Cangkang

Posted on November 27, 2025

0


Photo by Philipp on Unsplash

Hewan yang suka pindah rumah, salah satunya adalah Kelomang atau Kecomang, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut Hermit Crabs. Ia adalah golongan Crustaceans, yang tidak bertulang belakang dan memiliki cangkang.

Kelomang akan berpindah ke cangkang baru jika cangkang lama tidak lagi cukup untuk badannya yang bertumbuh. Di tempat yang tercemar, tidak jarang mereka menggunakan sampah plastik atau kaleng juga, yang mirip wadah cangkang, sebagai rumahnya. Tragis, ya?

Ada juga hewan lain yang beradaptasi dengan cara memperluas cangkangnya. Ini dilakukan oleh bangsa Mollusca, seperti Bekicot dan Nautilus. Seiring dengan pertumbuhan mereka, cangkangnya juga ikut tumbuh. Ruang dalam cangkang menjadi bertambah luas dan bertambah lebar, meninggalkan jejak berupa alur melingkar di cangkang tersebut. Mereka tidak pindah ke cangkang lain seperti Kelomang.

Lantas, ada apa nih, kok bahas cangkang?

Sebenarnya, ini bermula dari kegelisahan saya sendiri. Ketika memutuskan untuk bertumbuh, dan berhasil, ternyata saya masih belum sepenuhnya mau untuk berpindah ke lingkungan baru. Saya masih mau bersama dengan lingkungan sebelumnya, dengan gaya yang sama, dengan topik bahasan yang sama, namun dengan pencapaian baru.

Ternyata itu mustahil. Saya malah merasa seperti orang yang palsu. Seperti memaksakan diri untuk menjalani ritme hidup dan konten yang sama seperti sebelumnya, padahal itu tidak lagi sesuai dengan pertumbuhan yang sedang saya jalani. Sudah beda banget, tetapi tetap saya paksakan untuk masuk semuanya dan berharap bisa menciptakan harmoni. Sebuah harapan yang ternyata cukup challenging untuk dijalani.

Akhirnya, batin saya capek. Saya memutuskan untuk cut dulu sejumlah orang, grup, atau tema bahasan yang itu-itu saja, dan menenangkan diri. Saya introspeksi lagi, mengapa berat banget buat saya untuk “pindah cangkang”? Mengapa saya masih ingin mempertahankan hal-hal lama dan merangkul orang-orang yang sama, sementara pertumbuhan yang saya inginkan tidak lagi seiring dengan mereka? Mengapa pula harus saya yang membereskan masalah mereka semua, sementara mereka tidak juga mengubah mindset dan tidak juga ada perkembangan berarti dalam hidup mereka? Masalahnya tetep itu-itu saja dari tahun ke tahun. Tidak ada perubahan, tidak ada perkembangan, kecuali umur dan beban hidup yang terus bertambah dan minta dicarikan solusi terus.

Setelah introspeksi, saya menarik kesimpulan bahwa kalau memang mau berubah, ya jangan setengah-setengah. Sekalian tinggalkan cangkang yang tidak lagi sesuai, bikin cangkang yang lebih luas atau cari cangkang baru. Kita tidak selalu bisa membawa semua orang dalam satu kereta, kecuali jika kita sudah bisa membangun sistem dan kereta yang tepat. Selama sistem itu belum ada, kereta belum tersedia, maka sebaiknya saya fokus pada goal diri sendiri dulu, bukan goalnya orang lain.

Dari introspeksi ini, saya akhirnya bisa melihat dengan lebih jelas. Ternyata, selama ini hanya ada tiga orang yang bisa berjalan seiring dengan saya. Yang satu tidak pernah sekalipun mengeluh, rajin kerja serta menabung, yang satu suka diskusi tentang planning hidupnya dan langsung dikerjakan, yang satu lagi selalu memastikan ada timbal balik dalam setiap interaksi. Selebihnya, ternyata termasuk beban. Sebab, mereka hanya menginginkan bantuan langsung atau uang, tanpa mau mengubah diri sendiri. Mereka hanya mau berbagi penderitaan, tanpa mau memberikan kontribusi balik. Jadi maunya, saya yang beresin masalahnya, saya yang stres dengerin segala ratap tangis dan curhatnya, saya yang bantuin cari jalan keluar, dan mereka bisa bernapas lega seraya tetap menyimpan beban yang sama. Maunya rumah mereka bebas dari bau sampah, tapi tidak mau buang sampahnya.

Mungkin ada yang mengalami hal serupa. Perhatikan, apakah hidup kamu stuck di orang-orang atau lingkungan yang itu-itu saja? Apakah setiap kali kamu mengalami kemajuan, setiap kali itu pula kamu merasa wajib untuk membereskan kehidupan orang lain? Atau apakah yang datang ke kamu ya itu-itu saja masalahnya? Apakah kamu kecanduan untuk mendengarkan masalah orang lain, sibuk membantu membereskan urusan mereka, sementara goalmu sendiri terabaikan?

Jika iya, maka saatnya buat kamu untuk kembali ke prioritas. Tak perlu merasa bersalah karena tak bisa membawa semua orang dalam gerbong keretamu. Sometimes it isn’t about you at all. Sometimes they simply don’t want their lives to change. Kamu tidak bisa memaksa seseorang yang belum siap untuk berubah, dan kamu juga sebaiknya tidak mengorbankan fokusmu demi mereka. Kamu juga perlu untuk menjenguk ke kedalaman jiwamu sendiri, guna mencari jawaban mengapa kamu tetap tertarik untuk mengurusi dan ngemong orang lain yang tak mau berubah. Begitu kamu sudah menemukan jawabannya, akan lebih mudah bagimu untuk mengembangkan cangkang yang lebih besar atau pindah ke cangkang baru.

*****