Saat masih terbelenggu oleh aneka masalah, saya melakukan observasi tentang mengapa doa-doa tertentu malah menimbulkan efek negatif dan justru mengundang kehadiran hal-hal/makhluk yang tak diinginkan. Padahal itu “doa normal”, diambil dari Quran atau Hadist, dan sudah diamalkan oleh banyak orang.
Ternyata jawabannya adalah:
- Ada penambahan ucapan tertentu di dalam doa tersebut, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Jawa/bahasa lain
- Ada penambahan jumlah repetisi yang berlebihan, di luar yang dianjurkan dalam contoh Nabi
- Ada penambahan repetisi huruf atau kalimat tertentu, yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan doa tersebut atau dengan contoh dari Nabi
- Niat buruk, misalnya ditujukan untuk mencelakakan seseorang, merusak hubungan baik, menghancurkan rejeki orang, dan sejenisnya
- Pikiran dan hati yang buruk. Ketika membaca doa tertentu, diiringi amarah dan aneka pikiran negatif, yang ujungnya menimbulkan bersitan di hati untuk mendapatkan sesuatu atau merusak sesuatu
- Meminta kesaktian, tentu saja. Jadi, membaca doa diiringi keinginan agar sakti dan menjadi yang terhebat, bisa menaklukkan segala macam makhluk gaib, bisa menjadi indigo yang terhebat, dan semacamnya.
Saat mengamati itu, terus-terang saya jadi malu sendiri. Di belahan dunia lain, orang sibuk bikin universitas, bikin laboratorium, eksperimen ekonomi, jualan pesawat, dan lain-lain — sedangkan kita yang diberi karunia berupa agama yang pro sains dan ilmu pengetahuan (Iqra’, bang… Iqra’… udah jelas banget, kan?), malah menggunakan ayat-ayat dalam Quran supaya bisa terbang, bisa menghilang, bisa melet anak orang, bisa naik pangkat, bisa menghancurkan saingan, bisa punya khodam….
Padahal, punya khodam juga nggak bisa dipakai untuk masuk Harvard University atau menjadikan universitas di negeri sendiri menjadi The World’s Top Ten Universities. Paling-paling punya khodam ya fungsinya untuk bantu berantem sama kuntilanak atau genderuwo, atau adu kesaktian dengan sesama penggemar khodam. Ye, kan?
Demikian pula dengan soal kepemilikan pusaka. Ya Rabbi… sulit banget deh, kalau ngomong sama para pemilik pusaka. Level percayanya udah tahap Parah+, pake tambahan plus plus plus… Seperti yang saya tulis sebelumnya, mereka bisa melakukan apa saja demi memiliki pusaka, hingga ke level yang sulit dimengerti oleh akal sehat. Hingga ke level berani mencelakai orang lain, termasuk mencelakai saudara dan kerabat sendiri. Padahal itu termasuk jenis dosa yang tidak bisa diampuni.
Saya menyebut itu sebagai Tuhan mereka, karena memang sangat jelas terlihat. Mereka emang beribadah, shalat, puasa, zakat, whatever…. tapi coba minta pada mereka untuk membuang pusaka tersebut. Pasti reaksinya inyi-inyi, banyak alasan dan argumen, yang ujungnya sudah bisa ditebak: mereka tidak percaya bahwa Tuhan akan melindungi dan membantu mereka. Yang diyakini bisa melindungi adalah kekuatan pusakanya.
Finding the Real God emang tidak semudah hanya mengucap ikrar atau melakukan ritual ibadah. Justru yang paling terdalam adalah menanyakan pada diri sendiri: di saat sulit, siapa yang pertama kali akan kita sebut namanya? Siapa yang pertama kali kita cari untuk memberi keyakinan pada kita bahwa semua akan baik-baik saja?
Secara alamiah, manusia memang membutuhkan sesuatu yang “lebih besar” daripada dirinya untuk bisa survive. Pada saat tertentu, kita perlu menyerahkan hal-hal yang masih di luar kemampuan diri untuk mencapainya, kepada sesuatu yang lebih besar, yakni Tuhan, Takdir, Semesta, whatever namanya …. Jadi dengan menyerahkan sebagian problem sebagai bagian dari kehendak Tuhan misalnya, kita bisa fokus kembali ke internal locus, yakni hal-hal yang bisa kita kontrol dan jalani, dan kita bisa tenang menjalani kehidupan tanpa stres berlebihan terhadap hal-hal yang masih di luar kendali kita.
Fungsi pusaka, khodam, dan sejenisnya, adalah bentuk dari kekuatan yang lebih besar tersebut. Tidak ubahnya seperti fungsi Tuhan. Cuma, level harapan dari para penggunanya itu sering kebablasan. Banyak yang mengharapkan keajaiban instan, misalnya ingin bisa menikahi pujaannya secepat mungkin, tanpa harus susah-payah memperbaiki kualitas diri, penampilan, income, dan sebagainya. Atau, ingin naik pangkat sesegera mungkin, menyingkirkan semua saingan top, tanpa harus belajar dan meningkatkan skills atau kualitas personal lainnya. Contoh lainnya: ingin segera bisa cas-cis-cus berbahasa asing tanpa harus kursus dan latihan berbulan-bulan. Ya no wonder lah, kalau kualitas masyarakat kita jadi low, meskipun sudah diberi privilege berupa agama dan Tuhan yang terhebat. Lha, dalam prosesnya saja sudah banyak yang demikian.
At some point, saya akhirnya bisa bersyukur juga karena mengalami aneka macam cobaan yang di luar nalar. Sebab, aneka cobaan itu memaksa saya untuk memahami cara berpikir, hubungan saya dengan entitas lain, serta terutama tentang status saya sebagai manusia dan sebagai bagian dari ciptaanNya. Benar sekali, jadi manusia itu memang tidak mudah. Mencari Tuhan yang sebenarnya, juga tidak mudah. Cobaannya banyak, dan bahkan sampai di ujung waktu kita, cobaan tetap akan ada. But at the end, I think it is worth the trouble.




Posted on Juli 24, 2024
0