Genderuwo Amerika

Posted on Mei 19, 2024

0


Seminggu lalu, saya kembali mencium aroma asap pekat. Cuma saya yang mencium bau itu, sedangkan anggota keluarga yang lain tidak sama sekali. Aromanya seperti perapian, kayu terbakar, atau jerami hangus. Hidung saya kadang memang keterlaluan pekanya, sehingga membuat orang di sekitar saya malah baper dan mengendus ketiaknya sendiri, mengantisipasi jika bau itu berasal dari mereka, wkwkwkwk….

Dari pengalaman yang sudah-sudah, biasanya aroma itu berasal dari “utusan” yang dikirim ke saya. Entah lewat santet (wkwkwkwk….), diutus oleh guru saya, atau sekedar berkunjung saja karena pernah kenal. Ada juga yang berasal dari makhluk halus yang memang mengikuti saya sejak kecil. Kalau mereka jengkel atau apa, emosi mereka bisa nampak melalui aroma hangus tadi.

Ada beberapa makhluk halus dari Indonesia yang kadang mampir. Ada yang dari Jember, dan ada pula yang dari kampung halaman. Yang di sini juga. Pernah ada satu keluarga makhluk halus mampir. Mereka terdiri dari suami, istri, dan empat anaknya yang sudah remaja. Mereka memakai baju kuno berupa rok yang mengembang lebar untuk perempuannya, dan prianya memakai setelan baju ala petani berwarna khaki. Rambut mereka berwarna pirang kecoklatan. Matanya besar banget, sedikit juling dan tanpa kelopak, mirip burung hantu.

Mereka mengaku melihat saya ketika saya sedang menonton tanah longsor di suatu tempat, dan ternyata mereka juga tinggal di situ. Kata guru saya, ada beberapa mahluk yang kesehariannya nampak seperti manusia biasa dan beraktifitas layaknya kita. Namun ada kejanggalan tertentu yang bisa dikenali oleh orang yang berpengalaman. Nah, keluarga itu bisa dikenali, salah satunya lewat bentuk mata mereka yang abnormal.

Saat mencium aroma gosong tadi, saya jadi mikir, “Ini siapa lagi sih, yang ngirim santet?” – Sebab setahu saya, orang-orang yang dulu biasa mengirim paket santet ke saya, saat ini sedang sibuk dengan masalah pribadi masing-masing, wkwkwkwk… mostly karena mikirin UKT.

Saya tahu makhluk itu ingin memperkenalkan dirinya kepada saya, karena saya kerap tiba-tiba sangat mengantuk dan pusing, terutama di waktu-waktu yang terlarang untuk tidur. Semisal setelah shalat Subuh, ba’da Ashar, atau sebelum Isya. Saya menolak menuruti rasa kantuk itu, karena lagi males saja. Lha saya lagi banyak problem serius, kenapa pula harus ditambahi dengan melihat makhluk halus?

Akhirnya saya bertanya kepada guru saya perihal makhluk itu. Ternyata, ia adalah jenis Genderuwo, wkwkwkwk….

Ternyata bentuk genderuwo di sini tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Cuma bedanya, kalau di Indonesia, bangsa Genderuwo mungkin sering dijadikan penjaga atau pembangun candi. Guru saya pernah bercerita bahwa Candi Borobudur sebenarnya dibangun oleh bangsa Genderuwo, dan keberadaan mereka tertera juga di antara ukiran-ukiran di candi tersebut.

Genderuwo yang mampir ke saya kali ini, dia bukan suruhan dan bukan pekerja. Ia entitas yang bebas. Ia mampir ke rumah saya beberapa kali, karena melihat jejak kehadiran banyak makhluk halus di rumah saya. Dengan sendirinya dia tahu bahwa saya sering berurusan dengan bangsanya.

Guru saya menyarankan untuk shalat dan bilang pada dia untuk kembali ke alamnya, jika tidak ada keperluan mendesak. Kita dan mereka memang hidup berdampingan, tapi tidak perlu ikut mencampuri urusan yang lain. Masing-masing memiliki alamnya, serta keperluan sendiri.

Saya turuti saran guru saya itu, dan memang benar, bau hangus tersebut hilang esok paginya. Guru saya bilang, “Nah, sebenarnya nggak sulit-sulit amat, bukan? Nggak setiap makhluk halus harus diusir pake rukyah.”

Saya tertawa saja, lalu menggunakan A.I untuk membantu visualisasi makhluk tersebut. Ilustrasi di tulisan ini adalah hasil rekaan A.I berdasarkan prompt yang saya buat. Sudah mirip sih, visualisasinya. Tapi saya perlembut nuansanya, dan ditambahi background fantasy supaya lebih bisa diterima oleh mata. Sebab, meskipun makhluk itu tergolong wise dan old soul, tetep aja gambarannya menimbulkan rasa seram di hati.