Dua Wajah Dajjal

Posted on Maret 27, 2026

0


Photo by Amr Taha™ on Unsplash

Setiap kali ada perang, selalu ada yang mengkaitkannya dengan pesan-pesan kenabian (prophetic messages). Yang paling populer adalah tentang tanda-tanda kiamat.

Hal sama terjadi pada perang kali ini, antara Amerika-Iran-Israel. Berbagai diskusi tentang perang dan hari kiamat, termasuk kemunculan Yajuj-Majuj dan Dajjal, tersebar ke mana-mana. Bahkan salah satu ulama senior Iran, yakni Ayatollah Sayyed Ali Hasan Ameli, menyebut Trump sebagai Dajjal. Ucapannya diamini oleh Alexander Dugin, seorang filsuf Rusia, yang juga menyerukan agar negara-negara Muslim bersatu melawan “Dajjal”, alias Amerika.

Gara-gara ini, saya jadi bertanya pada guru saya, “Apa betul si Trump sebenarnya Dajjal?”

Seperti yang saya duga, jawabannya adalah: “Bukan. Tapi dia dan yang sejenis dengannya, adalah para pembuka jalan. Istilahnya, bagian babat alas, sebagai persiapan menyambut kedatangan Dajjal.”

“Kapan Dajjal akan keluar?” tanya saya lagi.

“Masih lama. Insyaallah masih dalam bilangan di atas seratus tahun,” jawab guru saya.

“Apakah bisa dihambat? Maksud saya, apakah kita bisa menunda kedatangannya kalau kondisi saat ini diperbaiki?”

“Sayangnya, tidak,” kata guru saya. “Kedatangan Dajjal sudah ditetapkan waktunya, dan tidak ada penundaan.”

“Gimana dengan Yajuj Majuj?” tanya saya lagi.

“Temboknya masih utuh,” kata guru saya sembari tertawa.

Saya lupa tahun berapa tepatnya. Yang jelas, jauh sebelum pandemi dan saat Indonesia masih dalam masa akhir periode SBY. Saya ingat saat itu, guru saya datang memberi bocoran tentang kedatangan Jibril kepada Azazil. Jibril sudah mengabarkan tanggal pastinya, dan Azazil mempercepat proses penyelesaian proyek kedatangan sang Messiah palsu tersebut.

Saat pertama kali perang meletus, guru saya juga mengabarkan bahwa kendaraan Dajjal sudah dipersiapkan sejak lama. Ia disimpan dalam suatu tempat yang sangat rahasia dan sangat gelap, di mana tak ada satu pun makhluk yang bisa hidup di situ. Tempat itu perlahan-lahan akan terkuak seiring dengan perubahan cuaca dan alam yang ekstrim di Bumi, di mana Bumi tak lagi sanggup menutupinya secara alamiah.

Kita kerap bertanya-tanya seperti apa sebenarnya nanti penampakan Dajjal. Menurut guru saya, Dajjal tidak hanya muncul dalam satu wajah, melainkan banyak. Namun secara umum, klasifikasinya ada dua, yakni wajah yang buruk dan wajah yang sangat menawan. Dalam tradisi Islam, Dajjal digambarkan buta sebelah dan buruk rupa. Namun nanti, yang banyak mengecoh orang adalah wajahnya yang sangat rupawan, tutur kata yang sangat memikat, dan kesalehan yang dinampakkan secara luar biasa. Ia juga salah satu pemimpin manusia, yang tentu saja mudah untuk menggiring banyak orang sebagai pengikutnya.

Sesuatu yang indah sangat mudah menarik simpati dan pembelaan dari orang lain. Padahal belum tentu itu yang benar. Seperti Monster Frankenstein. Mudah saja orang melabeli sosok buruk rupa dan punya masa lalu kelam seperti dia sebagai setan atau Dajjal. Sementara Dr. Victor Frankenstein, yang menciptakan sang monster, bebas dari tuduhan karena dia berwajah simpatik, pandai, bertitel dokter, kaya-raya, dan berasal dari keluarga terhormat. Sehingga, meskipun percobaannya sangat tidak beretika dan melanggar beragam sisi kemanusiaan, ia praktis tidak terkena dampak labeling sosial, dan matinya pun karena kelelahan dan peneumonia. Jadi, di mata saya, ia masih jauh lebih beruntung meskipun harus menebus kesalahannya dengan mahal.

Seperti halnya Monster Frankenstein, Dajjal tidak muncul begitu saja. Ia adalah buah dari sakit hati dan dendam yang tak terobati sekian lama. Ia juga buah dari segala macam dukacita yang bergabung menjadi satu. Kedatangannya pun tidak ujug-ujug muncul. Itulah mengapa para pembabat alas tersebut datang, guna menyiapkan kondisi yang sangat ideal bagi kemunculan Dajjal.

Bagaimana kondisi yang ideal? Tentunya seperti yang sudah kita lihat sendiri, terutama belakangan ini. Berita palsu yang muncul di mana-mana. Perangkat elektronik yang menembus setiap rumah tanpa ada penghalang. Kerakusan, kekejaman, ketidakadilan, kekerasan, ketamakan terhadap status dan harta benda, serta penyembahan terhadap Iblis.

Sejak kasus Epstein terkuak, saya banyak kecewa. Sebab, beberapa dari pendukung Epstein ternyata adalah ilmuwan-ilmuwan top yang saya kagumi. Semisal Noam Chomsky. Anak jurusan Bahasa di mana pun, pasti kenal dengan nama yang legendaris ini, dan pasti tahu bagaimana gemilangnya ia dalam soal bahasa. Namun kelebihannya itu justru digunakan untuk mendukung angkara murka.

Demikian juga tokoh spiritual seperti Deepak Chopra. Beberapa kali saya mendapati kasus tentang tokoh-tokoh spiritual yang sebenarnya membajak kemanusiaan dan melanggar etika. Namun seperti halnya banyak orang, saya tetap berharap ada yang berbeda dan bisa dipercaya. Dan sejak membaca berita bahwa Chopra ternyata terlibat, rasanya tidak ada lagi yang tersisa dalam hati saya. Segala simpati, rasa hormat, kekaguman, menguap semuanya seperti setetes air di padang gersang.

Namun dari peristiwa tersebut, saya sadar, inilah kelemahan manusia. Juga, inilah sebabnya mengapa kita tak diperkenankan mengagungkan manusia di manapun. Sebab, kita perlu ruang untuk menyadari dan melihat posisi kita sendiri, terutama saat berhadapan dengan Zat yang paling luar biasa, yakni Tuhan, dan untuk mengenali siapa saja yang berpura-pura sebagai Tuhan.

Mengenali yang asli di antara yang palsu, tidaklah mudah. Sama halnya kelak, ketika Dajjal datang. Tak akan mudah bagi kita untuk mengenalinya. Sudah naluri manusia untuk mencari kepastian dan pegangan di tengah kekacauan, dan tanpa kejernihan batin serta perlindungan dari Tuhan, mustahil kita bisa selamat.

*****

Disclaimer:
Topik ini termasuk sensitif bagi sebagian orang. Maka, sebelumnya saya garis bawahi bahwa ini adalah bagian dari percakapan saya pribadi dengan guru spiritual saya. Sehingga, apapun perbedaan pendapat yang muncul, sepenuhnya beradadalam kerangka pengalaman pribadi.