Ketika Nama jadi Dilema

Posted on Maret 24, 2012

0


Di sini ada variasi untuk memberi nama pada anak. Orangtua, anak, atau anggota keluarga lain bisa menggunakan nama sama, dengan sedikit penanda. Misal: Ayahnya bernama Robert, dan dia menamai anaknya dengan nama Robert, Jr. Si anak bisa jadi menamai generasi berikutnya dengan nama: Robert Jr. III. Biasanya nama yang sama itu dipakai karena mengandung unsur romantisme yang kuat. Misalnya, si ayah adalah sosok yang dikagumi, sehingga generasi berikutnya menggunakan nama itu untuk mengenang dan mengabadikan sosok si ayah. Atau ini digunakan untuk mempermudah mengingat silsilah keturunan.

Tapi ini juga bisa bikin masalah, karena ada lebih dari satu orang dalam satu keluarga yang dipanggil dengan nama sama. Tempo hari saya berurusan dengan soal ini.

Ada tetangga yang saya tahu namanya Mrs. dan Mr Robert (nama samaran). Suatu kali, saya membaca berita di internet tentang keluarga ini. Pak Robert meninggal dunia bulan lalu dalam usia 86 tahun, dan sepertinya tidak ada yang tahu soal ini. Tidak ada keramaian, juga tidak ada berita yang beredar di blok saya. Pada ke mana para burung penyebar kabar di sini? Tumben mereka tidak up to date – begitu pikir saya.

Sore hari, begitu saya bertemu dengan salah satu “burung”, saya kabarkan soal itu. “Pak Robert ternyata sudah meninggal bulan lalu,” kata saya.

Sang “burung” terkejut bukan kepalang. “Apa??? Dia meninggal?? Oh my God, apa betul?! Kemarin aku baru ngobrol dengan dia!”

Sekarang giliran saya yang terkejut. “Ah, masa? Betul kan, yang punya rumah itu namanya Robert? Robert yang itu, kan??”

“Betul. Tapi dia masih begitu muda, oh…,” ujarnya setengah meratap, dan melanjutkan, “Dia masih muda, masih 40-an tahun….”

“Sebentar, sebentar… 40-an tahun? Yang meninggal ini usianya 86 tahun. Dan dia yang punya rumah ini.”

Saya sedikit ngotot karena tahu persis tidak mungkin berita itu keliru. Meskipun belum pernah bertemu langsung, saya tahu Pak Robert termasuk profil penting di daerah ini, jadi berita tentangnya sudah pasti bukan main-main.

“Iya, yang punya rumah ini memang Robert. Dia rencananya akan tinggal di sini menemani ibunya, Mrs. Robert yang sudah tua ….”

Zinggg!! Seketika itu juga saya langsung ingat, bahwa sang anak juga bernama Robert. Dan nampaknya sang “burung” tidak ngeh tentang profil sang ayah di blok ini, kecuali mungkin saya yang kebetulan mengubek-ubek informasi silsilah di internet. Buru-buru saya katakan, “Oh, berarti itu Robert yang lain. Sori, informasinya keliru. Nama akhirannya sama sih, mungkin saja itu dari keluarga yang lain.”

“Ya bisa jadi,” sang “burung” kelihatannya merasa lega. “Mungkin itu dari klan lain yang kebetulan nama keluarganya sama.”

Saya pun lega? Tidak juga. Karena sekarang saya justru khawatir kalau obrolan ini beredar di blok, menjadi bahan guyonan dan sampai ke telinga “Robert Jr”. Moga-moga tidak demikian. Ah, jadi “burung” ternyata nggak gampang …..

 

*******

Picture source: http://www.ozzienews.com/smoko/the-danish-have-to-name-their-children-from-a-government-list/

Ditandai: , ,
Posted in: Social & Culture