Selamat Malam, Alaida

Posted on Februari 25, 2020

4


gothic-light-womanSejak bulan Desember tahun lalu hingga awal Januari, aku melihat angka 13 di mana-mana. Dalam pikiranku, dalam pandangan mataku, dan pada layar di depanku.

Aku terusik. Angka itu terus muncul di benakku, hingga saat aku menawar harga sepeda motor bekas pun, aku sebutkan, “13 juta aja, ya. Gimana, bisa?”

Tak hanya itu. Bibirku bergerak menirukan syair sebuah lagu, yang terpampang di layar komputerku dengan latar belakang warna hitam. Tak biasanya aku memutar video yang itu, karena aku selalu memilih versi video romantis. Bukan yang hitam dan beku, meskipun terlihat elegan.

“Ya no estas mas a milado, corazon… en el alma solo tengo soledad… y si ya no puedo verte… porque dios me hizo quererte…para hacerme sufrir mas… Kau tak ada di sisiku saat ini, kekasih… dalam jiwaku, hanya ada kegelapan yang bertahta… dan jika aku tak bisa menatapmu… lalu untuk apa Tuhan membuatku mencintaimu… kalau hanya untuk membuatku semakin menderita…”

Selagi menirukan syair itu, dua kenalanku mengajak chat. “Mbak, tolong dong cek nama si A ini. Gimana peruntungannya?” kata salah satu dari mereka.

Aku langsung membuka laptopku, dan mengamati nama yang mereka sodorkan. “Hmm.. orang kaya nih,” komentarku, “Balung sugih, banyak duit.”

“Iyaaaaa…,” kata mereka serempak, “Dia emang banyak duit. jadi tulang punggung keluarga.”

“Tapi dia entar dikhianati orang yang dekat dengannya,” lanjutku, “Astaga, dia juga punya banyak skenario kematian dalam hidupnya! Bahaya semua, nih!”

Saat itu, si A muncul. Ia bercerita pada dua kenalanku itu, tentang resah yang dia alami. Begitu lama, bertahun-tahun ia setia menanti kekasihnya. Namun pada tahun ke-13 ini, kekasihnya melupakan dia.

“Aku ingin dia segera menyusulku, agar kami bisa bersama. Aku tidak rela ia melupakanku begitu saja,” ujar A.

Bulu kudukku meremang. Aku baru sadar, ternyata inilah makna di balik segala warna hitam dan angka 13 yang menghantuiku sebelumnya. Ternyata ini tentang kematian, yang sedang menunggu sebuah kematian lainnya.

Seandainya aku dipertemukan dengan A jauh sebelum ini, ia pasti sudah kuomeli. Kok mau-maunya bertahan dalam hubungan yang abusif. Padahal dia cantik betul. Bibirnya melekuk penuh seperti Barbie, rambutnya panjang tebal dengan warna hitam berkilau, kulitnya sesempurna pualam, dan tatapan matanya mampu melelehkan hati pria paling jaim sekalipun. Ia juga kaya, dan sebenarnya bisa mendapatkan pria manapun yang dia mau. Tapi justru yang ia cintai adalah pria yang salah. Yang suka memuaskan diri dengan cara memukuli pasangannya, menggampar, menendang, mencekik, hingga memaksa melakukan hal-hal di luar kepatutan.

Tapi ya, begitulah. Setiap perempuan punya ceritanya masing-masing. Banyak di antara temanku yang pernah berada dalam titik terendah. Termasuk aku, yang harus tersandung dulu dengan sejumlah pria yang salah, sebelum bisa mengenali mana yang sebenarnya menawarkan cinta yang asli.

Aku ora iso maido. Aku tidak bisa menyalahkannya, tentu saja. Siapapun yang berada dalam sebuah hubungan yang abusif, dalam kondisi mental yang lagi rapuh pula, pasti tak akan mudah untuk bebas. Apalagi si A ini, yang berhati lembut serta mudah memaafkan. Ia jatuh dalam pelukan serigala, tanpa seorang pun yang menolongnya. Yang lain hanya menaruh perhatian pada uangnya. Tak peduli ke mana dia pergi bersama kekasihnya, atau bagaimana kekasihnya memperlakukan dia. Semua ditanggung olehnya sendiri.

