CLBK dan Realita

Posted on Mei 22, 2024

0


Photo by Raj Rana on Unsplash

Jennifer Lopez dan Ben Affleck dirumorkan segera bercerai. Padahal usia pernikahannya baru jalan dua tahun. Saya guyon dengan teman, “Untung nggak beli albumnya JLo, wkwkwkwk….”

Album JLo yang berjudul “This is Me Now” itu intinya bercerita tentang indahnya kisah cinta mereka berdua. Tetapi ya… kalau menurut saya, kesannya maksa banget. Banyak netijen berkomentar, “Who cares?” Walhasil, bisa diterka sebetulnya kalau album berisi kisah cinta mereka itu bakalan zonk di pasaran. Karena memang kisah cinta mereka tidak lagi relevan, terutama untuk audiens muda. Tidak ada yang yakin bakal terjadi keajaiban dalam kisah cinta mereka, terutama karena kepribadian Ben dan Jen yang sangat kontras.

JLo adalah pribadi yang merdeka dan independen banget. Ambisinya super tinggi. Ia yang mengatur semua skenario rumah tangga, dan hanya laki-laki spesial saja yang bisa mengimbanginya. Ia tidak bakal mau menyurutkan ambisinya demi agar bisa mempertahankan rumah tangga selamanya. So far sih, nggak ada laki-laki yang bisa bertahan lama dengannya. Sebab, kebanyakan laki-laki akan merasa maskulinitas mereka terancam jika hidup bareng dengan perempuan seperti JLo.

Ben Affleck juga bukan tipe laki-laki yang rela diatur perempuan. Untuk orang seperti dia, sebenarnya tipe seperti Jennifer Gardner yang paling cocok. Tapi ya, kadang memang orang sulit mensyukuri arti sebuah karunia. Sekarang, dia memilih cerai dari JLo, dan itu tidak mengherankan. Sejak dari awal pernikahan mereka, kelihatan sekali Ben tidak menikmati rumahtangga barunya. Ia mungkin mengata-ngatai Jennifer Gardner dan memuji JLo setinggi langit. Tetapi sebenarnya itu hanyalah teriakan nyaring dari seorang laki-laki yang merasa ragu dengan keputusannya, dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya untuk meninggalkan istri sebelumnya adalah tepat. Persis seperti yang dilakukan Brad Pitt ketika ia mengata-ngatai Jennifer Aniston dan memuji Angelia Jolie habis-habisan. Keduanya sebenarnya sama, yakni sedang berusaha meyakinkan diri mereka sendiri.

Jadi, ini pelajaran penting buat para perempuan. Kalau pasangan kita memuji kita habis-habisan dan mencela mantannya habis-habisan, belum tentu karena kita beneran lebih baik dari mantannya, loh. Bisa jadi itu karena mereka sebenarnya bimbang, wkwkwkwk…. antara nyesel dan gengsi untuk mengakui bahwa keputusan mereka salah, wkwkwkwk… jadi yang disalahin dan dicela-cela adalah mantannya.

Photo by Piotr Makowski on Unsplash

Ben dan Jen adalah salah satu contoh kasus CLBK alias old flames never die. Mereka pernah menjalin hubungan sebelumnya, lalu kandas. Kemudian, mereka bertemu setelah sekian lama terpisah, merasa masih ada cinta, lalu memutuskan menjalin hubungan kembali.

Menurut hasil penelitian yang ditulis di artikel ini, lingering feelings (rasa yang masih berkecamuk) adalah pengalaman lumrah. Sekitar 40% – 50% pasangan merasakan itu, dan mereka kembali ke mantannya ketika rumahtangganya bermasalah untuk memulai hidup baru.

