
Salah satu pertanyaan yang kerap dibahas dalam tema spiritual adalah: “Jika kamu diberi kesempatan untuk terlahir kembali dan memilih orangtuamu, siapa yang akan kamu pilih?”
Saya menjawab: “Tetap orangtua saya yang sekarang ini.”
“Nggak mau ganti? Kan kamu dulu sering komplain,” canda guru spiritual saya.
“Ya enggak, lah,” saya tertawa. “Komplain itu lumrah untuk semua anak di jenjang usia tertentu. Tapi itu bukan alasan untuk ganti orangtua. I love them dearly, sebab mereka mencintai saya tanpa syarat, dan berusaha sekuat yang mereka bisa untuk membesarkan saya. Paling-paling yang ingin saya minta pada Tuhan adalah pengetahuan yang lebih bagus sejak dini. Supaya saya bisa membahagiakan mereka dengan cara yang lebih baik.”
Orangtua saya bukan orang yang sempurna, dan saya pikir, tidak ada orangtua sempurna di dunia ini. Setiap orang memulai peran tersebut dengan pengetahuan awal, yang didapat dari pendidikan ataupun dari generasi sebelumnya, dan kemungkinan mengalami perbedaan hasil dari satu generasi ke generasi lainnya. Tantangan jaman, tingkat pengetahuan yang berbeda, karma, dan segala macam jatah ujian hidup untuk setiap orang, turut membentuk keberhasilan sebagai orangtua. Bahkan salah satu sosok terkuat dan paling berkuasa di muka Bumi pun, masih punya “hutang perbuatan” terhadap anaknya, sehingga ruh beliau masih bertahan di Bumi demi memastikan anaknya selamat dan bahagia.
Saya lahir dari keluarga yang punya keterbatasan ekonomi. Lazimnya keluarga yang demikian, kami benar-benar berjuang untuk menyambung hidup, dan menghadapi aneka problem psikologis yang serius. Kami tidak selalu berhasil, karena namanya hidup, ada saja ujian yang datang dan menggerus ketabahan kami.
Orangtua saya tidak selalu berhasil mengatasi ujian hidup yang menjadi jatah mereka. Namun satu hal yang pasti: tanpa mereka, tidak mungkin saya mendapat kehidupan yang luar biasa. Bahkan tidak mungkin saya bertemu dengan para guru spiritual saya yang juga luar biasa, yang tidak pernah terbayangkan bakal saya temui dalam perjalanan kehidupan saya. Rasanya tidak mungkin saya diberi anugerah semacam ini, jika tidak ada doa baik yang terkabulkan. Dan doa baik itu, kemungkinan besar berasal dari orangtua, yang setiap malam memanjatkan doa dan harapan baik bagi anak-anaknya.
Kebanyakan orang memandang sesuatu hanya dari yang bisa mereka lihat. Ketika mereka melihat saya jatuh bangun dan gagal berulang kali, yang dijadikan bahan gunjingan adalah orangtua saya. Ketika saudara-saudara saya tidak sukses secara ekonomi, yang dicibir adalah orangtua saya. Anehnya, ketika saya akhirnya berhasil dan sukses, banyak dari mereka berusaha memadamkan itu dengan cara menyerang orangtua saya juga. Begitulah orang yang dengki.
Banyak orang belum paham bahwa setiap jiwa itu memanggul takdirnya masing-masing. Seseorang pernah bilang bahwa ruh saya dulu hidup berpindah-pindah, dari satu belahan Bumi ke belahan Bumi lainnya. Dari Spanyol hingga ke Peru, lalu mendarat di Jawa. Dalam setiap perjalanan, ruh saya terlahir kembali melalui orangtua yang berbeda-beda keadaannya. Konon, menurut seseorang tersebut, itu untuk membayar ketidaktahuan saya di masa lalu, hingga nanti semua pelajaran hidup komplit.
Saya tidak tahu persis tentang konsep reborn seperti ini. Namun kalau mau ditarik ke tema perjalanan jiwa, ada masuk akalnya juga. Kalau dalam Islam, ada keyakinan bahwa setiap jiwa akan kembali kepada Penciptanya dalam keadaan suci bersih. Padahal, tidak semua orang meninggal dalam keadaan seperti itu. Jadi, pasti ada mekanisme lain untuk membersihkannya. Bisa dengan cara di-bayclin dulu di Neraka, wkwkwkwk…. atau bisa juga dengan konsep reborn tadi, untuk memberi kesempatan pada ruh yang bersangkutan guna melakukan hal yang berbeda dari kehidupan sebelumnya, atau membayar hutang yang belum sempat dilunasi. Suka-sukanya Pencipta kita, bukan?
Ketika mendengar cerita dari seseorang tersebut tentang kehidupan saya di periode sebelumnya, terus terang saya jadi lega. I am so happy. Sebab, segala pertanyaan saya akhirnya terjawab. Bahwa saya lahir dari orangtua saya, ada maksudnya. Ada misi khusus yang hanya bisa dipanggul oleh kedua orangtua saya. Melalui merekalah, saya akhirnya bisa menjalani tugas berikutnya, berbekal pengalaman hidup beserta keikhlasan dan doa mereka. Having them as my parents is what I’m most grateful for. Orang lain mau berkomentar apapun tentang mereka, I don’t care. Sebab saya yang lebih tahu, tentang siapa sebenarnya beliau berdua.
****


Posted on Juli 4, 2025
0