A akhirnya mati, dengan luka-luka di tubuhnya. Namun ia tak menyesali itu. Ia tahu bahwa itu takdir, dan ia tahu bahwa yang kukatakan benar adanya. Tak ada yang bisa menolak kematian, dan bahwa setiap detil namanya memang sarat dengan simbol maut. Ia mengerti itu.

A tipe perempuan setia. Dalam kematiannya pun, ia masih menunggu. Masih menemani kekasihnya ke manapun, dan merenda mimpi bahwa kelak mereka berdua akan bersatu lagi. Ia terus mengingatkan tentang masa-masa manis mereka dulu, agar kenangan itu tetap hidup di benak kekasihnya. Jadi, bisa kumaklumi kekecewaannya, ketika memori dalam otak kekasihnya memudar, dan lama-kelamaan lupa dengannya.

“Aku ingin dia segera mati, agar bisa kujemput. Sudah cukup lama aku menanti,” katanya.

Tetapi tentu saja, kami yang hidup tak bisa berbuat apa-apa. Sebab takdir kematian sepenuhnya adalah urusan Tuhan. Temanku kemudian mengajaknya pergi. “Jalan-jalan aja, yuk. Biar nggak sedih terus,” bujuknya. Lalu mereka berdua pun pergi menikmati udara malam.

Setelah mereka pergi, aku menatap deretan hitungan angka di depanku. Aku berandai-andai. Seandainya dia lahir di tanggal berbeda, mungkin nasibnya tak seburuk ini. Seandainya ia lahir dalam lingkungan yang mengajarinya untuk menolak kekerasan, mungkin sekarang ia masih hidup. Seandainya, seandainya, dan seandainya… hingga panjang aku merancang skenario tentangnya. Yang semua berakhir dengan desah napas panjang, karena tak ada yang bisa kuperbuat, kecuali mendoakannya.

Hari ini, aku kembali ingat padanya. Kulirik tanggal di sudut kanan bawah layar komputerku. Hari ini tanggal 2/26/2020 di Indonesia. Tanggal yang begitu baik untuk A. Lalu kuputuskan menulis tentangnya sebagai kenang-kenangan, dan aku memilih lagu yang sama, namun dengan versi video yang romantis. Bukan lagi yang gelap-gulita.

Selamat malam, Alaida. Semoga jiwamu bisa membaca skenario yang kubuat untukmu. Kuharap jika jiwamu lahir kembali di tanggal ini, engkau akan hidup bahagia, dan bertemu dengan lelaki yang bisa menghargai dan mencintaimu dengan penuh, seperti yang kau inginkan.

******

Link lagu: Historia de Un Amor, by Guadalupe Pinada

……

Siempre fuiste la razon de mi existir… (kau selalu menjadi alasan bagi keberadaanku)

Adorarte para mi fue religion… (karena mengagumimu, tak ubahnya seperti agama bagiku)

Y en tus besos yo encontraba… (dan dalam kecupanmu, aku temukan)

El amor que me brindaba., el amor y la pasion… (cinta yang kau berikan, cinta dan gairah itu)

Es la historia de un amor, como no hay otro igual… (inilah kisah tentang cinta, yang seakan tak bakal terulang lagi)

Que me hizo comprender, todo el bien, todo el mal… (yang membuatku mengerti, tentang segala baik buruknya)

Que le dio luz ami vida, apagandola despues… (yang memberi cahaya dalam hidupku, lalu memadamkannya lagi)

Ay que vida tan obscura, sin tu amor no vivire… (Duhai, betapa gelapnya. Aku tak mampu hidup, tanpa cintamu) 

…….

*****