Pseudo God, Greed, Gollum

Posted on Juli 21, 2024

1


Sumber ilustrasi: Forbes

Sejak beberapa hari ini, suasana di sekeliling saya tenang. Tidak ada lagi bau gosong, mimpi buruk, hawa dingin yang aneh, rasa merinding, rasa seperti diawasi dari belakang, bunyi langkah kaki atau suara kesibukan di dapur (yang tak kelihatan orangnya dari kamera), dan aneka bentuk gangguan lainnya yang berasal dari dunia sebelah.

Saking tenangnya, saya malah curiga dan mencari-cari. Maklum, jika sudah terbiasa alert alias waspada, badan serta pikiran kita belum tentu bisa menerima kenyataan baru. Mereka akan kaget dan harus re-learn, alias belajar kembali dan mengatur ulang sistem dalam diri kita. Itu sebabnya, banyak orang kembali melakukan kesalahan serupa atau terjebak lagi dalam situasi toksik, sebab badan dan pikiran mereka terlanjur merasa nyaman dengan keadaan tersebut. Mereka tidak menyadari bahwa tubuh dan pikiran mereka harus dilatih kembali, agar bisa permanen berada dalam keadaan atau mindset baru.

Akhirnya, setelah beberapa saat, saya bisa menyimpulkan. Oalah… ternyata ini semua muaranya tentang benda-benda pusaka keluarga (heirlooms) tersebut, toh?

Sungguh di luar nalar, betapa orang bisa sedemikian percaya pada kekuatan benda-benda semacam itu. Bahkan lebih percaya pada tuah benda pusaka ketimbang Tuhan. Apa-apa dihubungkan dengan tuah pusaka, dan rasa percaya dirinya juga dibangun dengan kepemilikan benda-benda itu. Saking percayanya, mereka pun sampai sanggup melakukan kekejian terhadap orang lain. Padahal, belum tentu orang yang dikira menyimpan pusaka incaran mereka itu benar-benar menyimpannya.

Benda-benda itu sudah berubah menjadi Tuhan bagi mereka. Pseudo God, alias tuhan palsu, yang tidak mereka sadari merasuk betul dalam hati dan pikiran mereka.

Saya sampai bilang pada adik saya, “Dari dulu Mbak mencapai segala macam hal tanpa bantuan apapun dari pusaka-pusaka itu. Mbak lulus kuliah, bukan karena pusaka. Mbak berhasil bekerja di lembaga internasional, bukan karena pusaka. Mbak bertemu jodoh dan akhirnya tinggal di Amerika, juga bukan karena pusaka. Semua pencapaian Mbak itu karena ada skill, attitude, mindset, komunikasi, networking, strategi, dan beking doa ortu kita. Nggak ada yang namanya pusaka ikut-ikutan bantu Mbak ngerjakan tes atau ngirim CV ke mana-mana.”

Sumber ilustrasi: CBR

Saya baru menyimpan benda-benda itu setelah pindah ke Amrik. Itu pun saya bawa sebagai kenang-kenangan (keepsakes), bukan sebagai pegangan atau apalah itu. Ada dua benda yang saya bawa, yakni tasbih kayu dan kitab kuno yang keduanya mungkin berumur 500 tahun lebih saat ini. Tasbih tersebut saya buang di Florida tahun 2017, ketika saya shock dengan kedatangan raja jin yang mengintimidasi saya. Sedangkan kitab tersebut lenyap begitu saja, ketika saya hendak membakarnya.

Pasca meninggalnya kakak saya, ada dua pusaka yang ternyata disimpan olehnya, yakni surban dan mata tombak. Saya menimbang-nimbang, apakah benda tersebut disimpan atau dimusnahkan saja. Sebab, saya menangkap hawa yang tidak enak dari kedua benda itu. Seolah-olah saya berubah jadi seperti Gollum dalam film The Lord of the Rings. Gollum adalah karakter yang menggambarkan obsesi terhadap cincin bertuah, hingga ke taraf mengubah dirinya, dari yang semula sebagai manusia biasa menjadi jahat dan buruk rupa. Inilah Efek Gollum. Dalam film itu, digambarkan bahwa hanya ada satu orang (Frodo Baggins) yang bisa membawa cincin tersebut tanpa terpengaruh oleh hawa benda tersebut.

Adik saya juga tidak menyukai benda-benda semacam itu, dan memutuskan hendak membakarnya. Namun, istrinya mencegah dan menyarankan agar dua benda itu diserahkan kembali ke keluarga. Akhirnya, saya menitipkannya pada teman baik saya yang terpercaya.

Teman saya tadinya was-was, kuatir bahwa dua benda itu akan berpengaruh buruk padanya. Saya bilang, “Nggak kok, itu kan cuma benda tua. Nggak ada apa-apanya. Orang-orang itu aja yang sok mendewakan dan menganggap benda itu ada isinya.”

Akhirnya, ia bersedia. Namun entah kenapa, ia lupa melulu untuk mengantarnya ke rumah keluarga. Hingga 1.5 tahun kemudian, barulah ia ingat dan membawanya ke sana. Dan bersamaan dengan itu, hilang juga segala macam gangguan yang ditujukan ke saya.

Keserakahan (Greed) adalah salah satu dari tujuh dosa utama, yang diwakili oleh pangeran neraka/iblis bernama Mammon. Dalam kitab-kitab samawi, Mammon adalah iblis yang menyebarluaskan kerakusan terhadap dunia. Spesialisasi jebakannya adalah melalui farmasi/pengobatan, uang, emas, dan harta karun. Orang yang terkena pengaruh Mammon akan berubah menjadi rakus, dengki, jahat, dan terobsesi oleh kekayaan, hingga melakukan semua hal (termasuk mengingkari Tuhan) demi mendapatkan harta.

Hawa dari benda-benda pusaka itu mengingatkan saya kepada Mammon. Itu sebabnya, saya membicarakannya dengan Diana, salah satu sepupu saya yang rupanya punya kepekaan berlebih juga tentang dunia sebelah.

Saya bilang padanya, “Salah satu pusaka itu hawanya jahat, Din. Jadi yang pegang harus benar-benar bersih hatinya. Seperti dulu, leluhur kita berusaha keras agar tidak dihinggapi rasa tamak. Mereka tidak pernah menetapkan tarif kepada orang-orang yang datang berobat atau butuh bantuan. Kalau dikasih, diterima. Kalau tidak, ya juga tidak meminta. Setiap kali ada oleh-oleh dari tamu, itu dibagikan kepada orang sekampung. Setiap kali panen, hasilnya juga dibagikan ke seluruh penduduk. Yang diambil cuma secukupnya saja, sekedar untuk makan tiap hari.”

Semoga yang memegang pusaka tersebut bisa menyadari ini. Sebab jika tidak, maka pusaka itu akan kembali makan korban, seperti sebelum-sebelumnya. No one wants that. Jaman sudah terlalu tua. Perang abadi antara pengikut Tuhan dan pengikut Iblis semakin nyata. Kita pun tidak hidup selamanya.

******