Namun, pilihan ini juga beresiko, karena umumnya kualitas hubungan baru dengan mantan itu tidak sebagus sebelumnya. Entah karena sebenarnya rasa cinta sudah berkurang, kepuasan berkurang, dan ada beban emosi untuk membuktikan bahwa kali ini mereka bakal baik-baik saja. Belum lagi kalau ketemu ex istri atau ex suami, sementara hati belum kelar, wahhh… bertambah lagi bebannya, karena terdorong untuk pamer bahwa kita bisa bahagia tanpanya, wkwkwkwk…

Dari hasil mengorek info dan observasi terhadap banyak kasus serupa, akhirnya saya menganggap bahwa CLBK sebenarnya hanyalah bagian dari fantasi kita saja. Sebuah proses regresi (kemunduran), di mana seseorang ingin kembali menjalani masa lalu yang dianggap serba indah dan innocent setelah dikecewakan oleh pasangannya. Mereka mencari jalan keluar atau escape point dari segala kekecewaan itu, termasuk menoleh ke belakang, dan menemukan mantannya.

Memori manis tentang mantan membuat mereka berharap bahwa kebahagiaan bisa diraih jika mereka kembali menjalin hubungan. Namun realitanya, hidup tidaklah demikian, bukan? Sebab, masing-masing orang tentu sudah berubah. Kita bukan lagi pribadi yang sama dengan saat masih TK, SD, SMP, SMA, mahasiswa…. Mungkin ada yang masih tetap sama, tapi saya yakin sebagian besar orang sudah berubah. We are not the same persons anymore. Seiring pertambahan usia, seiring dengan pengalaman hidup yang semakin banyak, kita pun berkembang. Ada yang jadi lebih baik, ada yang stagnan, ada yang mundur, dan ada pula yang perubahannya termasuk drastis.

People change. Itu kenyataan yang mungkin pahit bagi sebagian orang, namun sebenarnya normal. Kita tidak perlu harus mengubah diri kita kembali agar pas dengan masa lalu. Tidak mungkin toh, kita memaksakan diri pakai sepatu semasa TK, meskipun sepatu itu masih mengkilap dan terawat seperti baru?

Jadi, satu-satunya pilihan adalah dengan menyadari bahwa perubahan itu lumrah.

Kadang mungkin kita merasa ada beban yang perlu diselesaikan dari masa lalu. Kadang kita merasa bahwa starting point kita keliru, dan kita ingin merevisi itu. Well, menurut saya, kita tidak perlu terobsesi untuk “menyempurnakan masa lalu” atau berharap bisa kembali ke masa lalu dengan versi yang lebih baik. Just accept it and let it go. Perubahan itu manusiawi dan tidak terelakkan. Justru dengan berubah, kita tahu bahwa kita berkembang dan tidak menjadi candi, yang terkungkung dalam masa lalu melulu.

Bagi saya pribadi, CLBK tentu bukan pilihan. Sebab, saya melihat sendiri betapa jauh jurang perbedaan antara saya dengan mantan-mantan. Boleh dibilang, sudah tidak match sama sekali, baik dari segi visi, misi, dan sebagainya. Bahkan jangankan ngomongin CLBK, untuk menetap kembali di Indonesia pun saya berpikir seribu kali.

Di usia sekian, energi dan waktu kita tidak banyak. Kita musti bijak memperhitungkan antara kemampuan dan keinginan. Kembali ke masa lalu, dengan orang yang sudah berbeda jauh keadaannya, bukanlah hal mudah. Contohnya ya Ben dan Jen tadi.

Ada beberapa orang yang impulsif melakukan itu. Mereka berharap, dengan kembali ke tanah air dan bersama dengan cinta lama, kebahagiaan sejati akan diraih. Kenyataannya? Tidak demikian. Dan itu sebabnya, mereka pun cabut kembali dari Indonesia.

Realita kehidupan tidak cukup hanya dihadapi dengan cinta, hehehe…. semua perlu dipikirkan dengan matang. Seperti kata orang, cinta aja enggak cukup untuk bayar tagihan. Hehehehe ….

Tetapi tentu saja saya tidak menutup kemungkinan ada kisah CLBK yang berhasil. Buktinya, beberapa kenalan saya akhirnya hidup lebih bahagia setelah mereka bertemu kembali dengan cinta lamanya. Satu bukti bahwa cinta yang tak lekang oleh waktu itu memang ada.

Cinta memang punya misterinya sendiri.