Peri Hutan

Posted on Juli 16, 2025

6


Selama dua hari, kucing di rumah ninggalin poop di lantai. Itu bikin stres banget, soalnya sebagian lantai di rumah adalah karpet. Yang paling nyebelin, kalau itu disertai dengan ngelap pantatnya juga di karpet. Jadilah garis coklat menjulur kayak ular, dan bikin ribet saat membersihkannya.

Guru spiritual saya bilang, “Oh, itu kucingmu lagi ngambek.”

“Lah, kenapa?”

“Dia ngambek karena bosen di rumah terus. Pengennya diajak main ke halaman berumput, ngejar kupu-kupu atau burung, tapi semua orang di rumahmu lagi sibuk. Tidak ada yang ngajak dia keluar atau ngobrol.”

Yaelah… Segitu ngambeknya, sampai ninggalin poop. Wkwkwkwk…

“Lha itu ke mana, teman-temannya?” tanya saya.

“Lagi pada pergi juga,” kata guru saya.

Kucing saya punya dua “teman”, berupa peri hutan. Biasanya mereka lari berkejaran di rumah, dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi. Demikian bolak-balik, tanpa mengenal waktu. Bisa pagi buta, bisa juga malam hari.

Awal mula saya tahu ada peri hutan adalah ketika si Libby (kucing) bolak-balik menerkam sajadah di tempat yang sama. Tadinya saya pikir dia cuma caper, alias cari perhatian. Tapi lama-kelamaan, di bagian sudut sajadah itu tercium bau wangi. Gabungan antara bau bunga dan permen. Saya tahu itu bau dari sesuatu yang lain, karena aromanya beda dengan parfum saya.

Akhirnya saya bertanya pada guru saya, kira-kira aroma itu berasal dari apa. Dia menjawab, “Itu peri hutan yang nyasar di rumah kamu. Tadinya ia bersama rombongannya terbang di halaman belakang. Lalu dia mencium bau madu di sendok yang kamu geletakkan di dapur. Dia suka madu, jadi dia berbelok masuk ke rumahmu untuk makan tetesan madu dari sendok itu.”

Peri hutan penyuka madu itu ukurannya kecil banget, sebesar ujung jempol. Ia punya sayap. Biasanya, di musim semi, ia dan rombongannya terbang ke sana kemari untuk mencari bunga, atau ke padang rumput untuk bernyanyi. Saat nyasar di rumah, temannya hanya si Libby. Ia biasanya duduk di kepala Libby, atau main kejar-kejaran.

Ada satu lagi peri hutan yang mampir. Bentuknya beda, kata guru saya. Mirip monyet dengan ekor panjang, dan suka melenting dari satu tempat ke tempat lain. Ia bisa melompat hingga dua meter dari lantai ke dinding. Ukurannya juga kecil banget. Peri ini tinggalnya di rawa-rawa, dan ia tertarik berbelok ke rumah saya karena mencium bau air di tempat minum si Libby.

Awal mula saya tahu keberadaannya adalah ketika saya mencium aroma lumpur di bawah tempat tidur, kemudian juga mencium bau serupa di meja, dan kadang-kadang di dinding atau pegangan tangga. Ternyata aroma itu berasal dari dia. Kata guru saya, jika saya bisa melihat lebih jauh, ada banyak jejak kakinya di dinding dan tangga.

Selain peri, ada juga kucing jejadian. Warnanya pink dengan mata biru, dan bentuknya bulat gemuk. Ia titipan dari satu makhluk yang kadang mampir ke rumah. Jadi sekarang rumah saya berfungsi sebagai TPK (Tempat Penitipan Kucing). Kucing pink itu juga suka berkejaran dengan Libby, sampai kursi terjungkal. Kadang pemiliknya marah-marah dan mengadu ke guru saya, “Itu si Yuli suka naruh bukunya sembarangan di lantai. Kucingku jadi kesandung!”

“Halah, itu kan kucingmu aja yang ngeblangsak,” kata guru saya kepadanya.

Begitulah. Orang lain melihat rumah kami tenang dan senyap, cocok untuk meditasi. Tapi sebenarnya ramai juga dengan kehadiran makhluk-makhluk itu.