Timing

Posted on Maret 21, 2026

0


Photo by José Pinto on Unsplash

Momen Lebaran tahun ini dipenuhi aneka pengalaman yang unik. Mulai dari soal alam, semisal jatuhnya meteor seberat hampir 8.000 kg di Ohio. Bocoran rahasia politik dari guru saya. Efek perang yang bikin harga bensin sempat naik sampai ke angka 4 dollar, sama tingginya dengan saat krisis moneter tahun 2007 dulu. Di sejumlah tempat konon sampai 5 dollar lebih per galon.

Harga-harga terus naik tanpa terasa. Dulu saat pertama kali datang ke negara ini, harga bensin masih di kisaran 1 dollar something. Harga buncis per pound masih 0.99 dollar. Tempo hari saya lihat harganya naik ke 3.49 dollar. Telur, apalagi. Biasanya saya bisa dapat telur curah selusin dengan harga hanya 0.99 dollar, sekarang sudah tak bisa.

But anyway, salah satu pengalaman unik adalah datangnya teman-teman yang lama tak bersua. Sehabis Subuh tadi, saya sempatkan berdoa, minta pengganti yang lebih baik dari segala yang sudah dilepaskan. Eh, tahu-tahu muncul sederet pesan dari satu kawan, yang terakhir kali kontak tahun 2022.

Saya kenal dia sekitar tahun 2011-2012. Awalnya dari buku novel saya, kemudian berlanjut dengan cerita banyak hal.

Ia adalah salah satu teman yang kerap curhat mengenai kisruh dalam rumah tangganya. Dan seperti biasa, kami bertukar pikiran mengenai solusinya. Saat itu, saya sempat mengatakan hal yang terlalu gamblang mengenai ex suaminya, yang ternyata tetap ia ingat.

Kata dia, “Memang bener banget yang mbak Julie bilang dulu. Ia selingkuh berkali-kali, lalu terjerat ini itu soal keuangan, dan terus berentetan kejadian demi kejadian yang meruntuhkan rumah tangga kami. Untung sekarang aku berhasil lepas dari cengkeramannya.”

Saat memutuskan bercerai, ia sudah pada tahap “Done”. Artinya, sudah sampai di titik di mana ia tidak lagi hendak berpanjang lebar mempertahankan rumah tangganya. Sejak tahun 2011, berkali-kali ia keguguran, dan ketika akhirnya berhasil memiliki anak, pasangannya justru selingkuh.

“Aku sempat mikir, mungkin aku keliru dulu, dan mungkin aku salah duga dengan ex suamimu,” ujar saya. “Sebab, kamu memilih bertahan terus. Kupikir, barangkali keadaan kalian sudah membaik.”

Ternyata, tidak demikian adanya. Ketidakmunculannya selama beberapa tahun disebabkan karena problem rumah tangga yang tak kunjung selesai, dan ia beberapa kali menarik diri dari keramaian. Ia mengalami banyak verbal dan psychological abuses, hingga di taraf dia nyaris tidak percaya bahwa dirinya berharga. Untungnya, dia tidak pernah berhenti. Di tengah kemelut, dia tetap bergerak, menyelesaikan pendidikan tinggi dan bekerja. Ia tidak harus menunggu nafkah dari suaminya. Ia juga tidak lagi harus bertahan demi alasan ekonomi. Perceraian juga sudah diselesaikan, dan kini ia bisa fokus membesarkan anaknya sembari melanjutkan karir.

Tipikal kehidupan perempuan memang demikian. Pernikahan belum tentu menjadi Surga buat mereka. Itu sebabnya, saya selalu membicarakan tema pendidikan dan finansial kepada teman-teman perempuan saya. Supaya mereka tetap bisa survive, seandainya rumah tangga tidak sesuai harapan. Saya bangga betul dengan teman saya yang satu ini. Such a smart and wonderful woman. Keputusannya untuk memilih hidup bahagia, akhirnya berhasil diwujudkan.

Perlu waktu 13 tahun lebih buat teman saya itu untuk bisa lepas dari belenggu rumah tangga yang toksik. Bukan karena ia tidak mendengar saran saya, dan saya percaya itu. Ia hanya butuh waktu, butuh timing-nya sendiri. Tiap perempuan unik, dan hidup seringkali tidak bisa diukur dengan target. Adakalanya seseorang butuh menjalani kepahitan, sebagai bagian dari proses belajar mereka. Tidak perlu harus segera ditolong, juga tidak perlu terus-terusan didampingi.

Saya pribadi sudah belajar banyak untuk menahan diri, dan memperhatikan dari jauh saja. Hanya kalau benar-benar darurat, barulah saya datang. Tapi kalau tidak, saya biarkan mereka deal dengan jalan yang mereka pilih. Itu lebih baik daripada saya terus mendampingi, tapi ujung-ujungnya malah disantet, hahaha… ups. Yang penting, saran sudah saya berikan. Tinggal yang bersangkutan saja yang memutuskan, mau ke mana langkah selanjutnya.

*****