
Semalam, saya mendaftarkan diri sebagai member grup penulis novel Romance di chapter Detroit. Ia adalah cabang dari RWA (Romance Writers Association), asosiasi penulis novel romance terbesar di negara ini. Setelah mengunjungi pameran para penulis di perpustakaan kota Sterling Height beberapa waktu lalu, saya tertarik untuk mencoba bergabung dengan asosiasi tersebut. Harapannya, tentu saja untuk mengasah skill menulis novel romance bersama mereka.
Saya ikut cabang Detroit, karena biaya keanggotaannya relatif murah, yakni 25 dollar untuk setahun. Sedangkan RWA, biaya keanggotaannya 100 dollar per tahun! Masih murah sih, sebenarnya. Cuma bagi saya, kok rasanya belum mendesak banget untuk mengeluarkan uang sejumlah itu.
Namun yang tidak saya sangka, ada perkembangan mengejutkan tentang asosiasi tersebut. Ternyata, RWA sudah menyatakan diri bangkrut!
Sejak Mei 2024, RWA menyatakan pailit, karena tidak sanggup membayar hutang ke beberapa vendor event. Jumlahnya lumayan fantastis, yakni 3 juta dollar (sekitar 48 milyar rupiah) ke sejumlah hotel, plus 1,2 milyar ke beberapa pihak lain. Link beritanya ada di sini.
Sebenarnya, untuk organisasi sekelas RWA, bukan hal sulit untuk membayar hutang sebesar itu. Ia adalah organisasi penulis terbesar. Anggotanya mencapai 10.000 orang. Tinggal kalikan saja dengan 100 dollar, maka setidaknya tiap tahun ia punya pemasukan sebesar 1 juta dollar. Itu belum termasuk pemasukan dari sponsor, iklan dari para penulis dan penerbit, pemasukan dari kelas menulis, dan sebagainya. Setiap tahun, pengunjung eventnya berjubel. Penerbit dan penulis berdatangan dengan antusias.
Lalu, apa sebenarnya yang terjadi?
Tidak lain karena pertikaian internal, yang salah satunya dipicu oleh rasisme.
RWA sebenarnya didirikan oleh seorang penulis kulit hitam bernama Vivian Lorraine Stephens. Ia menjembatani aspirasi para penulis novel romance yang membutuhkan dukungan untuk bisa deal dengan penerbit dan editor. Saat itulah ia kemudian terlibat dalam pendirian organisasi RWA ini di tahun 1980, sekaligus mendapatkan sponsor dari Dell untuk penyelenggaraan konferensi pertamanya di tahun 1981.
RWA berkembang pesat, hingga melahirkan banyak sekali penulis novel romance kawakan. Asosiasi ini juga memberikan sejumlah Award bagi para penulis. Tidak heran kalau jumlah anggotanya terus bertambah, hingga pernah mencapai angka 10.000 anggota.

Namun di balik itu, banyak intrik terjadi. Salah satunya adalah rasisme, yang sering dikeluhkan oleh member. Rasisme ini, menurut mereka, sangat terlihat. Terbukti dari pemenang RITA Award (salah satu penghargaan bergengsi dari asosiasi ini kepada penulis novel romance berprestasi), SEMUANYA terdiri dari penulis berkulit putih, dengan tema cerita yang didominasi oleh kisah cinta para aristrokrat Inggris, yang tentu saja juga berkulit putih!
Tahun 2018, kontroversi ini mulai mencuat, setelah salah satu penulis novel romance kulit hitam yang mengusung tema interracial romance ternyata tidak masuk dalam nominasi RITA Award! Padahal novel karya Alyssa Cole yang berjudul An Extraordinary Union dan A Princess in Theory memenangkan banyak penghargaan dan disebut-sebut sebagai karya novel terbaik. Pemenang RITA Award tahun itu, lagi-lagi jatuh kepada penulis kulit putih!
Ketika protes merebak, makin ketahuanlah sikap rasis dari pengurus asosiasi ini. Ternyata, bahkan dari sekian banyak nominator penerima award, hanya ada kurang dari 1% saja yang non-kulit putih. Itu pun juga tidak ada satu pun yang pernah menang.
Setelah diprotes, barulah RWA berjanji untuk mengakomodir lebih banyak penulis kulit berwarna. Lalu, di tahun 2019, salah satu penulis kulit hitam bernama Kennedy Ryan memenangkan penghargaan RITA Award.
Namun ternyata, kontroversi tetap berlanjut. Di tahun yang sama, RWA menerima banyak komplain karena Courtney Milan (atau yang dikenal dengan nama pena Heidi Bond), ketua komite etik RWA, dianggap tidak pantas menjadi ketua komite etik. Sebab, Courtney mengkritik keras novel-novel yang bermuatan rasis. Akibatnya, Courtney terpaksa mengundurkan diri sebagai ketua, dan RWA memberi sanksi kepadanya.
Sejumlah kontroversi tersebut berimbas besar kepada RWA, sehingga asosiasi ini kehilangan banyak anggotanya, dari yang semula 10.000 orang menjadi hanya tersisa 2.000 orang saja! Jadi, bisa dibayangkan betapa besarnya kontroversi yang tercipta, dan betapa besar juga ongkos yang harus dibayar akibat rasisme.
Keadaan tersebut diperparah oleh COVID di tahun 2020. Banyak event harus ditunda, dan pemasukan asosiasi tersebut jelas berkurang banyak. Belum lagi mereka menghadapi kenyataan di mana banyak penerbit serta editor yang mundur gara-gara isu rasisme yang tidak terselesaikan dengan baik.
Akhirnya, demikianlah. Tahun 2024, RWA menyatakan diri pailit.

Begitulah sebagian liku-liku dunia novel romance di negara ini. It’s not all about wine and roses. Bahkan untuk soal lembaga kepenulisan yang notabene didirikan oleh perempuan, disukai oleh perempuan, dan menyumbang profit besar dalam dunia penerbitan, ternyata ketidakadilan terhadap sesama perempuan pun tetap terjadi.
Ada salah satu tulisan di harian The Guardian yang menarik, berjudul Fifty Shades of White, yang ditulis oleh Pois Beckett. Ia menyoroti tentang bagaimana kentalnya rasisme dalam novel romance Barat dan dalam tubuh organisasi RWA. Silahkan dibaca di link ini. Anda pasti suka membacanya, sekaligus makin mengerti bagaimana dalamnya rasisme dalam bawah sadar masyarakat Barat.


Posted on Agustus 10, 2024
0