Tarian Matahari, dan Siang yang Semakin Panjang

Posted on Juni 21, 2023

0


Tepat hari ini, tanggal 21 Juni 2023, adalah saat yang disebut dengan Summer Solstice. Yakni, saat di mana jarak antara Bumi dan Matahari paling jauh, terutama di belahan Utara. Nanti puncaknya pada pukul 10:57 pagi Eastern Time. Siang menjadi lebih panjang, dan malam semakin singkat.

Buat Muslim seperti saya, ini saat yang kagok. Sebab, mata sudah mengantuk tapi tidak bisa tidur sebelum Maghrib. Sementara Maghribnya sekarang di sini pukul 9 malam lewat. Sedangkan Subuh rasanya berlari semakin cepat. Sekarang jam 4 pagi sudah adzan.

Summer Solstice bagi suku asli Amerika maupun kaum pagan (penganut animisme), adalah waktu yang istimewa. Energi di waktu ini dianggap sangat kuat, sehingga mereka memanfaatkannya untuk berdoa, meditasi, atau mengucapkan manifestasi. Kaum pagan suka merayakannya dengan menyalakan api unggun semalaman sembari berdansa. Sedangkan suku asli Amerika merayakannya dengan upacara adat bernama Tarian Matahari (The Sun Dance), yang berlangsung kurang lebih selama 7 hari.

Suku asli Amerika menandai saat diadakannya Tarian Matahari ini dengan mengamati alam, terutama rerumputan, pohon cottonwood, dan populasi bison liar. Ketika rumput sedang tinggi-tingginya, pohon cottonwood sedang hijau-hijaunya, dan kumpulan bison berarak dalam jumlah besar, maka itulah saat yang tepat untuk mengadakan upacara.

Upacara diadakan di sebuah tempat khusus dekat sungai. Air menjadi salah satu elemen utama, untuk memandikan para peserta upacara dengan tujuan penyucian. Mereka membuat semacam lingkaran arena, di mana sebatang pohon cottonwood nanti akan ditegakkan sebagai tiang.

Cara menebang pohon cottonwood ini juga tidak sembarangan. Pohon ini dianggap suci, karena jika kita memotong ujung pohonnya, maka kita akan mendapati pola berbentuk bintang di dalamnya. Tim penebangan terdiri dari beberapa orang (laki-laki dan perempuan) yang berbaris rapi seperti seekor lipan. Seorang laki-laki terkuat akan ditunjuk untuk menebang, sedangkan yang lainnya berjaga-jaga untuk memastikan batang pohon tidak menyentuh tanah. Ketika pohon yang ditebang itu mulai miring, mereka menahannya, kemudian memanggulnya bersama-sama ke arena. Setiap ranting yang patah atau jatuh, diusahakan ditangkap segera sebelum menyentuh tanah.

Rombongan para suku yang diundang pun mulai berdatangan. Mereka berkemah dalam bentuk lingkaran, dan setiap suku mengirimkan pemburu terbaik mereka untuk menangkap bison. Bison itu harus mati dalam sekali panah, jadi keahlian berburu sangat diperlukan.

Bison yang ditangkap itu kemudian disembelih. Kepalanya dipasang di tengah arena di atas tiang, dagingnya dimasak untuk dibagikan ke setiap peserta (terutama yang miskin dan lemah), sedangkan kulitnya dijadikan hiasan tempat upacara dan sesembahan. Lidah bison jadi bahan sesaji. Mulut dan hidung bison diisi dengan rumput sebagai simbol harapan dan doa meminta kesuburan alam, agar rumput senantiasa ada dan bison selalu tersedia untuk makanan mereka.

Para peserta akan puasa dan melukis tubuhnya dengan warna-warni tanah liat. Setelah itu, mereka akan menari berkeliling arena. Sebelum menari, para peserta upacara disucikan dulu dengan mandi uap di gubuk pinggir sungai. Batu-batu dipanaskan di dalamnya, lalu disiram air sehingga menimbulkan uap. Ya kayak mandi sauna, gitu lah. Nanti setelah upacara, mereka akan dibersihkan lagi dengan air dan ramuan daun sage untuk obat jika diperlukan.

Para penari (yang pria) disambungkan dengan tiang melalui seutas tali yang terhubung ke badan mereka. Bagian ini yang bikin merinding. Sebab, tali itu ujungnya dihubungkan dengan potongan tulang yang disematkan ke peserta yang telanjang dada. Sakitnya bukan main, tentunya. Apalagi kemudian dibawa menari berkeliling pohon. Darah tentu saja akan mengucur, dan kulit bisa robek.

Karena seremnya, kaum kolonialis sempat melarang upacara ini, dan suku yang nekat melakukan akan dihukum berat. Ini juga standar ganda. Kaum kolonialis itu menganggap upacara ini biadab dan tak berperikemanusiaan. Tapi mereka enteng saja melakukan pembunuhan massal, penjarahan, dan pemerkosaan terhadap suku asli. Padahal, suku asli tersebut sukarela aja melakukan upacara itu, sebagai bentuk rasa terima kasih terhadap alam yang sudah memberi banyak kepada mereka. Istilahnya, mereka mempersembahkan darah dan keringat kembali kepada Bumi.

Sekarang, upacara seperti ini banyak dihidupkan kembali oleh para suku asli, dan mereka mengajarkan kewaskitaan leluhurnya kepada generasi berikutnya. Banyak generasi muda yang baru tahu tentang tradisi ini, dan mereka mengikutinya atau sekedar observasi.

Kalau bagi saya, ini jadi menarik, karena upacara itu melibatkan banyak unsur mistik. Hubungan antara suku asli Amerika dengan alam sedemikian kuat, sehingga para spirit, arwah, atau makhluk tak kasat mata lainnya bersedia menampakkan diri secara langsung, bergabung untuk menari dan menyanyi bersama manusia.

Salah satu spirit yang ikut di sana adalah Dewa Matahari, yang dipuja oleh leluhur mertua. Tinggi, sekitar 3 meter lebih, dan tampan bukan main meskipun kulitnya pucat seperti kapas. Dia salah satu spirit kesayangan saya. Setiap orang yang pernah melihatnya, pasti akan merasa bahagia dan tertawa, tertulari oleh auranya yang memang bersinar secerah matahari. Ia sering menampakkan diri dan menari bersama berkeliling pohon. Para suku asli itu mempersembahkan daging kepala bison khusus untuknya. I wish him a wonderful life forever. Semoga dia senantiasa sehat walafiat, selamat, dan bahagia.