
Salah satu pertanyaan yang menyertai ucapan Selamat Lebaran tahun ini adalah, “Gimana keadaan di Amerika? Kamu aman?”
Saya jawab, “Alhamdulillah aman. Yang nggak aman itu justru yang di luar Amerika.”
Untuk orang yang termasuk jarang bepergian, saya tidak mengalami dampak berarti dari perang yang berkobar belakangan ini. Paling-paling hanya mikirin soal harga BBM yang merayap ke atas pelan-pelan, dan membuat orang ekstra teliti menghitung pengeluaran untuk bensin. Dan karena saya hanya keluar rumah bila perlu banget, maka saya tidak terlalu ambil pusing dengan soal ini.
Keadaan sekarang mulai mendekati sama dengan saat krismon tahun 2007 dulu. Harga-harga merayap naik, sementara bisnis banyak yang bertumbangan. Saat itu, kami menjual mobil Saturn kami dan menggantinya dengan leasing mobil Toyota yang lebih hemat bahan bakar. Belakangan, kami jadi suka banget dengan kualitas produk Toyota, dan memutuskan beralih ke brand ini.
Krisis tidak pernah menyenangkan, tentu saja. Dalam hal apapun. Di saat krismon, mata rasanya sepet banget melihat toko-toko besar gulung tikar, berita yang tiap hari didominasi oleh kabar pasar uang yang kolaps, serta protes konsumen tentang kualitas mobil Amerika yang memang boros bensin.
Namun krisis juga menciptakan banyak perubahan baik. Karena harga bensin melambung tinggi, orang-orang mulai beralih membeli mobil yang hemat bahan bakar. Perusahaan otomotif mulai mendengarkan keluhan konsumen dengan sungguh-sungguh. Saat itu, raksasa otomotif Amerika pada limbung terkena krisis, dan untuk bisa survive, mereka pun memangkas jumlah staf serta menghentikan produk yang tidak lagi relevan dengan kebutuhan konsumen. Bahkan saat itu, CEO perusahaan Ford menyatakan diri untuk hanya menerima gaji sebesar 1 dollar, sampai dia berhasil memulihkan kondisi Ford sepenuhnya.
Perubahan lain yang terjadi adalah gaya hidup. Demi menghemat uang, banyak orang beralih menggunakan alternatif yang lebih efisien. Mereka berangkat lebih awal ke tempat kerjanya dengan mengayuh sepeda. Mereka juga menghemat belanja dengan cara menanam buah, sayur, dan aneka rempah di halaman. Ketika krisis berakhir, sebagian masih mempertahankan prinsip efisiensi itu, dan menjadikannya sebagai gaya hidup baru.
Saat pandemi juga demikian. Dalam keadaan sulit karena mobilitas dibatasi dengan ketat, layanan online justru booming dan beraneka ragam inovasinya. Hal-hal yang sebelumnya tak pernah terpikir bisa dilakukan, akhirnya justru terwujud di masa krisis itu. Parkir yang disetting khusus untuk melayani pembeli online, konsultasi kesehatan via telehealth, curhat dengan psikolog lewat Zoom, QR code, robot delivery untuk antar paket makanan dari restoran, dan sistem pendidikan online semakin mudah dan efisien. Boleh dibilang, hampir tidak ada kata “tidak mungkin” dalam kamus inovasi.
Sekarang, krisis yang menghadang di depan mata adalah kelangkaan BBM. Meskipun di Amerika bakal terasa juga dampaknya, namun ini akan mendorong produksi dan penjualan mobil listrik. Sekarang harganya masih relatif mahal, namun di masa mendatang akan lebih terjangkau, dan pada satu titik nanti, semua mobil dengan bahan bakar BBM akan pensiun.
Amerika sendiri punya cadangan minyak yang cukup besar, ranking 8 di dunia. Logikanya, meskipun kepepet, negara ini bisa banget survive dengan cadangan minyaknya. Namun, bukan demikian cara berpikir Amerika. Negara ini punya mindset menyimpan sebanyak mungkin segala sumber daya yang dimiliki, dan menghabiskan cadangan sumber daya negara lain dulu. Itu pattern-nya. Tujuannya jelas banget: untuk masa depan, dan kalau bisa, untuk selamanya.
Saat ini, semasa perang, banyak orang di Indonesia dan dimanapun, berharap Amerika akan jatuh. Namun hanya sedikit saja yang menyiapkan diri mereka sendiri. Terutama negara-negara yang masih membanggakan diri dengan ekspor bahan baku dan hasil alam semata, dan tidak berpikir jangka panjang. Semua dijual dengan harga semurah-murahnya dan mengabaikan kerusakan yang terjadi. Seperti sawit, misalnya. Kita bangga sebagai pengekspor sawit terbesar di dunia, padahal ongkosnya adalah kerusakan habitat alam dan plasma nutfah. Sementara negara-negara yang membeli produk tersebut, alamnya masih banyak yang asri dan dirawat. Di sini misalnya, untuk mancing ikan saja ada aturan dan dendanya. Ikan harus mencapai ukuran tertentu, baru boleh diambil. Jika belum, maka harus dilepas. Berburu rusa juga ada musim dan aturannya, demikian pula dengan berburu itik liar (goose). Coba aja di Indonesia. Ada rusa jalan-jalan sebentar, lima menit kemudian pasti berakhir jadi rendang di panci.
Amerika akan kehilangan dominasi di dunia global. Itu pasti. Terutama sebagai warisan dari ulah Trump. Namun posisinya masih tetap akan kuat, selama negara ini cerdik mengatur cadangan sumber daya dan strategi politiknya. Yang nggak survive itu jelas negara-negara lain yang tidak punya persiapan dan strategi matang. Iran, misalnya. Ia mungkin menang dalam perang kali ini, namun akan segera disusul oleh krisis berikutnya. Orang Iran punya mental resilient, cerdas, dan generasi mudanya punya input lebih luas. Mereka akan mengubah wajah Iran. Kaum perempuannya akan dominan muncul. Selamat tidaknya Iran dalam krisis selanjutnya, tergantung dari cara mereka memandang inovasi politik dalam negerinya sendiri.
*****


Posted on Maret 23, 2026
0