, maka segala berita maupun sanggahan mengenai kasus ini, dua-duanya saya anggap sebagai Hoax.

*****