Tuhan yang Lain (2)

Posted on Desember 1, 2023

0


Beberapa rahasia besar kehidupan, dibuka kepada kita menjelang usia 50-an. Mungkin karena di usia itu, manusia umumnya sudah jauh lebih matang. Sehingga, berita semengejutkan apapun, insyaallah bisa dicerna lebih dahulu dengan pikiran tenang. Jadi memang benar, setiap hal ada waktunya, dan ada alasannya.

Ketika bertemu dengan Ratu Laut Selatan untuk kedua kalinya bulan September lalu (baca postingan sebelumnya), barulah saya tahu tentang salah satu rahasia leluhur yang tersimpan rapi selama ini. Yakni, bahwa mereka punya hubungan khusus dengan sang Ratu.

Itu saya ketahui, karena sang Ratu datang bersama dengan salah satu leluhur saya.

Ketika melihat mereka berdua datang, saya bergumam, “Oh, pantas.”

Ya, sekarang semuanya jadi lebih terang-benderang bagi saya. Satu demi satu simpul yang saya temukan selama hidup, akhirnya tersambung, dan semuanya jadi terasa make sense.

Kedekatan mereka tentu lebih dari sekedar dekat. Sebab, tidak mungkin sang Ratu akan datang begitu saja bersama dengan ruh leluhur, jika tidak ada sesuatu yang khusus di antara mereka. Juga tidak mungkin ia menemui saya begitu saja tanpa alasan. Emangnya saya siapa? Sakti enggak. Penggede juga bukan. Jadi, satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah bahwa sang Ratu dulu adalah pelindung leluhur, pernah dimintai bantuan oleh leluhur untuk beberapa hal, atau mungkin punya relasi spesial lainnya. Bukan rahasia lagi. Orang jaman dulu kan emang begitu. Mereka sangat kuat hubungannya dengan dunia lain, dan memang dalam garis silsilah, ada beberapa leluhur yang pernah menikah dengan non-manusia. Termasuk salah satunya dengan sang Ratu.

Anyway, itu tidak jadi soal. Sebab yang menjadi fokus perhatian saya adalah “konteks” dari kedatangan sang Ratu tersebut.

Sehari sebelumnya, saya dalam kondisi galau dan kecewa berat dengan Tuhan. Saya tidak habis pikir, mengapa untuk rejeki yang menurut saya cuma seuprit, susahnya bukan main. Saat itu saya sempat bilang, “Kan hamba cuma minta sedikit, ya Allah. Kenapa untuk itu saja dipersulit? Padahal yang hamba minta juga wajar, tidak berlebihan, tidak untuk tujuan buruk. Why?

Dalam keadaan kecewa, saya pun mematikan lampu kamar dan bersiap untuk tidur. Di saat itulah, leluhur dan sang Ratu muncul.

Melihat kedatangan mereka, saya tertegun. Sebab, desiran di hati saya memberitahu bahwa itulah jawaban dari komplain saya terhadap Tuhan. Seolah-olah hati saya berkata, “Kamu kecewa dengan ketentuan Tuhan kamu? Kalau kamu nggak terima, tuh minta saja sama mereka.”

Begitu sosok mereka berdua hilang, saya langsung istighfar dan membaca doa panjang lebar. Intinya, saya minta maaf berkali-kali pada Tuhan. Deklarasi ulang. Menyatakan dengan jelas bahwa saya bersedia menerima ketentuanNya. Menyatakan dengan jelas bahwa sayalah yang sotoy, wkwkwkwk…. berani-beraninya komplain sama Tuhan. Emang lu siape, tong? Wkwkwkwk….

Yup, deklarasi itu penting. Sebab, itulah yang menjadi fondasi keyakinan yang kita sebut “iman” dalam konsep monoteisme ala Islam. Keimanan harus dinyatakan dengan jelas. Siapa Tuhan yang kita sembah, juga harus jelas. Kita tidak bisa mencampuradukkan antara satu sesembahan dengan sesembahan lainnya. Kita tidak bisa baca syahadat di pagi hari sebagai deklarasi kesetiaan kepada Allah, kemudian ujug-ujug meminta kelancaran rejeki kepada tuhan yang lain. Itu jelas tidak bisa dan tidak diperbolehkan.

Saya dan beberapa leluhur jelas bersimpang jalan dalam hal ini. Itu pilihan, dan sebagai konsekuensinya, tentu saya harus mengikuti ketentuan dari Tuhan saya. Jadi meskipun hubungan leluhur dengan sang Ratu sangat dekat, saya tidak boleh meminta bantuannya dalam hal apapun. Segala permintaan dan perlindungan harus ditujukan kepada Tuhan saya. Adapun urusan leluhur dan sang Ratu, biarlah itu menjadi urusan mereka sendiri.

Begitulah intinya. Saat kita bersimpang jalan dalam hal keyakinan tentang Tuhan, kita memang tidak bisa lagi bersama. We may love each other, but we cannot be together.