Ia perempuan yang dulu kudapati tengah mengetik saat dini hari, ketika sebagian besar penghuni Jakarta tengah tertidur lelap. Ia perempuan yang dulu kurangkul erat, padahal baru bertemu sekali. Ia yang kini telah istirahat selamanya.
Salam, teh Pipiet. Aku menulis untukmu pada pukul empat sore di Michigan, atau pukul tiga dinihari di Indonesia. Saat ini, biasanya engkau sudah menyelesaikan beberapa halaman novel atau cerpenmu, karena engkau selalu bangun dini hari untuk shalat malam, kemudian menulis dengan laptop ungu milikmu.
Itu rutinitasmu. Di manapun engkau ada, engkau selalu menulis. Kapanpun ada waktu senggang, engkau juga. Saat menunggu antrian mengambil obat, saat duduk sendirian di kamar gawat darurat, saat menunggu panggilan boarding di gate bandara, dan saat apapun. Tidak ada waktu tersia-sia untuk hal lain, kecuali untuk anak, saudara, teman, dan hal-hal lain yang engkau anggap sangat penting. Ikut demo, misalnya. Mengomeli pemerintah, misalnya. Atau mencicipi aneka makanan yang gurih, karena engkau tidak lagi bisa menyantap hidangan bergula.
Sekarang, jam tiga dini hari di tempat barumu. Kuharap ada laptop ungu untukmu, yang dibawakan oleh para malaikat, supaya engkau tetap bisa menulis dan menghibur jiwa-jiwa di alam sana. Aku tidak tahu seperti apa keadaanmu sekarang di tempat itu. Namun aku percaya, setiap kebajikanmu akan menemanimu. Setiap yang kau cintai akan hadir menghiburmu. Dan aku juga percaya, engkau sudah puas dengan tugas-tugasmu. Engkau sudah menyelesaikan targetmu. Engkau juga sudah sempurna mengasuh banyak orang, banyak penulis, yang lahir berkat bimbinganmu.
“Aku belum meninggalkan warisan berharga untuk ummat, untuk masyarakat. Karena itu, aku bertahan. Sedikit lagi. Aku meminta kepada Penciptaku untuk memberiku tambahan waktu barang sejenak.” Demikian jawabmu ketika aku bertanya kepada jiwamu.
Aku menemui jiwamu dengan bantuan guruku kala itu, karena aku ingin tahu apa sebenarnya yang bercokol di dalam benakmu, sehingga engkau sedemikian kuat menanggung sedemikian banyak beban sedari muda. Kurasa tidak banyak orang yang sanggup bertahan dengan segala rasa sakit, dan organ-organ yang terambil satu demi satu. Engkau sangat tangguh, dan itu yang membuatku begitu mengagumimu.
Teh Pipiet, kita tidak selalu sejalan. Ideku dengan idemu tidak selalu bersambut. Pandangan politikku denganmu hampir bisa dibilang selalu berseberangan. Namun aku tidak melihat perbedaan ketika kita bicara. Setiap kali kita mengobrol, itu antara aku denganmu semata. Bukan dengan pandangan politik kita, juga bukan dengan pilihan jalan kita.
Teh, aku mengenal namamu pertama kali ketika aku masih kecil. Kala itu, aku membaca penggalan artikel tentangmu. Tentang mengapa engkau memilih nama pena Pipiet Senja. Katamu, ketika itu engkau melihat burung-burung pipit terbang pulang ke sarangnya saat senja. Mereka mengilhamimu, dan mungkin itulah yang membuatmu terus kuat bertahan. Sebelum senja benar-benar datang, engkau tetap akan terbang.
Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu pada akhirnya. Selama itu, aku hanya membaca namamu dalam beragam tulisan, dan kurasa engkau sangat jauh untuk kuraih. Namun di bulan November 2012, aku memenangi penghargaan Juara 1 Sastra Migran, dan aku diundang ke Jakarta untuk menghadiri acara pemberian penghargaan itu di gedung HB Jassin.
Di situlah aku bertemu denganmu secara langsung. Malam hari, kita keliling wilayah itu untuk mencari nasi kapau. Banyak kedai nasi kapau di pinggir jalan. Engkau memilih menu gulai tunjang, dan aku memilih menu gulai tambusu. Ada siraman kuah kental nan lezat di atas daun singkong rebus, dan kita berdua menyantapnya dengan lahap. Kita juga menggosipkan Arab-Arab ganteng yang berseliweran di hotel, yang tengah bertransaksi dengan para calo yang menawarkan mempelai sesaat.
Aku memintamu menginap di kamarku, dan kita banyak bercerita. Setelah itu, aku tertidur. Lantas tak berapa lama, aku terbangun oleh suara ketikan halus. Kupicingkan mata, dan kulihat jam di hapeku menunjukkan angka tiga dini hari. Sepagi itu engkau sudah bekerja. Menulis dan menulis, dengan laptop ungu itu.
Teh, aku masih memiliki catatan tentangmu. Kusimpan itu baik-baik, sebagai kenangan terakhir darimu. Aku tahu, waktu pasti akan memisahkan kita pada akhirnya. Maka kupastikan bahwa aku dan engkau selalu dalam good term. Kita tidak bermusuhan, kita tidak berselisih, kita menyingkirkan semua perbedaan. Kita sepenuhnya hidup dan berinteraksi dalam kemanusiaan dan pertemanan.
Terima kasih telah menemaniku selama ini, Teh. Terima kasih karena selalu meluangkan waktu untuk membaca setiap pesan-pesanku. Terima kasih karena dengan gembira menyantap setiap makanan yang kupesan buatmu. Terima kasih telah hidup dan setia sepenuhnya sebagai penulis.
Selamat jalan, Teh Pipiet. Senja telah menjemputmu. Senja telah menggandeng tangamu menuju padang rumput yang teramat luas, dengan warna jingga di ufuknya. Damailah, istirahatlah, dan tersenyumlah. Engkau telah sempurna dalam tugasmu sebagai manusia.
*****
Michigan, 9/29/2025, 04:41 PM EST






Posted on September 29, 2025
0