Tuhan yang Lain

Posted on September 6, 2023

1


Photo by Cassie Boca on Unsplash

Tempo hari saya kembali bertemu dengan salah satu deity dari Indonesia, yang dikenal sebagai penguasa Laut Selatan.

Ini pertemuan kedua. Yang pertama adalah ketika saya sedang berjalan sendirian di tepian pesisir selatan Jawa Tengah. Saya melihatnya sedang berbincang dengan salah satu deity lainnya. Mereka berdua menoleh ke arah saya. Ekspresi sang Ratu Laut Selatan biasa saja. Sama seperti orang melihat bocah nakal yang kesasar. Sedangkan deity yang satunya, melihat saya dengan raut wajah sedikit kesal, seolah-olah berkata – kamu ngapain keluyuran sampai ke sini?

Deity itu terjemahannya adalah dewa, atau tuhan, dalam konteks spiritual. Dalam Bahasa Arab, ia diterjemahkan sebagai “ilah”, alias tuhan juga. Dewa-dewi semacam Zeus, Hera, dan segala dewa di berbagai khasanah kultur manusia, statusnya adalah tuhan, jika mereka disembah oleh manusia.

Di sini letak bedanya antara polytheism dan monotheism. Polytheism adalah kepercayaan yang mengakui keberadaan beragam tuhan (lebih dari satu, dan biasanya ada ranking antara para tuhan itu). Sedangkan monotheism adalah kepercayaan kepada tuhan yang tunggal. Islam termasuk dalam kategori monotheism, karena hanya mengakui dan menyembah satu tuhan, yaitu “Allah”, Tuhan dari segala tuhan, dan Pencipta dari segala pencipta. Jadi, hanya ada satu “ilah” bagi penganutnya. Jika mereka mengakui atau menuhankan “ilah” yang lain, maka mereka termasuk dalam golongan musyrik dan konsekuensi spiritualnya berat sekali.

Kembali kepada topik tentang sang ratu. Memang benar, ia cantik sekali. Wajahnya oval dan kulitnya bersih. Kombinasi yang serasi dengan warna busananya yang hijau zamrud. Dalam suasana biasa, ia tidak seram, malah kelihatan ramah. Beda halnya kalau sedang menampakkan power, maka ia akan muncul dengan kereta kencananya yang terkenal itu. Yang ditarik oleh banyak kuda, dikawal banyak punggawa, diiringi suara gemerincing, deru angin, serta derap kaki kuda yang berlari kencang.

Ratu Laut Selatan adalah deity yang mendominasi Indonesia. Wilayah kekuasaannya meliputi perairan Samudera Hindia hingga mencakup Australia dan sebagian Cina. Ia bahkan pegang peran sebagai penentu akhir tentang siapa yang akan jadi presiden. Saya pernah bilang pada salah satu rekan di sini, “It doesn’t matter. Mau jungkir balik kayak apa tentang para kandidat itu, yang ketok palu nanti Bunda Ratu.”

Sepintas memang kedengarannya tidak adil. Masa negara sebesar Indonesia, dengan penduduk sebesar itu, yang kalau semua dikumpulkan di satu titik ibaratnya bakal bisa bikin Bumi terlempar dari orbit. Mana mayoritas religius pula. Lah kok nasibnya di tangan deity?

Tapi kalau dipikir-pikir, bukankah penerapan agama di masyarakat kita memang belum sampai ke tataran monoteisme tulen? Lha mau monoteis gimana, wong shalat iya, ke dukun iya, numbal iya, korupsi iya, nelikung iya. Wkwkwkwk…. dan bukan rahasia lagi kalau penyembah Ratu Laut Selatan itu banyak sekali. Mulai dari yang kepentingannya soal duit, jodoh, sampai politik – mereka meminta pemenuhannya pada sang ratu atau pada deity lainnya, termasuk ke Lucifer (ehem, wakakakak…. ). Padahal udah jelas-jelas tahu bahwa para deity itu statusnya sama dengan mereka, yakni sama-sama ciptaan Tuhan yang Tunggal. Jadi ya jangan heran kalau akhirnya nasib mereka diletakkan di tangan “tuhan yang lain”.

Anyway, kalau kita kembali ke konsep bahwa segala sesuatu terjadi atas ijin dan kehendak Tuhan, maka meskipun kelihatannya desperate saat ini, kita akan tahu bahwa ini temporer. Para kyai sepuh NU termasuk yang paling luwes menghadapi situasi semacam ini. Mereka tidak kontra, namun juga tidak menyembah para deity tersebut. Yang mereka lakukan adalah berdamai dengan kenyataan dan bersabar menanti saatnya tiba.

Guru spiritual saya menekankan kata “diijinkan”, yang artinya memang para tuhan yang lain itu diijinkan memiliki kekuasaan besar, termasuk memiliki kemampuan mewujudkan setiap permintaan, tak ubahnya seperti Tuhan beneran. Cuma bedanya, cost-nya lebih besar. Karena begitu seseorang meminta pada yang selain Tuhan (Allah), maka seketika itu juga saldo iman dan amalnya langsung reset ke titik nol. Meskipun dia beribadah, berbuat baik, dan sebagainya, itu tidak akan dihitung lagi dalam catatan. Sebab, dia sudah memilih tuhan yang lain. Maka, sebagai konsekuensinya, segala sesuatunya diserahkan kepada tuhan dia yang baru. Ya iya, lah. Namanya juga pindah bos, kan? Wkwkwkwk…

So, saat ini jagad linimasa kembali penuh dengan keriuhan politik. Just keep calm. Tidak perlu sampai se-ekstrim yang dulu, yang sampai menciptakan permusuhan di luar nalar. Nggak perlu juga terlalu berlebihan membawa nama Tuhan untuk kampanye dan memenangkan kandidat. Karena untuk apa juga ribut sampai segitunya, kalau sampai saat ini kita sendiri belum benar-benar memilih Tuhan?