
Beberapa kali saya dibayangi visi tentang orang-orang yang sedang disiksa dalam kubur. Awalnya, visi itu terjadi saat saya di Istanbul, bulan Maret lalu. Saya melihat orang yang sudah meninggal, jatuh berputar seperti spiral dalam keadaan babak-belur. Tubuhnya lebam, dipenuhi bekas pukulan yang berwarna biru gelap dan ungu. Orangnya tidak bisa bergerak. Matanya nyalang cekung berwarna hitam. Mulutnya menganga seperti berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar.
Tadinya saya kira visi itu adalah efek dari energi spiritual saja. Kebetulan sewaktu di Istanbul, saya dan rombongan ziarah mengunjungi pemakaman tertua di sana. Nama tempatnya Karaca Ahmet Cemetery. Topografinya berbukit-bukit, dan di puncak bukitnya yang dinamai Pierre Loti Hill, ada tempat ngopi dan kongkow yang nyaman sekali.
Karaca Ahmet Cemetery adalah area pemakaman paling besar dan tertua di Istanbul. Yang dimakamkan di sana sebagian besar adalah para sarjana atau cendekiawan, ulama, pembesar kerajaan, para jendral militer dan prajuritnya. Luasnya sekitar 300 hektar lebih, atau mungkin lebih luas lagi. Karena menurut pemandu wisata kami, sebagian jalan yang kami lalui dulunya juga merupakan makam para prajurit dari masa ke masa yang tidak teridentifikasi. Jadi, kami ibaratnya berjalan di atas tumpukan jenazah. Tapi anehnya, menurut saya, pemakaman itu tidak seram meskipun kuno banget dan suasananya cocok untuk setting film horror. Mungkin karena ia adalah tempat wisata dan banyak peziarah memanjatkan doa, jadi auranya tenang dan damai.
Karena visi itu muncul setelah saya balik dari pemakaman, saya menganggapnya hanya efek energi. Tetapi ternyata ia kembali berkelebat beberapa kali, termasuk minggu lalu. Jadi, saya memutuskan bertanya pada guru spiritual saya.
Guru spiritual saya membenarkan bahwa itu adalah beberapa bentuk siksa kubur. Sebagian adalah hukuman untuk orang yang suka ke dukun dan gemar memakan harta yang bukan miliknya. Sebagian lagi yang terlihat jelas ke saya adalah hukuman buat para lelaki yang anak dan istrinya sedang berbuat tidak baik. Jadi, setiap kali istri atau anaknya yang masih hidup itu berbuat kerusakan atau keburukan, maka setiap kali itu pula para lelaki tersebut dihantam sampai babak-belur di kuburnya
Konsep siksa kubur (punishment of the grave), menurut beberapa sumber yang saya baca, berasal dari tradisi Judeo-Islamic. Atau tepatnya Islamic-Judeo, karena menurut salah satu sumber, konsep siksa kubur dan alam barzakh itu diperkenalkan dalam Islam, kemudian turut ditambahkan dalam konsep Judaism atau Yahudi. Jadi prosesnya terbalik. Biasanya sebagian besar konsep spiritual agama samawi itu adalah kelanjutan dari konsep spiritual sebelumnya, namun khusus tentang siksa kubur ini, prosesnya berbeda.
Kalau tentang posisi laki-laki, agama samawi itu prinsipnya memang patriarki (berasal dari kata “patriarkhes” yang artinya “the rule of the father“, alias lelaki sebagai pihak yang mengatur atau memimpin). Dalam Islam, job description laki-laki yang paling utama adalah sebagai imam keluarga. Di mana sebagai imam, seorang laki-laki diwajibkan untuk memenuhi semua kebutuhan utama keluarga (sandang, pangan, papan), termasuk untuk soal pendidikan, spiritual, dan tanggung jawab menjaga setiap perempuan dalam keluarga.
Job description tersebut nggak main-main. Konsekuensinya sangat tinggi. Kalau anak dan istrinya berbuat dosa, atau saat kebutuhan mereka tidak terpenuhi, keberadaan mereka tidak terlindungi, maka yang akan menanggung hukumannya adalah si kepala keluarga atau pihak lelaki.
Guru spiritual saya bilang bahwa dalam konsep spiritual, laki-laki seharusnya lebih berhati-hati. Tidak asal main klaim berhak poligami, berhak dipatuhi, atau apapun yang selama ini sering terlihat di masyarakat. “Kamu sekarang diberi kesempatan untuk melihat sendiri konsekuensinya,” kata guru saya. Orang-orang yang nampak dalam visi saya tersebut diantaranya adalah laki-laki yang tidak mengajarkan anaknya untuk hormat kepada ibu, tidak memberi nafkah layak, menyakiti hati istri dan anak, menelantarkan keluarga, dan tidak mengajari mereka tentang konsep spiritual.
Kemudian kata guru saya selanjutnya, “Kamu coba beritahu teman-temanmu. Laki-laki itu memang tugasnya cari nafkah. Jangan dibalik. Sekecil apapun hasilnya, minta mereka untuk bekerja dan kasih nafkah ke istri dan anaknya. Lalu untuk temanmu yang perempuan, kembalikan tugas laki-laki di tempat yang semestinya. Jangan ambil alih tugas lelaki. Karena nanti yang akan dihisab itu ya laki-lakinya.”
Well, yeah… problemnya sekarang, kalau saya beritahu teman-teman saya tentang visi ini, apakah mereka mau percaya? Wkwkwkwk…. life is getting more and more complex. Saya juga belum tahu persis mengapa sekarang ini semakin sering saya temui perempuan yang justru menjadi tulang punggung keluarga, baik karena terpaksa ataupun karena pilihan mereka sendiri. Padahal laki-lakinya masih sehat, kuat, dan mampu banget cari uang.
Kalau secara pribadi, saya lebih suka menempatkan peran laki-laki sebagai main breadwinner dalam keluarga. Bahkan saya juga mendukung penuh kalau ada perempuan yang memasukkan kriteria “punya penghasilan, mampu mencari nafkah, mampu mencukupi kebutuhan keluarga dengan layak”, atau bahkan sampai memasang kriteria punya rumah dan kendaraan, sebagai patokan dalam mencari pasangan. Menurut saya, itu bukan matre. Itu privilege perempuan untuk memastikan pasangannya mampu, dan ini kebutuhan basic. Ini juga diamini oleh sejumlah teman perempuan yang kebetulan jadi breadwinner. Meskipun mereka suksesnya luar biasa, mampu banget memenuhi kebutuhan keluarga, dan incomenya jauh lebih besar ketimbang suami mereka, namun jauh dalam hati mereka sebetulnya lebih suka jika suaminya yang bekerja. Meskipun awalnya rela, lama-kelamaan mereka jadi tidak ikhlas juga. Apalagi kalau lihat pasangannya diam saja di rumah, tidak membantu sama sekali untuk urusan pekerjaan domestik.
Anyway, kadang-kadang saya berpikir begini. Seandainya kelak diberi kesempatan untuk terlahir kembali, saya akan pilih jadi laki-laki. Karena menurut saya, dengan menjadi laki-laki, ruang gerak saya lebih leluasa. Bisa pergi ke mana saja dan ngapain saja, kecuali setelah berumah tangga. Tapi kemudian kalau mengingat begitu banyaknya privilege perempuan, saya jadi mikir-mikir lagi. Hmm… mungkin lebih baik jadi perempuan, tapi perempuan yang berdaya. Artinya, merdeka dalam hal finansial dan kehidupan sosial, dan diopeni serta dihargai betul oleh pasangan dan masyarakat. That’ll be awesome. Apalagi kalau dalam konsep Islam, dosa saya juga ditanggung pasangan, selama masih terikat dalam pernikahan. Sampai suami saya bilang begini, “Jadi maksudmu, kamu cerita soal ini untuk bilang bahwa aku harus ngasih kamu apapun yang kamu mau?” Wkwkwkwkwk….


Reffi Dhinar
Agustus 25, 2023
Tulisan yang memantik renungan buat saya dan memang sejak remaja saya berpikir bahwa laki-laki wajar kalau dapat jatah hak waris lebih banyak karena sepantasnya memang mereka harus bekerja lebih keras (selama sehat dan mampu) untuk memenuhi nafkah keluarga. Jangan kebalik.
Artha Julie Nava
September 5, 2023
Betul banget. Kalau kita melihatnya di segi ini, udah sangat pantas.